Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXXII/14 - 20 Juli 2003
   
Film

Sang Naga Mengucap Pamit

DALAM kendaraan trailer di Universal Studios, jauh hari setelah menyelesaikan film The Hulk, sutradara
Ang Lee duduk lega. "Ada tekanan yang tak kasatmata," kata Lee, mencoba menggambarkan suasana sebelumnya. Ia tahu, para kru telah memberinya yang terbaik. Dan kini giliran dirinya mengembalikannya dalam bentuk produk sempurna.

Ang Lee perfeksionis, juga pekerja keras. Sepekan setelah Crouching Tiger, Hidden Dragon selesai, ia dan timnya sudah larut dalam pembuatan The Hulk, film yang pembuatannya makan waktu setahun. Crouching Tiger, yang diangkat dari drama silat Cina klasik karya Wang Du Lu, kemudian memboyong penghargaan: 10 nominasi Academy Award tahun 2000—termasuk film berbahasa asing terbaik—piala Golden Globe, dan 4 penghargaan dari British Academy Award. Sedangkan The Hulk baru diputar pekan ini.

Ang Lee sutradara yang telah berjalan jauh. Pada 1995, ia menyelami suasana aristokrat Inggris di abad ke-19 lewat Sense and Sensibility, film yang diangkat dari karya Jane Austen. Persoalan remeh-temeh, jodoh, harta, dan darah biru, lengkap dengan gaya bergosip dan berkuda pada masa itu, ditampilkan dengan kemampuan artistik yang luar biasa. Film ini meraih Academy Award untuk skenario terbaik yang ditulis aktris Emma Thompson.

Pada 1997, Ang Lee masuk ke suasanaAmerika Serikat 1970-an, pas sebelum skandal Watergate mencapai puncaknya. Itulah The Ice Storm, film adaptasi novel Rick Moody, yang menyuguhkan masyarakat suburban Amerika pada 1970-an, yang menghadapi perubahan besar sosial. Di sini, ia menampilkan kekacauan nilai-nilai Amerika.

Melalui kedua film itu, Lee dijuluki sutradara pelintas batas kultur. Penyebabnya, Lee yang lahir di Taipei 58 tahun lalu itu memiliki latar kultur Timur, tapi dapat menggambarkan Inggris abad ke-19 dan suasana Amerika 1970-an dengan sempurna. Lee, keluaran National Taiwan College of Arts 1975, memang meneruskan studi di Universitas New York dan lulus dengan gemilang. Tugas akhirnya, Fine Line, film berdurasi 40 menit, ditetapkan sebagai film terbaik angkatannya.

Sebuah kejadian kecil telah mengubah perjalanan kreativitasnya. Waktu itu, ketika ia bersiap-siap pulang kampung, seorang agen berhasil membujuknya. Akhirnya sampai sekarang ia memilih Amerika sebagai lahan menyempurnakan karya-karyanya. Debutnya diawali lewat Pushing Hands (1991), yang bertutur tentang kekikukan seorang ayah saat mengunjungi anaknya yang tinggal di New York dan menikah dengan wanita Amerika. Film ini merebut tiga penghargaan dalam Festival Film Taiwan dan menjadi film terbaik Festival Film Asia Pasifik di Seoul, Agustus 1992.

Begitu pula film keduanya, The Wedding Banquet (1993), yang mengungkap konflik benturan nilai modern-tradisional dalam keluarga Taiwan di New York. Film tentang seorang gay yang harus berpura-pura menikah dengan wanita Cina semata untuk menyenangkan hati orang tuanya ini menyabet Golden Bear dalam Festival Film Berlin. Sejak saat itu, orang semakin yakin, Ang Lee seorang sutradara dengan kemampuan khusus menggarap tema-tema konflik: konflik antar-komunitas, kultur, adat-istiadat, dan generasi. Dari pendekatan ini, mengalir karya-karya yang bagus: Eat Drink Man Woman (1994), Ride with the Devil (1999), dan tentu saja mahakarya Crouching Tiger, Hidden Dragon.

Ang Lee kini sutradara yang kaya pengalaman dan sanggup menyelami alam pikiran para pemain pendukung filmnya. Ia mengaku kerap sengaja mengubah emosi para aktor-aktrisnya. Kadang kala itu di skenario, kadang kala saat mengarahkan mereka. Tapi Ang Lee berjalan terus, tak mengenal terminal dalam berkreasi.

Di The Hulk, Lee kembali membentangkan teks. Kali ini komik. Ia mengaduk problem sosok ayah lewat karakter ilmuwan David Banner dan Jenderal Ross dalam kelindan emosi trauma masa kanak-kanak dengan perpindahan gambar yang subtil. "Ini memang drama keluarga dengan aksi besar," katanya. Lee menutup film dengan sebuah pertanyaan. Suatu ending yang mengundang teka-teki, karena belakangan ia berniat pensiun.

Kepada majalah Der Spiegel dua pekan lalu, Lee berkata, "Saat berangkat tidur, saya sering berpikir haruskah mengerjakan satu film lagi. Saya semakin tua, jadi semua pekerjaan ini terasa semakin berat." Seolah mewaspadai kecanduannya akan film, sang Naga rupanya bakal pamit.

Dwi Arjanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data