Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXXII/14 - 20 Juli 2003
   
Indonesiana

Polisi Tertipu Dalang

SLAMET Gundono memang dalang yang terkenal doyan membongkar struktur cerita dan memasukkan yang tidak biasa ke dalam perkeliran. Namun tidak "segila" saat ia ngedalang di rumah Ki Manteb Sudarsono, tiga pekan silam. Polisi dibuatnya repot dan "tertipu".

Memanggungkan lakon Sesaji Rajasuya Dalang Sewu, tentang dalang yang terkooptasi kekuasaan, dalang bertubuh mirip pesumo itu merekrut kerabat dan kolega para anak wayang sebagai demonstran. Demo bohong-bohongan itu diramaikan dengan spanduk, poster, plus orasi dengan megafon. Dalam dua kali unjuk rasa, gang menuju rumah Manteb mereka blokir.

Demo malam hari itu mengejutkan masyarakat setempat. Tak ayal, seorang tetangga Manteb melaporkannya ke Polsek Karangpandan. Polisi langsung mengirim satu peleton (30 orang) perintis untuk membubarkan serbuan.

Sial, tiba di lokasi, demo sudah bubar. Sang komandan pun mendatangi dan menanyai tuan rumah. Manteb jadi terheran-heran. "Masa, dalang didemo, Pak," katanya.

Ternyata Manteb "berbohong", karena tiba-tiba terdengar keriuhan. Ternyata segerombolan demonstran "beraksi kembali". Polisi pun bergerak cepat mengurung para perusuh, dan meminta "provokatornya" membubarkan demo. Permintaan itu ditolak, bahkan mereka makin liar dan berteriak-teriak agar para dalang tak ngiler kekuasaan. Pesinden dan wiyaga malah join dengan pengunjuk rasa: "Naikkan kesejahteraan yaga", "Stop pelecehan terhadap sinden". Perwira polisi itu sampai bingung.

Manteb, yang menyadari ada kesalahpahaman, mendekati sang komandan. Bersama para dalang beken seperti Ki Anom Suroto, ia menjelaskan duduk soalnya: ini bagian dari pertunjukan. Percuma. Pasukan berseragam cokelat itu malah hendak menangkap pengunjuk rasa. Ketegangan pun terjadi. "Saya jamin tidak akan terjadi apa-apa. Wong, itu hanya pertunjukan kok, Pak. Silakan Bapak menonton saja," ujar Manteb. Para polisi akhirnya paham, dan ha-ha-hi-hi.

Sang dalang sendiri justru "menyesali". "Kalau demonya jadi dibubarkan, pertunjukan saya malah tambah gayeng," ujar Gundono.

Irfan Budiman, Imron Rosyid (Sukoharjo)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data