Tahanan Bebas atau Perang Lagi Israel akan membebaskan 350 tahanan Palestina yang bersih dari noda darah pembunuhan. Palestina minta pembebasan semuanya. Gencatan senjata pun terancam. |
Abu Sukkar menjejakkan kakinya di tanah bebas untuk pertama kalinya sejak 27 tahun lalu. Begitu banyak rakyat Palestina di Qalandya, selatan Ramallah, yang menyambut dan mengelu-elukan pria berusia 67 tahun ini, Selasa pekan lalu. "Abu Sukkar orang besar kami. Abu Sukkar pahlawan kami," teriak anak-anak muda. Pria yang bernama asli Ahmad Jbarra ini ditangkap pada 1975 setelah melakukan serangan di Yerusalem, yang menewaskan 14 orang Israel.
Pembebasan Abu Sukkar merupakan bagian dari implementasi Peta Damai antara Israel dan Palestina. Rencananya, pemerintah Israel akan membebaskan 350 tahanan Palestina. Palestina memprotes keras jumlah ini dan menuntut pembebasan semua tahanan, yang jumlahnya lebih dari 6.500 orang dan tersebar di sekitar 12 tahanan polisi ataupun militer Israel, atau setidaknya separuh dari jumlah itu. "Israel bisa membebaskan 3.000 tahanan sekarang," ujar Menteri Urusan Keamanan, Mohammad Dahlan.
Israel tak sependapat. "Kami hanya mempertimbangkan untuk membebaskan tahanan Palestina dalam batas tertentu dan dengan kualifikasi tertentu," ujar Perdana Menteri Ariel Sharon. Badan intelijen Israel, Shin Bet, mengusulkan pembatasan tahanan yang dibebaskan dengan kualifikasi mereka yang "tangannya tidak berlumuran darah". Maksudnya, mereka yang tak terlibat dalam serangan-serangan ke Israel. Shin Bet membuat daftar 350 nama untuk dibebaskan. Jelas, mereka bukan tahanan politik, melainkan tahanan kriminal biasa serta tahanan di bawah umur 18 tahun dan di atas 60 tahun. Daftar nama itu dibicarakan dalam pertemuan kabinet pekan lalu dan kemudian diputuskan dengan voting. Hasilnya, 13 menteri mendukung dan delapan menentangnya.
Namun, semua menteri sepakat tak akan membebaskan tahanan dengan noda darah di tangan. "Sulit untuk dimengerti adanya tuntutan untuk membebaskan para teroris dari Hamas dan Jihad, kelompok yang dijanjikan Abu Mazen untuk ditindak, berkeliaran di jalanan di Palestina," ujar Tzipi Livni, menteri tanpa portofolio di Israel.
Dari seluruh tahanan Palestina di Israel, lebih dari 1.200 orang masuk kategori "berlumuran darah". Kira-kira 720 dari mereka merupakan anggota Hamas, 344 aktivis Jihad Islam, dan 136 anggota Front Populer Pembebasan Palestina (FPLP).
Palestina menuntut pembebasan semua tahanan tanpa kecuali. "Israel harus memutuskan dalam prinsip bahwa mereka akan membebaskan semua tahanan dan kemudian melakukannya secara bertahap," ujar Menteri Urusan Tahanan Palestina, Hisham Abdel Razeq. Tapi kemudian Dahlan mengambil kompromi, meminta pembebasan separuh.
Urusan pembebasan tahanan memang menjadi agenda utama Palestina sekarang ini. Soalnya, dalam membujuk kelompok garis keras seperti Hamas dan Jihad Islam agar bersedia melakukan gencatan senjata dengan Israel beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Mahmoud Abbas dan Dahlan menggunakan isu pembebasan tahanan. Karenanya, kalau pembebasan tak dilakukan, gencatan senjata terancam gagal. Apalagi Hamas telah mengancam. "Kalau Israel gagal membebaskan seluruh 8.000 tahanan Palestina, Hamas tidak akan mematuhi (Peta Damai) dengan gen-catan senjata," ujar Moussa Abu Marzouk, Wakil Ketua Politbiro Hamas.
Gara-gara urusan tahanan, pertentangan antara kubu Perdana Menteri Mahmoud Abbas dan Presiden Yasser Arafat dan para aktivis garis keras kian kuat. Pekan lalu Abbas bahkan mengajukan pengunduran diri dari Komite Sentral Fatah dan menantang mundur dari jabatan perdana menteri.
Perbedaan berada pada posisi Abbas dan Dahlan, yang bersedia berkompromi bahwa tak harus semua tahanan dibebaskan. Dahlan meminta pembebasan minimal separuh dari seluruh tahanan, diutamakan sekitar 430 tahanan yang sudah lama sekali di dalam penjara Israel, sejak sebelum penandatanganan perjanjian damai di Oslo pada 1993. Sebaliknya, kubu Arafat, kelompok garis keras, dan kebanyakan rakyat Palestina bersikeras agar dilakukan pembebasan seluruhnya.
Sudah meminta separuh pun, dan harus menghadapi demo oleh keluarga tahanan, Abbas mesti kecewa. Israel sepertinya mengabaikannya. Apalagi untuk tahanan lama yang hampir semua masuk kategori berlumuran darah. Pihak Israel hanya menyatakan akan membebaskan tahanan "yang tangannya berlumuran darah" kalau sudah ada jaminan keamanan bagi Israel. Berarti bukan orang yang akan menjadi ancaman keamanan Israel.
Israel trauma dengan pembebasan tahanan keamanan di waktu-waktu lalu. Pada 1993, pemerintah Israel membebaskan 415 tahanan yang dituduh sebagai teroris. Saat itu pemerintah Israel mengusir mereka ke Libanon. Tapi, belakangan, orang-orang yang diusir itu kembali ke Tepi Barat dan Jalur Gaza justru dengan keahlian dalam penggunaan senjata dan penyerangan. Mereka ternyata meng-gunakan waktu di Libanon untuk magang di kamp-kamp Hizbullah. Israel kembali membebaskan 1.100 tahanan pada 1995-1997, sebagai langkah implementasi perundingan damai Oslo. Belakangan, banyak dari mereka juga bergabung dengan kelompok militan bersenjata.
Jelas, poin utama perbedaan Israel dan Palestina yang membuat tawar-menawar soal tahanan begitu alot adalah cara pandang dalam melihat tahanan. Israel menganggap para tahanan politik sebagai teroris. Membebaskan mereka berarti melemparkan teroris ke jalanan dan siap menyerang Israel kembali. "Mereka bisa saja menjadi peledak nantinya," ujar seorang pejabat Israel. Apalagi ada tuduhan bahwa gencatan senjata merupakan waktu yang tepat bagi kelompok militan untuk konsolidasi dan penyimpanan senjata.
Sementara itu, Palestina tidak menganggap orang-orang yang dipenjara Israel sebagai pembunuh atau kaki tangan teroris. Para tahanan itu, terutama tahanan keamanan, dianggap sebagai tawanan perang yang ditangkap dalam sebuah peperangan berdarah yang memakan korban di kedua pihak.
Selain itu, banyak orang Palestina melihat para tahanan itu sebagai pemimpin masa depan. Banyak dari mereka yang sebenarnya tokoh penting, seperti Marwan Barghouti, pemimpin Tanzim—faksi garis keras Fatah di Tepi Barat—serta Tayseer Khaled, pejabat senior Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang dibebaskan Senin lalu. Bahkan, dari balik kurungan mereka, para pemimpin Fatah, Hamas, dan Jihad Islam memainkan peran yang sangat penting dalam gencatan senjata beberapa waktu lalu, juga dalam percaturan politik di Palestina.
Yang kian membuat Palestina ngotot adalah karena keprihatinan atas kondisi tahanan yang sangat buruk. Ribuan orang ditahan tanpa pengadilan. Menurut data The Palestinian Prisoner Society, hingga akhir tahun lalu sekitar 85 persen tahanan mengalami penyiksaan dalam penjara, baik saat interogasi maupun di tahanan. Sementara itu, sekitar 450 tahanan sakit di dalam penjara. Sekitar 300 di antaranya ditangkap dalam kondisi sakit atau cedera. Bahkan sebagian dari mereka ditangkap saat berada di ambulans untuk dibawa ke rumah sakit setelah serangan Israel. "Kami hidup dalam kondisi yang sangat sulit," ujar Abu Sukkar.
Lebih memprihatinkan lagi, banyak rakyat tak bersalah juga berada dalam tahanan. Israel melakukan penangkapan besar-besaran sejak intifada kedua sekitar tiga tahun lalu. Ternyata, tak hanya pelaku kekerasan yang ditahan, beberapa atau seluruh anggota keluarga mereka pun ikut dibawa. Sering, saat ditangkap, mereka dibawa dengan tangan diikat kencang dan mata tertutup. Setelah di tempat tahanan pun mereka kerap tak mendapatkan hak untuk bisa menemui pengacara atau keluarga.
Namun, itu tadi, seberapa pun kuat permintaan Palestina, Israel bergeming, menolak pembebasan seluruh tahanan. Palestina juga bersikeras. Keras bertemu keras, dan keadaan bisa berlarut-larut. Khawatir pecah intifada ketiga, utusan khusus Presiden George W. Bush, John Wolf, pun mendesak Israel. "Kalian (Israel) harus membantu Abu Mazen sehingga dia tidak terisolasi," ujar Wolf. Sebagai jembatan, dibentuklah komite gabungan Israel-Palestina, khusus untuk menegosiasikan tahanan Palestina.
Sementara komite itu baru memulai kerja, dan pasti tugasnya tak mudah, situasinya sudah jelas: gencatan senjata bisa ambruk.
Yang tak akan dibebaskan
- Tahanan yang tangannya berlumuran darah.
- Yang terlibat dalam serangan teror yang menyebabkan korban tewas atau cedera.
- Yang mengirim teroris untuk melakukan serangan yang menyebabkan korban tewas.
- Yang mengirim teroris untuk melakukan bom bunuh diri, meski kemudian misi itu gagal.
- Yang tertangkap saat akan melakukan serangan bom bunuh diri.
- Tahanan yang menjadi ancaman bahaya bagi keamanan Israel.
- Tahanan yang sedang dalam proses peradilan.
- Tahanan yang anggota Hamas, Jihad Islam, dan kelompok lain yang menyerang Israel.
Purwani Diyah Prabandari (Palestine Media Center, Haaretz, Jerusalem Post, Palestine Chronicle)
|