Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXXII/14 - 20 Juli 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Mobil Serbaguna Menyalip Sedan

Indonesia memiliki potensi menjadi basis produksi mobil nonsedan di kawasan ini.

DI jalanan, mobil sedan boleh saja berlari lebih kencang daripada pick-up, minibus, atau mobil non-sedan yang lain. Tapi, dalam urusan adu kebut grafik penjualan, mobil sedan tak kuasa "mendaki" lebih tinggi ketimbang nonsedan. Inilah potret mutakhir industri mobil di Indonesia menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), yang menyelenggarakan pameran besar di Jakarta akhir pekan ini.

Pasar otomotif di sini menggeliat bangkit sejak tahun 2000. Dan mobil nonsedan adalah primadona masa kebangkitan kali ini. Nonsedan mampu memelihara rekor penjualan yang stabil, yakni 70 persen sampai 75 persen dari total sekitar 300 ribu unit mobil terjual setahun, sejak tahun awal membaiknya pasar. Sedangkan sedan justru terseok. Pada tahun 2000, angka penjualan sedan 15 persen, tapi dua tahun berikutnya jumlah itu terus merosot hingga 11 persen dan 8 persen saja.

Jika dirunut ke belakang, cengkeraman mobil nonsedan di pasar domestik memang memiliki sejarah panjang. "Mobil nonsedan biasanya menguasai 70 persen pasar mobil baru," ujar Suseno, Sekretaris Jenderal Gaikindo. Toyota, yang menikmati potongan terbesar dari kue penjualan mobil baru, juga mengandalkan penjualan mobil nonsedan. Menurut Joko Trisanyoto, Direktur PT Toyota Astra Mobil, dalam satu tahun ada sekitar 6.000 nonsedan dan 400 sedan yang dijual Toyota di Indonesia.

Para pelaku industri menyebut beberapa penyebab mengapa masyarakat lebih menyukai mobil nonsedan. Salah satunya adalah kondisi jalan yang belum mulus rata. Selain itu, Suseno menyebut bahwa kendaraan nonsedan lebih ekonomis bagi keluarga karena daya muatnya lebih besar. "Jadi biaya bahan bakar yang ditanggung keluarga akan lebih ringan," ujarnya. Apalagi tarif penjualan barang mewah yang dikenakan untuk mobil nonsedan lebih rendah daripada tarif untuk sedan. "Selisihnya sekitar 20 persen," ujar seorang pejabat di perusahaan otomotif.

Dengan keuntungan semacam itu, para produsen pun seakan berlomba melepas mobil nonsedan ke pasar. Tipenya mulai dari yang klasik, seperti pick-up atau minibus hasil karoseri, hingga yang baru seperti multipurpose vehicle (MPV) atau special utility vehicle (SUV).

MPV dan SUV diperkirakan akan kian mengukuhkan dominasi nonsedan atas sedan pada waktu mendatang. Beberapa merek mobil dari jenis itu dengan segera diserap pasar. SUV keluaran Nissan bisa dijadikan contoh. Menurut Gunadi Sindhuwinata, Direktur PT Indomobil Sukses Internasional, Nissan berhasil menjual dua jenis SUV keluarannya 3.000 unit sepanjang tahun lalu. Laris manisnya SUV buatan Nissan dibenarkan oleh seorang pejabat pemerintah. "Saya harus inden sebulan lebih saat beli," ujarnya. Sebelum Nissan, Honda sudah terlebih dahulu mencicipi manisnya pasar jenis ini lewat Honda CRV.

Di mata produsen mobil jenis ini, Indonesia tetap pasar besar yang menggiurkan—fenomena aneh di tengah krisis ekonomi ini. Itu sebabnya banyak produsen tetap memilih memproduksi mobil nonsedan di Indonesia, kendati sebagian dari aturan perdagangan bebas Asia (AFTA) telah berlangsung. Adapun penjualan mobil nonsedan di Thailand—yang selama ini dianggap kandang perusahaan otomotif dunia di wilayah Asia Pasifik—ternyata tidak terlalu mengkilap. "Thailand hanya kuat di sedan," ujar Joko Trisanyoto.

Sekarang ini serombongan produsen otomotif kelas dunia sibuk membangun fasilitas perakitan nonsedan di Indonesia. Toyota, Honda, Suzuki, Nissan, dan juga KIA merupakan beberapa nama yang bisa disebut.

Beberapa dari mereka juga merambah ke pasar ekspor. Honda, misalnya, sejak tahun lalu menjual MPV "made in Indonesia" ke Thailand. "Jumlahnya sekitar 2.500 unit," tutur Jonfis Fendy, Direktur PT Honda Prospect Motor.

Menurut Joko, ekspor itu dimungkinkan karena dukungan pasar domestik yang besar. "Jika pasar domestik bisa menutup skala ekonomi (usaha), ekspor tidak akan sulit dilakukan," katanya lagi. Hal itu telah dibuktikan Toyota dengan Kijangnya. Setelah lebih dari dua dekade menguasai pasar domestik, kini Toyota mampu mengekspor mobil serbagunanya yang legendaris itu ke Malaysia dan Filipina.

THW


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data