Tangguh yang Kalah Tangguh Indonesia gagal lagi dalam tender gas alam cair di Taiwan. Akan tertundakah pengembangan proyek gas Tangguh? |
Terletak di Teluk Bintuni, Papua, Tangguh menjanjikan ketangguhan masa depan energi gas: inilah salah satu lapangan gas terbesar di Indonesia, yang menyimpan cadangan 14 triliun kaki kubik gas. Toh, dalam urusan tender internasional, proyek gas raksasa itu rupanya belum setangguh namanya. Dioperasikan oleh perusahaan minyak BP Indonesia, proyek gas Tangguh harus menerima kenyataan pahit: gagal dalam tender pengadaan gas alam cair di Taiwan, Jumat pekan lalu. Negeri kecil itu menunjuk Qatar sebagai pemasok satu juta ton gas setiap tahun selama 25 tahun.
Kekalahan di Taiwan menambah panjang daftar kegagalan Tangguh dalam berbagai tender internasional sebelumnya. Tahun lalu lapangan gas itu gagal memasok tiga juta ton gas per tahun—selama 25 tahun—ke Guandong, Cina. Padahal lobi sudah gencar dilakukan. Presiden Megawati Soekarnoputri sampai melakukan "diplomasi dansa" segala dengan Presiden Jiang Zemin ketika berkunjung ke Cina pada awal 2002. Eh, ternyata Cina lebih memilih Australia sebagai pemenang tender pengadaan gas senilai Rp 12 triliun per tahun.
Kekalahan di Guandong sempat agak terobati saat Cina meminta Indonesia memasok gas ke Fujian sebanyak 2,6 juta ton per tahun dengan harga di bawah pasaran. Tapi Fujian hanya menghargai gas dari Tangguh sebesar US$ 2,4 (Rp 19.700) per million British thermal unit (MBTU). Padahal harga ekspor gas Indonesia ke Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan di atas US$ 3.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, kekalahan Tangguh di Taiwan semata-mata karena faktor harga. Qatar, katanya, menawarkan harga jauh lebih murah dibanding Indonesia. Sementara itu, gas dari Tangguh tak mungkin dijual dengan harga obral. Qatar menawarkan harga di bawah US$ 2. Tangguh menyodorkan harga US$ 2,9.
Alhasil, "Daripada dijual murah ke luar negeri, lebih baik dijual di dalam negeri saja," ujar Purnomo. Caranya? Dengan membentuk konsorsium yang terdiri atas produsen dan konsumen gas dalam negeri. Cara ini dinilai efektif sebagai terobosan dalam memasarkan gas. Produsen akan memasarkan gasnya me-lalui terminal terapung yang dibangun oleh konsumen. "Pola ini sedang dipikirkan," Purnomo menjelaskan.
Dunia industri, pembangkit listrik, dan pabrik pupuk adalah konsumen gas terbesar dalam negeri saat ini yang menjadi salah satu pasar utama produk Tangguh. Sehingga, menurut Purnomo, pengembangan Tangguh bakal jalan terus kendati belum mendapatkan pembeli gas di luar negeri. Maklumlah, agar bisa untung, proyek gas senilai US$ 2,2 miliar harus mengalirkan tujuh juta ton per tahun. Sekadar perbandingan, proyek gas ini baru mendapatkan kontrak 2,6 juta ton dari Fujian. "Tapi Tangguh akan tetap jalan," kata Purnomo.
Semula, keikutsertaan perusahaan ini pada tender pengadaan gas alam cair untuk pembangkit listrik Taiwan Power (TaiPower) Company diharapkan bisa membawa untung. Sayang, China Petroleum Company (CPC), perusahaan negara Taiwan, lebih berkenan menggandeng RasGas, perusahaan patungan ExxonMobil dari Amerika dengan perusahaan minyak nasional Qatar.
Kekalahan dalam tender kali ini—suka-tidak suka—bakal menambah beban kerja pemerintah. Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi, misalnya, harus bekerja amat keras menawarkan Tangguh kepada calon pembeli di luar negeri. Lembaga milik pemerintah itu memang ditugasi memasarkan minyak dan gas bumi dari Indonesia. "Tangguh akan ditawarkan kepada pembeli di Jepang dan Korea Selatan dalam waktu dekat," kata Kepala Badan Pelaksana Minyak dan Gas, Rachmat Sudibjo.
Pasar gas alam cair di Jepang saat ini memang terbuka lebar. Negara itu tengah menggalakkan penggunaan energi bersih setelah menunda program nuklirnya. "Jepang masih menjadi pasar potensial gas dari Indonesia," kata seorang pelaku bisnis gas alam cair yang enggan disebut namanya. Dia menyarankan agar negosiasi dilakukan lebih intensif dengan calon pembeli. Menurut sang sumber, pelaku bisnis Jepang amat independen terhadap campur tangan pemerintahnya. "Percuma kalau negosiasi antar-pemerintah tapi tidak melibatkan konsumen gas Jepang," sarannya.
Tangguh memang masih harus diuji lagi ketangguhannya. Setidaknya, di arena-arena tender internasional.
Ali Nur Yasin
|