Menyelamatkan Kawan Lama AS memutuskan untuk melibatkan diri dalam penyelesaian konflik di Liberia. Demi hubungan masa lalu kedua negara. |
TURUN dari jabatan atau rasakan akibatnya." Bukan Suriah, Iran, atau Korea Utara yang menerima pesan yang sudah menjungkirkan Presiden Irak Saddam Hussein dari kekuasaan itu, melainkan Liberia. Presiden Amerika Serikat George W. Bush menujukan kata-katanya kepada Presiden Liberia Charles Taylor.
Semula orang menduga penguasa di Suriah, Iran, atau Korea Utaralah yang berkemungkinan besar lebih dulu menyusul Saddam. Maklum saja, ketiga negara ini dianggap sebagai pembangkang karena punya "dosa", antara lain pemerintahannya tidak demokratis dan punya senjata pemusnah massal. Jika ternyata perhatian AS malah berpaling ke Liberia, sebuah negara kecil di Afrika Barat, ada apa?
Mulanya, dua pekan silam, Bush meminta Presiden Taylor turun dari jabatannya. Warga Liberia menyambut gembira pernyataan Bush. Maklum, rakyat negara penghasil berlian, karet, dan kopi itu sudah dirundung perang sipil dan kekerasan sejak akhir 1980-an. Penyebab kekacauannya tak lain dari Taylor sendiri. Presiden yang pernah mendapat pendidikan militer di Libya itu bahkan menyulut peperangan dengan negara tetangga seperti Sierra Leone dan Guinea. Taylor pun sudah diputus oleh pengadilan internasional sebagai penjahat perang karena terbukti mendukung milisi pemberontak di kedua negara tetangga itu, pertengahan Juni silam.
Taylor semula menolak mundur. Tapi Bush mengancam dan Taylor tampak tak hendak melawan. Presiden yang memerintah sejak 1997 itu menerima tawaran suaka politik dari pemerintah Nigeria. Dan Taylor menyatakan akan mundur setelah tentara AS tiba di Liberia.
Kesungguhan AS membantu Liberia—dan negara Afrika lainnya—ditunjukkan dengan kunjungan kenegaraan yang pertama kali dilakukan Bush. Presiden AS yang berada di ambang masa kampanye kepresidenan di negaranya itu menyapa beberapa negara Afrika, yaitu Senegal, Botswana, Nigeria, Uganda, Zimbabwe, dan Afrika Selatan. Di tempat-tempat itu Bush menebar janji-janji, seperti akan membantu US$ 15 miliar untuk pengobatan HIV-AIDS, TBC, dan malaria serta memberikan bantuan US$ 100 juta untuk meningkatkan sistem keamanan di beberapa negara Afrika. "Berteman dengan Amerika, Afrika akan bangkit kembali. Afrika akan sejahtera," katanya.
Untuk Liberia, Bush juga memberikan jaminan. Meskipun tak mampir ke negara berpenduduk 3,3 juta jiwa itu, dia jelas tak menghendaki Taylor. Bush juga berjanji akan memberikan bantuan lain, termasuk pelatihan kepada militer Liberia agar lebih profesional. Untuk itu, delegasi pemerintah AS datang ke Monrovia pekan lalu. Utusan yang yang terdiri atas 20 orang ini ditugasi melihat langsung situasi di ibu kota negara itu.
Namun masih banyak pihak yang mempertanyakan komitmen AS untuk Liberia. Maklum saja, AS biasanya bertindak bila negara superkuat itu memang memiliki kepentingan yang kuat, bukan karena kehadirannya benar-benar dibutuhkan.
Untuk itulah Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan bertemu dengan Bush di Gedung Putih, Senin ini. Pertemuan itu adalah yang pertama setelah Annan tersinggung soal serangan AS ke Irak yang dilancarkan tanpa restu PBB. Dan Sekjen asal Ghana yang selalu berjuang menarik perhatian negara-negara maju agar lebih membantu Afrika itu ingin memastikan komitmen AS. "AS tidak memberikan indikasi apa yang akan dilakukan (untuk Liberia), tapi saya harap ada keputusan yang benar dan dukungan," kata Annan.
Cukup kuatkah kepentingan AS di Liberia? Hal itu bergantung pada bagaimana AS menakarnya untuk masa kini. Sebab, kedua negara itu sudah memiliki jejak panjang di masa lalu.
Hubungan AS-Liberia unik. Liberia adalah negara yang didirikan oleh para budak dari AS yang sudah dimerdekakan pada 1820-an. Nama Liberia diambil dari kata liberty atau kemerdekaan dan pembebasan.
Rakyat Liberia menganggap AS sebagai "kiblat", bukan sebagai penjajah. Sejak semula, Liberia memang ingin meniru semangat AS. Di awal masa kemerdekaannya, Liberia mengeluarkan beberapa kebijakan yang "memerdekakan", seperti anti-kerja paksa dan anti-diskriminasi rasial (lihat Dari Kemerdekaan Budak hingga Kekuasaan Tiran).
Hubungan AS dengan Liberia pun pernah mesra. Sebelum Perang Dunia II, Liberia adalah sumber utama karet (karena murah) agar AS bisa menyaingi industri otomotif Inggris. Selama Perang Dunia II, Liberia sekutu penting AS di Afrika. Sedangkan selama Perang Dingin, Liberia menjadi basis perlawanan terhadap komunisme di Afrika.
Seusai Perang Dingin, hubungan AS dengan Liberia justru mendingin. Sebab, AS tak lagi punya kepentingan di sana. Padahal justru pada saat itu (mulai 1980-an) era kekerasan di Liberia dimulai, yang diawali dengan terpilihnya Samuel Doe menjadi presiden, yang lalu digantikan Charles Taylor. Toh, AS diam saja. Pengalaman pahit dan memalukan di Somalia pada 1993—18 tentara AS terbunuh dan lima helikopter ditembak jatuh—membuat AS bertambah enggan mengirimkan pasukan ke Afrika.
Kini keadaannya tampak berbeda. Rakyat Liberia sudah memohon agar AS peduli dan bersedia menghentikan kekerasan yang terjadi di sana. Mereka membutuhkan AS untuk menyingkirkan Taylor.
Semoga saja kata-kata "turun dari jabatan atau rasakan akibatnya" yang masyhur itu benar-benar bermakna baik bagi rakyat di tanah kebebasan para budak.
Bina Bektiati (The Economist, All African, BBC, The Washington Post)
Dari Kemerdekaan Budak hingga Kekuasaan Tiran
1820: ratusan budak Amerika Serikat yang dibebaskan dikirim ke pantai Afrika oleh komunitas antiperbudakan.
1847:
membuat konstitusi dengan model AS.
Juli 1847:
kemerdekaan Liberia.
1917:
mendeklarasikan perang dengan Jerman dan menyediakan pangkalan militer untuk Sekutu di Afrika Barat.
1926:
Firestone Tyre and Rubber, perusahaan karet, membuka perkebunan karet di tanah hibah dari pemerintah Liberia. Produksi karet menjadi tulang punggung perekonomian. AS sangat bergantung pada produksi karet Liberia.
1936:
praktek kerja paksa dihapuskan.
1943:
William Tubman terpilih sebagai presiden.
1971:
Tubman meninggal, digantikan oleh William Tolbert Jr.
1979:
lebih dari 40 demonstran yang memprotes kenaikan harga beras tewas.
Tahun-Tahun Instabilitas
1980:
Samuel Doe melakukan kudeta. Tolbert dan lebih dari 12 pengikutnya dibunuh. Dewan Pembalasan Rakyat, yang dipimpin Doe, membekukan konstitusi dan menyatakan berkuasa penuh.
1984:
rezim Doe mengizinkan partai politik kembali beraktivitas setelah ada tekanan dari AS dan negara donor lainnya.
1985:
Doe memenangi pemilihan presiden.
Naiknya Charles Taylor
1989:
Front Patriotik Nasionalis Liberia (NPFL), yang dipimpin Charles Taylor, memulai aksi kekerasan mengganggu pemerintah.
1990:
Komunitas Ekonomi Afrika Barat mengirim tentara perdamaian. Doe ditembak mati oleh NPFL.
1991:
Komunitas Ekonomi dan NPFL sepakat melakukan pelucutan senjata dan membentuk pemerintahan sementara.
1992:
milisi NPFL menyerang pasukan perdamaian di Monrovia sebagai balasan aksi pengeboman markas Taylor di pinggiran ibu kota.
Gencatan Senjata Tentatif
1993:
pihak-pihak yang bertikai merencanakan pemerintahan transisi dan gencatan senjata, tapi gagal.
1994:
kelompok-kelompok yang bertikai kembali menyepakati jalan perdamaian dengan membentuk Dewan Negara Bersama, yang mengatur pelucutan senjata bertahap.
1995:
kesepakatan damai ditandatangani.
April 1996:
konflik-konflik bersenjata terjadi di Monrovia secara sporadis.
Agustus 1996:
pasukan perdamaian Afrika Barat mulai menjalankan kesepakatan damai seperti pelucutan senjata, membersihkan ranjau darat, membuka kembali jalan-jalan utama, dan memulangkan kembali para pengungsi.
Juli 1997:
pemilihan anggota legislatif dan presiden, Charles Taylor menang mutlak. Partai Patriotik Nasional, partai Taylor, menguasai parlemen. Pengamat internasional menilai pemilihan ini adil dan bebas.
Konflik Bersenjata di Perbatasan
Januari 1999:
Ghana dan Nigeria menuduh Liberia mendukung pemberontak dari Sierra Leone. Inggris dan AS mengancam akan menghentikan bantuan untuk Liberia.
April 1999:
pertempuran antarmilisi di perbatasan Guinea dengan Liberia.
September 1999:
Guinea menuduh tentara Liberia memasuki desa-desa di perbatasan.
September 2000:
tentara Liberia melakukan serangan besar-besaran ke desa-desa di perbatasan sebelah utara. Liberia balik menuduh Guinea mengirim tentara di perbatasan.
Mei 2001:
Dewan Keamanan PBB menerapkan kembali embargo pembelian senjata untuk menghukum Taylor, yang melakukan perdagangan senjata tukar dengan berlian dari pemberontak Sierra Leone.
Januari 2002:
lebih dari 50 ribu pengungsi Liberia and Sierra Leone terlibat konflik kekerasan.
Februari 2002:
Taylor menerapkan keadaan darurat.
September 2002:
undang-undang keadaan darurat dicabut, juga larangan kegiatan politik lainnya.
Serangan-Serangan Pemberontak
Maret 2003:
pemberontak Liberia melancarkan serangan bertubi-tubi hingga berhasil mendekati Monrovia. Puluhan ribu penduduk terusir dari tempat tinggal mereka.
April 2003:
kelompok pemberontak baru, Gerakan untuk Demokrasi di Liberia, berhasil menguasai kawasan tenggara Liberia.
Juni 2003:
Taylor menghadiri perundingan damai di Ghana. Saat yang bersamaan, Taylor diputus pengadilan internasional sebagai penjahat perang karena terbukti mendukung pemberontak Sierra Leone. Tapi Taylor tidak ditangkap.
17 Juni 2003:
kesepakatan damai ditandatangani di Ghana, tapi pertempuran tetap terjadi.
|