Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXXII/14 - 20 Juli 2003
   
Luar Negeri

Dari Kelas Bersama Damai itu Datang

Bocah-bocah di sekolah dua bahasa di Yerusalem bermain bersama, bahkan bersahabat. Mereka cikal bakal perdamaian di sana.

MOATAZ dan Shira begitu gembira bermain bersama di halaman sekolah mereka. Tidak ada tatapan curiga, marah, apalagi dendam. Kedua murid taman kanak-kanak itu berbicara dalam dua bahasa, Arab dan Ibrani, bergantian. "Shira meyakinkan saya bahwa dia tidak bermasalah dengan anak-anak Arab," Moataz, anak seorang pengacara Arab yang tinggal di French Hill, mengaku. Sahabatnya, Shira, berasal dari keluarga Yahudi yang tinggal di Beit Hakerem. Kearaban dan keyahudian bukanlah jarak buat mereka.

Pemandangan di Taman Kanak-Kanak YMCA di Yerusalem Barat itu bukan hal yang biasa. Soalnya, di luar mereka dan di luar pagar sekolah mereka, yang ada hanya gambaran permusuhan dan kekerasan. Persahabatan Moataz dan Shira mendobrak tembok pembatas itu. Dan mereka bukan satu-satunya. Ada persahabatan antara Areen, yang berasal dari keluarga Arab, dan Tahel, dari keluarga Yahudi, serta 120 murid lain yang belajar di sekolah dua bahasa program Hand in Hand Center for Jewish and Arab Education YMCA.

Sekolah itu merupakan sebuah perjuangan untuk membangun perdamaian dengan hidup berdampingan. Berbagai cara dilakukan agar tak ada diskriminasi di sana. Di setiap kelas sering ada dua guru untuk pelajaran yang sama. Setiap guru mengajar dengan bahasa masing-masing, Ibrani dan Arab. Tidak ada penerjemahan. Kalau perlu, mereka menggunakan bahasa isyarat. "Ini sekolah yang sangat idealistis," ujar Omar Nashef, ayah Areen.

Menurut Amin Khalaf, salah satu pendiri sekolah YMCA, pemisahan anak-anak Arab dan Yahudi dalam sistem pendidikan Israel hanya mengembangkan ketakutan, saling curiga, dan kebencian di antara mereka. Maka didirikanlah sekolah itu, yang merupakan salah satu dari tiga sekolah sejenis di Israel. Dua yang lain adalah sekolah dasar di perkampungan bersama Neve Shalom atau Wahat al-Salam (Oasis Perdamaian) dan di Galilee. Sekolah YMCA sendiri baru dibuka pada 1998, sehingga baru memiliki kelas dari TK hingga kelas 4 SD.

Tentu saja anak-anak dan para pengajar di sekolah itu menghadapi berbagai hambatan. Yang pertama adalah masalah bahasa. "Tapi mereka sangat pintar dan cepat belajar," ujar Etty Weiss, salah satu guru di sana. Kesulitan lain muncul kalau mereka mulai membicarakan peringatan hari besar agama. Tapi anak-anak diajari menghormati agama lain, sehingga semua murid dilibatkan dalam perayaan hari besar agama seperti Idul Fitri, Idul Adha, Paskah, Hanukah, dan juga Natal.

Yang benar-benar menjadi masalah adalah pelajaran yang menyangkut urusan kenegaraan. Saat astronaut Israel, Ilan Ramon, tewas dalam kecelakaan penerbangan pesawat luar angkasa Amerika beberapa waktu lalu, anak-anak Yahudi begitu sedih. Weiss mendapati respons yang berbeda dari anak-anak Arab. "Tidak mudah bagi anak-anak Arab untuk memandang Ramon sebagai pahlawan Israel (bagi anak-anak Yahudi) yang pernah mengebom reaktor Irak," ujar Weiss.

Masalah paling besar muncul saat peringatan hari kemerdekaan Israel, yang berarti hari bencana bagi anak-anak Palestina. "Kami memiliki penasihat, Yahudi dan Arab, yang mencoba menyampaikan emosi satu pihak ke pihak lain," Amin Khalaf menjelaskan.

Namun, sesulit apa pun, anak-anak, orang tua, dan para pengajar tetap mencoba terus memperjuangkan sekolah yang tak mendapatkan dukungan dana penuh dari pemerintah Israel itu. Program itu dianggap menjadi upaya efektif untuk mendamaikan dua komunitas yang bermusuhan. "Saya tahu beberapa anak Yahudi tidak menyukai anak-anak Arab. Tapi sekolah kami lebih menarik," ujar Shira, "Dan kami bisa menjadi contoh."

Bocah-bocah polos itu memang telah menjadi contoh. Para orang tua pun mulai berhubungan. Orang tua Tahel, Naam Greenwald-Kashani, mengaku bahwa kontaknya dengan keluarga Nashef merupakan kontak pertamanya dengan keluarga Arab. "Saat itu untuk pertama kalinya saya berada di rumah orang Arab dan untuk pertama kalinya saya memiliki hubungan pribadi dengan keluarga Arab," ibu Tahel menceritakan bagaimana ia pertama kali mengunjungi keluarga Areen.

Sepertinya perdamaian memang bisa dimulai di kelas-kelas Moataz, Shira, Tahel, dan Areen. Apalagi kalau mendengar pengakuan bocah berusia lima tahun, Bar. "Saat saya berusia 18 tahun nanti saya tidak akan masuk militer. Pada saat itu kami telah berdamai dan kami tidak lagi memerlukan tentara," kata Bar. Dari usia dini, Bar memulai langkah perdamaiannya.

Purwani Diyah Prabandari (Haaretz, IHT)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data