Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXXII/14 - 20 Juli 2003
   
Kesehatan

Dua Nyawa di Ujung Pisau Bedah

Air mata suka, air mata duka, hadir silih berganti pada tiap-tiap pembedahan kembar siam. Operasi Laleh-Ladan berakhir tragis. Tapi, dalam bukunya, Entwined Lives: Twins and What They Tell Us, penulis Nancy L. Segal mengulas 200 operasi kembar siam setelah 1950 dengan optimistis.

Ia mencatat, 90 persen dari operasi yang dilakukan mendatangkan harapan. Dan ia memang tak sendiri. Direktur Twin Studies Center di Universitas Cal-State Fullerton, Amerika Serikat, menyebut satu konklusi: hanya sepertiga kasus yang menemui kegagalan, sisanya berhasil mempertahankan nyawa satu atau malah kedua anak kembar tersebut. Begitukah?

Di Indonesia, sekadar contoh, tim dokter RSCM Jakarta berhasil menyelamatkan kembar siam kraniopagus frontal asal Riau, Yuliana-Yuliani (Ana-Ani), pada Oktober 1987. Dan operasi yang peralatannya diperoleh secara keroyokan itu—dari rumah-rumah sakit seperti St. Carolus dan Rumah Sakit Harapan Kita—berhasil ”menormalkan” hidup kedua anak pasangan Tularji dan Hartini itu. Kini, pada usia 16 tahun, mereka duduk di Sekolah Menengah Umum Santa Maria, Tanjung Pinang. Prestasi belajar mereka cukup bagus: Ana di peringkat 5, Ani di peringkat 6. Keduanya punya hobi yang sama: membaca buku dan main basket, gandrung kelompok musik West Life.

Prof. Padmosantjojo dan kawan-kawan menempuh cara yang unik dan nekat waktu itu. Ia tak menggunakan metode pemotongan sinus sagitalis superior, seperti yang dianut banyak negara maju. Sebaliknya, ia menyayat persis di tengah-tengah, di antara dua sinus yang menempel. Dan, amboi…, teknik yang tak dicantumkan dalam literatur bedah saraf itu berhasil. Sekarang, sejumlah ahli bedah Jerman dan Belanda mempelajari film rekaman operasi tersebut.

Ada jalan lain menuju keberhasilan. Sebulan sebelum Ana-Ani dipisahkan, tim dokter Rumah Sakit John Hopkins, Baltimore, Maryland, AS, sukses mengoperasi kembar siam kraniopagus Patrick dan Benjamin Binders. Kepala kembar asal Ulm, Jerman Barat, itu dioperasi selama 22 jam, ditangani oleh 70 dokter. Yang menarik, untuk mengatasi perdarahan yang mungkin timbul, mereka menerapkan sebuah teknologi baru. Kegiatan otak pasien dihentikan selama operasi. Mereka membangun kondisi koma dengan memindahkan kendali peredaran darah ke mesin, seraya menurunkan suhu tubuh kembar itu. Sama seperti Yuliana-Yuliani, metode ini pada saat itu juga belum tercatat dalam literatur (TEMPO, 31 Oktober 1987).

Operasi pemisahan pun terus dilakukan di berbagai belahan bumi: Inggris, Taiwan, Australia, Afrika Selatan, serta beberapa negara bagian AS. Tidak semuanya berhasil, bahkan ada juga kasus operasi pemisahan yang sempat mengundang debat etik. Ada pertanyaan pokok yang mesti dijawab. Misalnya, siapa yang berhak menentukan operasi si kembar; orang tuanya, atau pihak lain seperti dokter, pengadilan, atau bahkan negara.

Debat etik itu mencuat menyusul kematian bayi Mary, yang terpaksa dipisahkan dengan kembarannya, Jodie, pada 22 September 2000. Orang tua mereka tak setuju, takut operasi berakhir dengan kematian. Mary dan Jodie, yang lahir di Manchester, hanya memiliki satu hati dan paru-paru. Tapi pengadilan Inggris punya keputusan lain: kembar siam itu harus dioperasi. Walhasil, Mary harus menjadi tumbal bagi saudara kembarnya.

Tahun berikutnya, 6-10 April, perhatian tertuju pada operasi kembar siam Ganga dan Jamuna dari Katmandu, Nepal. Anak pasangan Mum Sandhya dan Bushan K.C. itu dempet di kepala bagian atas, tapi dengan wajah saling membelakangi 180 derajat. Keduanya mengalami kembar siam kategori ”total vertikal kraniopagus”. Yang bikin tim dokter di Rumah Sakit Umum Singapura mumet, si kembar hanya memiliki satu pembuluh vena yang mengalirkan darah keluar dari otak. Tak hanya itu, kepala Jamuna-Ganga tak dipisahkan oleh tulang ataupun selaput penutup otak. Apa boleh buat, sel-sel dan cairan otak bayi yang berusia 11 bulan saat dioperasi itu bercampur.

Operasi berjalan sukses, dan pada pertengahan November 2001 si kembar bisa kembali ke Nepal. Sejarah mencatat, Jamuna tumbuh menjadi sosok periang, selalu waspada, dan penuh tanggung jawab sosial. Sedangkan Ganga menjalani terapi terus-menerus. Kepala Ganga tampak besar, bahkan ia kini terbaring, tak sanggup mengangkat kepala.

Operasi berlangsung terus, kontroversi moral di sekitarnya berlanjut, air mata duka dan suka jatuh bergantian. Kegagalan operasi Ladan dan Laleh menimbulkan duka, tapi mungkin tidak menumbuhkan trauma. Semangat si kembar Ladan-Laleh untuk berpisah adalah sesuatu yang pantas dikenang.

Dwi Wiyana, Rumbadi Dale (Tanjung Pinang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data