|
HALAMAN DPRD Sukoharjo, Jawa Tengah, belum lama ini dipenuhi kerangka manusia. Mereka tak datang sendiri, tentu, tapi dibawa ke sana dari kuburan Kartasura oleh para penggali yang dibohongi. Tapi, apa pasal?
Rupanya, ini ada kaitannya dengan rencana pemerintah kabupaten setempat untuk menjadikan lokasi kuburan itu sebagai terminal bus. Masyarakat sekitar kuburan, yang langsung antusias, ikut membantu menggali kuburan dan mengeluarkan para ahli kubur dari liangnya.
Dalam kesepakatan dengan pemerintah daerah disebutkan, untuk kerangka yang tak punya ahli warisnya, tersedia biaya pembongkaran dan kremasi Rp 57 juta. Ternyata, dari sekitar 500 kerangka, ada 110 yang tak diketahui siapa keluarganya.
Namun sial, setelah penggalian usai, janji duit tinggal janji hampa. Demo pun digelar. "Kami sudah menyimpan 110 kerangka jenazah selama tiga minggu, tapi uang yang dijanjikan tidak juga datang," tutur Tri Wahyono, salah satu pengunjuk rasa. Merasa tidak mata duitan, tapi kata Tri menjaga kerangka bukanlah pekerjaan ringan dan, hiii.... Mereka menyimpannya di pelataran kosong bekas pabrik kertas di Kartasura, yang harus dijaga 24 jam oleh empat petugas dan seorang paranormal. Juga didupai. "Petugas sering dibuat ketakutan karena ada kejadian-kejadian ganjil setiap terlambat menyalakan hio," paparnya.
Mereka lalu meminta para kerangka dikuburkan kembali, namun juga diabaikan. Putus akal, mereka akhirnya membawa 110 kerangkaberbungkus kain merah dan diikat pita kuningke Gedung DPRD dan ditaruh di halamannya. Juga dinyalakan dupa. Tidak lupa sejumlah poster, di antaranya berbunyi: "Jangan biarkan arwah kami kedinginan, hai anggota Dewan! Besok kalian juga seperti kami." Sia-sia, aksi ini juga didiamkan.
Akhirnya mereka meninggalkan tulang-tulang kerangka itu berserakan. "Biar diurus para anggota Dewan," teriak mereka, lalu bersiap pulang. Kali ini ampuh. Pimpinan DPRD dan pemerintah setempat pun mengajak mereka mencari jalan keluar. Eh, hasilnya oke juga: Pemda setuju mencairkan dana pemakaman kembali para tengkorak tanpa menunggu rapat paripurna. Kena batunya.
Irfan Budiman, Imron Rosyid (Sukoharjo)
|