Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXXII/14 - 20 Juli 2003
   
Film

Hulk Mencari Dirinya

Ang Lee, sutradara Crouching Tiger, Hidden Dragon, menyutradarai Hulk. Di tangannya, kisah yang diangkat dari komik Marvel ini menjadi tragis.

Hulk, hrrhhh…. Tangan berotot raksasa itu menampar helikopter. Tubuhnya yang telanjang dada begitu gempal, hampir tak ada lainnya kecuali tonjolan bisep-trisep. Seolah dicelup sumba, seluruh badannya hijau. Celananya koyak-moyak. Wajahnya yang primitif mendengus marah….

Dalam besutan Ang Lee, adegan amuk "Hercules" itu bukan memantulkan kebencian, tapi kisah "kesakitan" anak yang malang. Setelah menjelajahi berbagai kemungkinan film dari drama keluarga Sense and Sensibility (adaptasi novel Jane Austen), The Ice Storm, film koboi Ride With the Devil, film silat Crouching Tiger, Hidden Dragon, kini sutradara asal Taiwan tersebut meloncat ke komik.

Hulk diciptakan Stan Lee dan Jack Kirby pada 1962, dua komikus yang juga ayah Spider-Man, X-Men, Daredevil. Hulk, sosok manusia produk mutasi gen yang salah, fantasi Stan dan Jack atas isu berbagai percobaan senjata era Perang Dingin. Ang Lee menonjolkan sisi keterbelahan jiwa Hulk. Dua jam lebih kita disuguhi drama psikologis. Sebuah cerita yang mungkin terlalu berat bagi anak-anak. Mereka yang mengharapkan tontonan funky dan rileks ala Spider-Man akan kecele.

Film dibuka dengan adegan sebuah keluarga ilmuwan di sebuah riset pertahanan di gurun. Sang ilmuwan yang proto-Dr. Jeckyl (Nick Nolte) berobsesi menemukan rekayasa "adi-manusia". Ia dilarang militer tapi nekat menyuntikkan serum struktur DNA ke tubuh anaknya, Bruce Banner. Suatu hari, sang ilmuwan nekat meledakkan instalasi. Bruce tak tahu apa-apa. Yang ia ingat hanya ayahnya datang tergopoh-gopoh dan menyeret ibunya ke balik sebuah pintu. Sampai Bruce dewasa (Eric Banna) menjadi doktor nuklir, memorinya terus-menerus dihantui bayangan itu….

Ang Lee tampak menonjolkan soal trauma masa kanak-kanak ini. Kamera beberapa kali memperlihatkan pintu yang misterius tak ubahnya film thriller Alfred Hitchcock. Suatu kali Bruce Banner mengalami kecelakaan di laborato-rium, tersemprot radiasi sinar gamma. Seharusnya ia mati, tapi justru itu membangkitkan kode genetik yang telah ter-tanam di tubuhnya semenjak kecil.

Ia merasakan kekuatan aneh. Bila emosinya meledak, tubuhnya jebol, otot-ototnya keluar, berubah jadi monster berwarna hijau (dalam komik aslinya perubahan pertama tubuh Hulk abu-abu). Sejalan dengan itu, ingatan yang samar-samar mulai jelas—bahwa di balik pintu itu ibunya kemudian mati ditusuk pisau ayahnya.

Adegan menarik saat Jenderal Thunderbolt Ross (Sam Elliot) dan skuadronnya mengejar Hulk. Raksasa hijau itu berlari, berlari menghindari kejaran jet-jet dan tank-tank. Sementara pendekar Li Mu Bai dalam Crouching Tiger, Hidden Dragon bisa melenting dari genting, ranting, ke tebing dengan kekuatan ginkangnya, Hulk bisa meloncat dari gurun pasir, karang-karang, menuju San Francisco. Suntingan animasi cukup imajinatif. Apalagi layar dibagi seolah panel komik.

Mungkin penggemar komik kecewa lantaran Hulk hanya menggeram "hrrrhh" dan terkesan menderita dengan fisiknya itu, sementara dalam komik ia berbicara lancar dan tingkahnya dari liar kemudian kekanak-kanakan. Amuk Hulk hanya bisa dilumerkan oleh Betty Ross (Jennifer Cornelly), sejawatnya yang dicintai, hingga tubuh Hulk mengkerut, mengecil kembali. Jelas untuk ini Ang Lee terinspirasi adegan kingkong dan gadis pujaannya. Demi Betty, si Hulk bersedia melakukan apa saja, termasuk bertarung dengan anjing-anjing ganas yang dikirim ayahnya untuk mencokok Betty.

"Aku tidak ingin menemuimu, tapi menemui ciptaanku dalam dirimu," kata ayah Bruce. Pertemuan Hulk dengan ayahnya memang ditampilkan Ang Lee tak mesra. Tapi dalam komik sesungguhnya lebih menyedihkan. Bruce membunuh ayahnya sendiri di pemakaman, saat ayahnya mencuri tengkorak ibunya. Ang Lee hanya membuat sosok Hulk seolah lebih membenci perubahan dirinya daripada menerimanya sebagai alter ego. Tapi ini cukup mengharukan. Inilah tafsir "seorang pendekar" atas Hulk, satu-satunya "hero Amerika" yang kekuatannya dipandang sebagai kutukan, bukan berkah.

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data