Laleh-Ladan, Akhir Sebuah Ikhtiar Keteguhan tekad gadis kembar Iran yang menyongsong maut ini telah memikat dunia. Mereka pun mewariskan pelajaran medis yang bernilai. |
Si kembar Laleh dan Ladan Bijani akhirnya terpisah. Tapi tidak dalam keadaan hidup. Rabu pekan lalu, keduanya berurutan mengembuskan napas terakhir di tengah-tengah operasi yang panjang dan penuh publikasi di Rumah Sakit Raffles, Singapura.
Doa-doa pun berhamburan menuju langit. Di situs CNN Health News, hanya dalam tempo 24 jam setelah kematian, terkumpul 7.000 surat duka cita dari seluruh dunia. Empat ratus muslim melakukan salat gaib di Masjid Ba’alwi, Lewis Road, Singapura. Anak-anak sekolah membawa kembang di halaman RS Raffles sebagai tanda duka. Sopir taksi, eksekutif, pedagang, juga wartawan menitikkan air mata.
Perempuan-perempuan muslim dari komunitas Iran di Singapura juga tak ketinggalan ambil bagian. Mereka mensucikan jenazah Laleh-Ladan yang berumur 29 tahun ini sesuai dengan tradisi Islam Syiah. Usai disucikan dan disalatkan, jenazah keduanya—akhirnya, mereka ada di dalam peti yang terpisah—siap diterbangkan sejauh 6.400 kilometer menuju Iran.
Suasana tak kalah mengharukan muncul ketika jenazah dua gadis riang dan pemberani ini sampai di Iran. Ratusan orang, tua muda, menangisi Laleh-Ladan tercinta yang telah memberi teladan tentang keberanian mengubah takdir. Jumat siang pekan lalu, Laleh-Ladan dimakamkan di Lohrasb, desa kelahiran mereka di Iran selatan, dengan disaksikan ayah dan ibu mereka, Dadollah Bijani dan Maryam Safariwere.
Sejatinya mimpi Laleh dan Ladan Bijani tidak muluk-muluk. ”Kami hanya ingin saling pandang tanpa bantuan cermin. Face to face,” kata Laleh kepada wartawan, sehari sebelum kembar siam ini menjalani operasi. Sebuah keinginan biasa, bersahaja, tapi mesti melampaui usaha yang—tentu saja—tidak biasa. Tahun 1996, sebuah tim dokter Iran pernah mengantarkan Laleh-Ladan ke Hannover, Jerman, untuk bertemu Madjid Samii, Presiden Institut Neurosains Internasional. Apa daya, para ahli Jerman tak mau mengoperasi si kembar karena risiko yang kelewat tinggi.
Semangat si kembar tak kunjung kendur. The New York Times menurunkan sebuah tulisan bahwa Alireza Safaian, ayah angkat mereka, pernah meminta nasihat seorang ayatullah terhormat di Najaf. Dan sang ayatullah menganjurkan agar operasi jangan dilakukan. Jika tetap dilakukan padahal telah diketahui risikonya berat, operasi tersebut bisa dikategorikan sebagai tindak pembunuhan. Namun Laleh-Ladan tak surut. Keduanya ingin berpisah menapak jalan hidup yang berbeda: Laleh ingin menjadi wartawan, sedangkan Ladan mau menjadi pengacara.
Harapan berkibar ketika tahun lalu Laleh-Ladan dipertemukan dengan Keith Goh, dokter ahli bedah saraf yang pernah sukses memisahkan Ganga dan Jamuna, bayi kembar siam dari Nepal. Akhirnya, pada Januari 2003, Laleh-Ladan terbang ke Singapura guna memulai babak persiapan operasi. Ternyata, itulah perjalanan terakhir bagi mereka—langkah yang hingga kini masih disesali Alireza Safaian, ayah angkat yang telah mengadopsi sejoli Laleh-Ladan sejak mereka berusia dua tahun.
”Selama 27 tahun kami hidup di rumah yang sama,” katanya pahit. ”Kini saya merasakan kehampaan yang amat dalam.” Sebagai seorang dokter, Safaian paham betul risiko yang dihadapi kedua putri angkatnya dalam operasi pemisahan. ”Ketika tim dokter membawa mereka ke Singapura, saya tahu mereka akan kembali sebagai mayat,” katanya. Safaian menilai tim dokter Raffles—28 dokter ahli dan 100 asisten—telah bertindak tidak etis, dengan tetap menggelar operasi yang berisiko mematikan.
Benarkah tim dokter Raffles telah menerabas etika? Agaknya soal ini perlu dikaji lebih dalam. Michael Wilks, Ketua Asosiasi Dokter Inggris, menyatakan bahwa keabsahan tindakan seorang dokter tak boleh hanya diukur dari risiko yang tinggi. ”Kalau hanya dari risiko, tidak akan ada pionir transplantasi jantung, paru, atau tindakan berisiko lainnya,” kata Wilks.
Lagi pula, harus dicatat bahwa situasi Laleh-Ladan berbeda dengan kebanyakan kembar siam. Semua mungkin menghormati pilihan masing-masing individu kembar itu. Tapi, umumnya, kembar siam menjalani operasi pemisahan ketika masih bayi, dan tentu saja ketika itu mereka belum bisa mengutarakan keinginan sendiri. Mereka yang tumbuh besar tanpa dioperasi lazimnya merasa telah sehati sejiwa. Operasi pemisahan dirasakan tidak perlu lagi. Lori dan Reba Schappell, kembar siam dempet kepala dari Pennsylvania, misalnya, mengatakan, ”Kami tidak butuh direparasi. Kami ini orang normal meskipun fisik kami berbeda.”
Tapi Laleh dan Ladan berbeda. Mereka begitu ingin berpisah dan menjalani hidup sebagai individu yang utuh. Mereka bahkan pernah berlari amat kencang ke dua arah yang berlawanan agar kepala yang dempet bisa terpisah. Tentu saja aksi ini hanya membuahkan kesakitan. Begitu kuatnya keinginan ini yang membuat mereka siap dan ikhlas menerima risiko kematian. ”Bila Tuhan mengizinkan kami hidup terpisah, maka itu akan terjadi,” kata Laleh.
Wahai, begitulah keteguhan niat dua perempuan cerdas ini. Keteguhan yang memikat dunia ini dicatat oleh Mohammad Khatami, Presiden Iran, sebagai perwujudan ajaran ikhtiar dalam Islam. ”Kisah Laleh dan Ladan akan tercatat dalam buku besar pelajaran tentang takdir,” katanya.
Selain takdir dan nasib, ada juga pelajaran medis berharga yang diwariskan Laleh-Ladan. Proses operasi si kembar dilakukan dengan mengorbankan salah satu pihak. Tim dokter akan memberikan pembuluh vena di balik sinus sagitalis, yang menjadi muara persoalan, secara penuh pada Ladan. Sedangkan Laleh akan kebagian sambungan pembuluh darah yang diambil dari paha.
Nah, model operasi yang mengorbankan salah satu pihak ini tak akan seratus persen sukses. Boleh jadi, salah satu atau dua-duanya mengalami penurunan fungsi tubuh atau bahkan meninggal. Apalagi, yang dialami Laleh-Ladan adalah kembar kraniopagus atau perlekatan di kepala—jenis yang paling sulit dipisahkan.
Pada kasus Laleh-Ladan, pemotongan, pembendungan, dan penyambungan pembuluh darah vena otak terbukti mendatangkan trauma dan efek beruntun. Hal ini diungkapkan Profesor Pierre Lasjaunias, ahli neurologi dari Kremlin-Bicetre Hospital, Paris. Lasjaunias, yang juga anggota tim dokter Laleh-Ladan, menerangkan bahwa darah yang seharusnya mengalir di pembuluh terjebak di areal otak bawah—di antara tengkorak dan selaput otak. Akibatnya, muncul perdarahan yang hebat dan berujung pada kematian. Ikhtiar Laleh-Ladan pun berakhir.
Sebetulnya, masih ada model operasi alternatif untuk menekan risiko. Caranya dengan membagi sama rata dan tidak mengorbankan salah satu dari si kembar. Tetapi model ini kurang populer karena amat sulit dan menuntut ketelatenan tinggi. Profesor R.M. Padmosantjojo, ahli bedah saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pernah melakukannya saat mengoperasi kembar siam Pristian Yuliana-Yuliani.
Yuliana dan Yuliani, kini sudah kelas 1 SMU di Tanjungpinang, Riau, terlahir 16 tahun silam dengan kepala bagian atas menempel (kraniopagus vertikal). Pembuluh darah di otak Ana dan Ani menempel 34 sentimeter. Kemudian, pada umur dua bulan 21 hari, dilakukan operasi pemisahan di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Yang mengesankan, Profesor Padmosantjojo melakukan operasi pemisahan pembuluh darah secara manual. Maklumlah, peralatan RSCM pada waktu itu amat terbatas dan primitif jika dibandingkan dengan teknologi Singapura kini. ”Ongkos perlengkapan operasi Rp 42 juta juga saya usahakan sendiri,” katanya. Padmo juga membantu biaya pendidikan Ana-Ani sampai hari ini.
Tentang kembar siam kraniopagus, Prof. Padmo yakin tidak mungkin ada pembuluh darah otak yang menyatu. Di mata profesor ini, Ana-Ani atau Laleh-Ladan bisa tumbuh dan hidup normal dengan metabolisme masing-masing. Logikanya jelas: bila vena itu betul-betul menyatu, salah satu atau dua-duanya pasti sudah lama mengalami gagal metabolisme.
Walhasil, Prof. Padmo memilih menyayat dinding pembuluh vena otak Ana dan Ani yang melekat. ”Dengan mata telanjang,” katanya. Sebuah tindakan yang bisa dibilang ajaib karena tebal pembuluh darah itu tak lebih dari selembar kertas tipis. Sel demi sel, senti demi senti, dia sisik dengan pisau bedah hingga belasan jam, sampai akhirnya 34 sentimeter dinding pembuluh darah yang menempel tuntas terurai. Tak ada lecet sedikit pun. Tak ada pula yang dikorbankan. Ana mendapat setengah, Ani beroleh separuh.
Prof. Padmo orang yang rendah hati. ”Saya bersyukur dikaruniai kemampuan dan ketelatenan seperti daya tahan orang yang membatik atau bersila berjam-jam,” katanya. Tapi ia layak diacungi jempol karena kerjanya yang brilian untuk Ana-Ani. Apalagi, sepanjang sejarah, inilah satu-satunya operasi kembar kraniopagus yang sukses sampai si kembar tumbuh besar. Mungkin, ketelatenan ini kurang dimiliki dokter-dokter dari negara Barat, yang bersandar pada peralatan berteknologi serba canggih.
Kini Profesor Padmo bersiap hendak mengabarkan metodenya kepada dunia luas. Tahun 2005 nanti, dalam Kongres Dunia Bedah Saraf di Maroko, kisah sukses Ana-Ani akan dia presentasikan. Agar dunia kedokteran tahu bahwa ada metode pemisahan kembar siam yang bisa menekan risiko. Agar Laleh dan Ladan yang lain berkesempatan mewujudkan mimpi, saling memandang wajah tanpa bantuan cermin.
Mardiyah Chamim
Jam demi Jam yang Mencekam
6 Juli, pukul 18.00 (waktu Singapura)
Tim dokter mengawali operasi dengan membuka tulang tengkorak si kembar.
7 Juli, pukul 15.00
Tulang tengkorak sudah terbuka. Kini para dokter berusaha memisahkan otak si kembar. Ternyata, pembuluh darah vena di otak Laleh-Ladan sudah amat rapuh dan tidak luwes, lebih parah dari dugaan semula. Upaya pemisahan otak harus dilakukan dengan amat hati-hati dan teliti. Pada saat yang sama, sirkulasi darah si kembar berfluktuasi sehingga tim dokter harus beradu cepat dengan ketidakstabilan ini.
8 Juli, pukul 13.20
Operasi pemisahan otak selesai, yang berarti makan waktu 21,5 jam. Padahal tadinya diperkirakan tahap pemisahan ini selesai 8–10 jam. Kelambatan ini karena berbagai kendala: otak Laleh-Ladan begitu menempel dan beberapa luka yang terbuka memperparah keadaan.
8 Juli, pukul 15.00 WIB
Ladan Bijani dalam keadaan kritis. Akibat pemotongan pembuluh vena, muncul ”jebakan” darah di bagian bawah otak, tepatnya di antara tulang tengkorak dan selaput pelindung. ”Kantong jebakan darah ini tidak terekam alat scan 3d. Kami juga tidak menduga darah bisa terjebak di sini,” kata Prof. Pierre Lasjaunias, ahli neurologi, anggota tim pembedahan. Perdarahan otak yang dahsyat pun tak bisa dibendung lagi. Pukul 15.15 WIB, Ladan meninggal.
8 Juli, pukul 18.00
Kondisi Laleh juga amat kritis. Dia kehilangan darah dalam jumlah banyak. Laleh akhirnya meninggal pada pukul 18.00.
- Tahap pertama adalah membuka tulang tengkorak pada bagian yang menempel. Tahap ini lebih lama dari yang diperkirakan karena tulang tengkorak si kembar lebih tebal dari dugaan semula.
- Tahap kedua adalah memisahkan kedua otak. Pembuluh vena dipotong. Laleh mendapatkan seluruh pembuluh vena, sedangkan vena Ladan akan disambung dengan pembuluh yang diambil dari kaki
|