Cinta Mobil Tua Sepanjang Masa Keasyikan kolektor mobil tua adalah ketika berburu dan membangun bangkai mobil yang ditemukan di tempat-tempat tak terduga. |
JAKARTA seperti kembali ke masa lalu. Austin 1935, Chevrolet Bel Air, Chevrolet 1925, juga bekas mobil RI-1 seperti Imperial Le Baron, dan banyak lagi berkonvoi dengan moleknya di jalan-jalan utama Jakarta Pusat, Minggu dua pekan silam. Sepekan berikutnya, mobil-mobil bersejarah RI-1 bekas milik Presiden Sukarno dibawa mengelilingi halaman Istana Merdeka. Kendaraan dari merek-merek ternama dunia yang semula ditemukan dalam keadaan amburadul di Istana Bogor pada 1987 itu bisa kembali dinikmati orang. Semua mobil tua itu dibangun kembali oleh penggemar mobil tua yang tergabung dalam Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI).
Konvoi, pameran, dan reli mobil-mobil tua memang bukan hal yang baru. Sejak berdiri pada 1979, perhimpunan penggemar mobil kuno itu sudah sering mengadakan pameran dan reli, seperti reli Jakarta-Bali. Itu semua masuk dalam agenda PPMKI. ”Masyarakat umum bisa tahu jenis mobil-mobil tua yang bersejarah,” kata H.M. Bambang Rus Effendi, Ketua PPMKI. Dan benar, setiap kali ada parade kendaraan antik, perhatian publik selalu tersedot.
Namun yang jauh lebih menarik adalah romantika perburuannya dan bagaimana perjalanan mobil-mobil setua itu hingga kembali bisa berjalan. Ini yang tak terlihat oleh publik. Kolektor biasanya tak segan-segan mencari mobil idaman mereka hingga ke pelosok desa. Untuk membangunnya hingga kembali bisa menggelinding di jalan, para kolektor bisa sampai membeli suku cadang ke luar negeri. Pokoknya, setiap mobil punya ceritanya sendiri.
Bagaimana ”kegilaan” kolektor mencari mobil antik, tengok saja pengalaman Hartawan Setjodiningrat. Pengumpul mobil tua sejak 1979 ini, ketika berbulan madu pada 1980, mengajak istrinya berburu mobil di kawasan Jember, Jawa Timur. Hawke, panggilan akrab bos perusahaan pembuat berbagai komponen mobil ini, ”tega” membawa istrinya keluar-masuk desa-desa tempat perkebunan tembakau khusus cerutu. Untung, ada hasilnya. Hawke mendapat Ford 1928, jenis mobil yang mirip kendaraan para gangster di Chicago. Saat itu mobilnya sudah dipakai sebagai opelet. Hanya bagian depannya yang utuh. ”Bodi belakang bisa dipakai sebagai kandang ayam, tempat jemur gaplek, atau yang lain,” kata Hawke, yang akhirnya memboyong bangkai Ford itu ke Jakarta.
Bagi Hawke, inti cerita dari mengoleksi mobil tua adalah perburuan itu sendiri. Mulanya, laki-laki kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 48 tahun silam ini membeli setiap mobil tua. Setelah menyelesaikan kuliah di Sydney, Australia, Hawke memulai aksi memborong bangkai mobil. Dalam satu tahun bisa didapat 10 hingga 15 buah. Hal itu dilakukannya hingga 1987. Tak disadarinya, rongsokan mobil jomponya sudah sampai 150-an buah.
Lalu Hawke sadar tak ada gunanya mengumpulkan bangkai mobil antik tanpa bisa membangunnya kembali menjadi seperti semula. Rumahnya (waktu itu) di kawasan Jelambar dan pabriknya di Cengkareng lebih mirip dengan tempat penimbunan besi tua. Hawke pun mulai menjual bangkai mobilnya. ”Kadang saya tukar tujuh mobil tua dengan satu yang benar-benar bermerek,” katanya.
Mulailah laki-laki yang suka bertualang itu mengubah orientasi terhadap mobil kuno. Sasarannya adalah jenis sport, eksotis, konvertibel (kapnya bisa dibuka), di bawah tahun 1960. Mereknya Chevrolet, BMW, Jaguar, dan Rugby.
Cara pencariannya pun makin bermetode. Hawke membeli buku-buku mobil kuno dari luar negeri yang berisi sejarah mobil-mobil edisi terbatas. Di dalam buku itu bisa ditelusuri siapa pembeli mobil terakhir, lokasinya, nomor mesin, dan ciri khas lainnya. Setelah ada Internet, Hawke semakin mudah mendapat informasi. Jika sedang berburu, tak lupa Hawke membawa semacam buku pintar mobil tua. Ini yang membuatnya bisa menghindari penipuan oleh para makelar.
Bagi ayah tiga anak itu, berburu mobil sama sekali tak membuang waktunya. Soalnya, pekerjaan menuntut dia sering melakukan perjalanan ke luar kota. Kesempatan seperti itu tak disia-siakannya.
Dia pun sudah punya strategi. Mobil tua biasanya ada di daerah perkebunan lama. Jika Hawke sampai di sebuah kota, dia langsung ke terminal untuk bertanya tentang sopir tertua di tempat itu atau mendatangi toko-toko suku cadang yang tua. ”Biasanya dari orang-orang itu bisa didapatkan informasi yang benar tentang mobil tua,” katanya.
Ada lagi kisah tiga bekas mobil jenazah. Sejak masih bersekolah pada 1960-an, Hawke tertarik dengan tiga mobil jenazah di Pandanaran, Semarang, yaitu satu Chevrolet 1925 dan dua Ford 31. Keinginannya untuk memiliki ketiganya tak lekang dan baru bisa terwujud pada 1984. Tiga mobil itu dibeli dengan harga Rp 4,5 juta.
Perolehan itu sungguh harta karun. Kondisi ketiga mobil itu masih bagus dibandingkan dengan rata-rata bangkai yang diperoleh Hawke. Kaca mobilnya saja terbuat dari kristal. Di bagian atas mobil itu terdapat kayu ukir-ukiran. Karena mobil-mobil itu biasa dipakai untuk mengangkut jenazah—terakhir beroperasi pada awal 1970-an—dan selalu berjalan pelan, mesinnya pun masih relatif bagus.
Persoalan berikutnya adalah mengangkut mobil berornamen itu ke Jakarta. Meskipun Hawke cukup berpengalaman mengangkut bangkai mobil hasil buruan dari berbagai daerah ke Jakarta, untuk kendaraan jenazah itu diperlukan usaha ekstra. Sebab, truk trailer pengangkut bekas mobil jenazah itu tak bisa melewati terowongan Jatibarang. Agar truk dan mobil yang diangkutnya bisa menerobos terowongan, Hawke mengempiskan sama sekali semua ban truk. Usaha itu belum cukup. Hawke masih harus mempreteli hiasan ukiran kayu yang terdapat di atas mobil. Sesudah itu, baru berhasil. ”Sungguh pengalaman yang seru,” katanya.
Mobil-mobil bekas pengangkut jenazah itu masih harus diperlakukan ekstra hingga saat ini. Hawke harus menyediakan sesajen dan memandikan mobil-mobil itu pada hari tertentu. Meskipun tidak mempercayainya, Hawke tetap melakukan ”ritual” itu demi keselamatan koleksi berharganya. Bahkan tempat menyimpan dua mobil bekas pengangkut jenazah Ford 31 di pabriknya, di Bekasi, terkadang dipakai oleh pegawainya untuk bersemadi agar mendapat nomor lotre. ”Saya ndak keberatan. Malah kebetulan mobil saya dijaga,” katanya enteng.
Sebagai kolektor mobil tua, orang memang harus bersusah payah dulu sebelum benar-benar bisa menikmatinya. Setelah berburu—yang kebanyakan hanya mendapatkan bangkainya—penggila mobil kuno masih harus berusaha keras membangun mobil mereka. Membangun artinya pemilik harus bisa mengembalikan sebuah mobil menjadi dalam keadaan bagus, dengan komponen 90 persen asli. Bentuk bodi, mesin, gril, bumper depan-belakang, lampu-lampu, lis-lis, velg, dashboard dan indikatornya, serta setir dan radiatornya harus asli. Bahkan ada yang sampai berjuang mencari warna cat yang sama dengan warna mobil tua ketika masih ”muda”. ”Itu sangat tidak mudah,” kata Hawke, yang punya target membangun tiga mobil setahun.
Menurut Andri Sutrisna, merestorasi bangkai mobil jauh lebih nikmat daripada sekadar mengendarai mobil keluaran terbaru. Andri yang masih 30 tahun ini memang agak nyeleneh, masih muda tapi lebih suka mobil tua. ”Rasanya puas kalau kita membangun dari awal, apalagi kalau keasliannya mendekati 90 persen,” kata kolektor Chevrolet Bel Air yang sudah tertarik mobil tua sejak 18 tahun lalu ini.
Lalu berapa harga pasaran mobil tua? Sangat beragam, rata-rata Rp 100 juta-Rp 200 juta. Menurut Hawke, harga mobil antik di pasaran justru meningkat pesat setelah krisis ekonomi. Ada yang berani membeli mobil jenis tertentu seperti Ferrari 1970 hingga Rp 1 miliar. ”Harga mobil tua sekarang ini sudah kelewatan tingginya,” katanya.
Harga boleh tinggi, tapi para kolektor cenderung menahan diri untuk menjual. Sebab, ”Melihat mobil-mobil tua berjajar seperti ini ada kepuasan tersendiri,” kata Hawke, yang punya garasi di belakang rumahnya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, untuk tempat tinggal 40-an mobil. Kecintaan pada mobil tua sudah tak tergoyahkan. ”Dimarahin istri pun sudah saya anggap sebagai vitamin,” kata Hawke.
Bina Bektiati, Priandono Kusumo (TNR)
|