Setiawan Djody (Ketua Kadin Komite Rusia) ”Kami Sudah Tahu Bakal Bermasalah” |
UNDANGAN itu cuma datang lewat secarik kertas. Padahal pesan yang diusungnya amat besar: rapat dengar pendapat dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang membidangi pertahanan keamanan, perihal kasus pembelian pesawat tempur Sukhoi. Si penerima undangan adalah Setiawan Djody, pengusaha nasional yang juga duduk di kursi Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Komite Rusia. "Nah, undangannya datang lagi," kata Djody seraya tertawa, lalu membubuhkan tanda terima di selembar kertas.
Pekan lalu, bersama mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan Rizal Ramli, Djody memang diundang ke Gedung DPR oleh Panitia Kerja Komisi Pertahanan dan Keamanan. Kabar yang beredar menyebutkan, keduanya akan menyodorkan seabrek informasi sangat penting kepada para wakil rakyat di sana. Sebelumnya, Djody telah sesumbar: "Saya akan bernyanyi di panja (panitia kerja)." Dan Senin pekan lalu, publik setia menanti tembang itu.
Eh, ternyata gagal total! Rizal dan Djody—sebagaimana luas diberitakan— walk out karena Dewan hendak menutup mata publik dari sidang nan penting itu. "Kami tidak diberi tahu bahwa rapat itu tertutup," kata Rizal Ramli dengan nada protes. Gagal dengan sidang pertama itu, Panitia Kerja Komisi Pertahanan dan Keamanan lalu menggelar sidang kedua, Senin, 7 Juli.
Surat undangan itu diterima Setiawan Djody Jumat pekan lalu, persis ketika Wenseslaus Manggut, Nezar Patria, dan fotografer Budianto dari TEMPO sedang mewawancarai tokoh yang juga gemar berseni-seni itu di kediamannya, Jalan Kemanggisan Raya, Jakarta Barat. Bekas kawasan Uni Soviet yang sudah bubar bukanlah ranah yang asing bagi pengusaha ini. Djody punya rupa-rupa usaha di sana: sejumlah tambang minyak di Kazakhstan, ekspor aneka jenis barang, dan bersama sejumlah mitranya dari Australia, Jepang, dan Eropa ia juga akan turut mendirikan sebuah konsorsium engineering berdimensi high technology. Perusahaan baru itu akan diluncurkan awal Agustus nanti.
Di luar jabatan Ketua Komite Rusia di Kadin, pria kelahiran Solo, 15 Maret 1949, ini juga menduduki kursi Ketua Ikatan Persahabatan Indonesia-Rusia. Karena urusan persahabatan itu pulalah ia mengenal banyak orang Rusia, mulai dari para model yang cantik-cantik, pengusaha kaya-raya, pejabat militer, pejabat di pucuk Kremlin, hingga para seniman. Tak cuma di Rusia, Djody juga akrab dengan sejumlah pengusaha dan artis di kawasan Eropa Timur.
Di rumahnya yang luas dan asri di Jakarta Barat itu, ia memajang lukisan Vladimir Vilikovic, pelukis kenamaan dari Yugoslavia, negeri yang kini pecah berkeping-keping oleh perang saudara. Lukisan selebar satu setengah meter dan panjang tiga meter itu bercerita tentang pria yang lari lewat jendela rumah dalam keadaan telanjang. Djody membeli lukisan itu pada 1980-an dari tangan pelukisnya sendiri seharga US$ 500 ribu. Mahal memang. Tapi, "Suatu saat bisa dijual lagi," katanya.
Sahabat banyak dan usaha seabrek di Rusia tak urung mengundang syak wasangka juga ke alamat Djody. Ia disebut-sebut kecewa berat karena tak diajak dalam negosiasi pembelian Sukhoi itu. Sejumlah sumber juga menyebutkan ia sudah lama mengincar bisnis pesawat tempur dari negeri Lenin dan Tolstoy itu. Ketika Abdurrahman Wahid duduk di kursi presiden, Djody disebut-sebut berusaha merayu sang Presiden membeli sejumlah peralatan tempur Rusia. Berikut petikan lengkap wawancara dengan tokoh "Kantata Takwa" itu.
Anda dan Rizal Ramli tiba-tiba walk-out dari rapat dengan Panitia Kerja Komisi I DPR. Bisa Anda ceritakan situasi sidang saat itu?
Belum lama duduk, anggota panja sudah saling melempar argumen tentang jenis rapat itu: apakah rapatnya tertutup atau terbuka. Yang saya tangkap dari debat mereka, mayoritas anggota komisi menghendaki rapat itu dilakukan secara terbuka. Hampir semua fraksi yang ada, seperti Fraksi Golkar, Fraksi Reformasi, dan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sangat menginginkan rapat itu terbuka. Karena debatnya alot, mereka lalu melakukan lobi kurang-lebih sekitar 20 menit. Eh, dari lobi-lobi itu keluar keputusan bahwa rapatnya tertutup. Apa gunanya bagi kami kalau rapatnya tertutup? Lebih baik pulang saja.
Apa gunanya juga bagi Anda kalau rapatnya terbuka?
Saya ini disebut-sebut sebagai orang yang sakit hati dengan transaksi pesawat Sukhoi itu. Jabatan saya adalah Ketua Komite Indonesia-Rusia di Kadin. Tugas utama saya adalah menjembatani hubungan dagang antara kedua negara, apa pun bentuk dagangnya, termasuk counter trade. Di luar posisi itu, saya punya bisnis di Rusia. Orang pasti menduga saya ikut dalam urusan Sukhoi ini, atau saya protes hanya karena sakit hati. Saya ingin meluruskan semua itu dalam forum terbuka. Saya berkepentingan agar nama saya bersih.
Dalam surat panggilan, apakah disebutkan jenis rapatnya terbuka?
Mereka menyampaikan kepada kami bahwa rapatnya akan terbuka. Silakan tanya kepada Effendy Choirie, Happy Bone Zulkarnaen, dan beberapa orang di Komisi Pertahanan dan Keamanan DPR. Hampir seluruh anggota komisi itu menghendaki rapatnya berlangsung terbuka. Yang menghendaki rapat ini tertutup adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Apa kepentingan mereka? Saya tidak tahu.
Jika diberi kesempatan, apa saja yang akan Anda jelaskan di depan panitia kerja?
Pertama, saya ingin meluruskan prosedur dagang antara Indonesia dan Rusia. Kedua, saya bicara soal regulasi dalam perdagangan Indonesia-Rusia yang sudah berlaku selama ini. Selain itu, ada banyak hal lain yang mau saya bicarakan di depan panja seputar pembelian Sukhoi ini.
Misalnya?
Semua itu akan saya beri tahukan kepada Anda setelah bertemu dengan panja, 7 Juli ini. Surat panggilan untuk pertemuan itu baru juga datang. Saya jamin akan membuka semuanya
Kalau rapatnya tertutup, Anda akan walk out lagi?
Saya mau datang, tetapi setelah itu saya minta diadakan konferensi pers.
Regulasi apa saja yang mau Anda sampaikan di depan sidang itu?
Pertama, Kadin sama sekali tidak tahu-menahu mengenai kesalahan prosedur dalam transaksi ini. Prosedur dagang itu jelas tertera dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 Pasal 16 Ayat 6. Kedua, kami sangat menyayangkan bahwa counter trade ini di-back-up oleh anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Bukankah counter trade itu amat membantu kita?
Ya, tapi kalau di-back-up oleh APBN, anak pinggir jalan atau penggembala kambing juga bisa melakukannya. Sebab, dijamin oleh APBN. Kalau dijamin oleh negara, anybody can do the counter trade. Ini apa-apaan? Apa gunanya?
Ada hal lain yang janggal dari transaksi Sukhoi ini?
Hal lainnya adalah, apakah benar bahwa barang-barang dalam counter trade itu masuk ke Rusia. Semuanya harus dicek.
Memang ada kecurigaan bahwa barang-barang itu tidak masuk ke Rusia?
Nanti saya beri tahu setelah bertemu dengan Panitia Kerja DPR pekan depan. Pokoknya tunggu sajalah.
Anda takut jika disampaikan sekarang?
Ibarat perang, masa semua senjata ampuh saya keluar di awal-awal, ha-ha-ha…. Saya hanya ingin meluruskan counter trade ini. Pokok soalnya, mengapa mesti dijamin oleh APBN. Kadin enggak pernah begitu selama ini. Apalagi yang namanya kelapa sawit. Minyak kelapa sawit itu bisa laku dijual di bursa New York, ngapain dibawa-bawa ke Rusia? Kalau dijual tanpa harus lewat mekanisme counter trade, minyak kelapa sawit juga sangat laku di Rusia, karena mereka memang sangat membutuhkannya. Kalau dijamin oleh APBN, mengapa enggak bayar langsung saja? Itu saja kepedulian kami pada kasus ini. Lain tidak.
Anda kabarnya punya agenda politik, ingin menjatuhkan atau menggerus legitimasi Megawati sebelum Pemilihan Umum 2004?
Kami tidak berkepentingan dengan masalah politik seperti impeachment atau interpelasi. Kami juga tidak mau Megawati jatuh karena kasus ini. Cuma, semua prosedur harus ditaati.
Dalam kasus counter trade pesawat Sukhoi ini, apakah Indonesia cukup diuntungkan?
Tidak menguntungkan sama sekali.
Alasannya?
Rusia tidak menginginkan counter trade. Saya tahu persis itu. Yang saya tahu, Rosoboronexport itu enggak mungkin counter trade, kok. Kalau counter trade, seharusnya tidak di-back-up oleh APBN. Ini kan sama saja dengan saya memberikan pinjaman kepada Anda, tetapi uang pinjaman itu dijamin oleh APBN. Itu kan sama saja dengan uang pinjaman itu milik pemerintah. Mestinya IMF boleh teriak-teriak, karena uang dia yang di APBN itu. Nah, kalau sampai transaksi seperti ini di-back-up oleh APBN, artinya ada faktor "X"-nya.
Bisa Anda ceritakan selengkapnya?
Faktor "X" itu yang akan kami buka semua setelah bertemu panja. Saya kira ada potong kompas dalam prosedurnya. Beberapa waktu lalu Rini Soewandi (Menteri Perindustrian dan Perdagangan—Red.) bilang bahwa dia akan bertanggung jawab atas transaksi ini. Sekarang melempem dan bilang bahwa transaksi ini atas petunjuk Ibu Presiden. Kasihan dong Mbak Mega-nya.
Jadi, menurut Anda ada permainan di tingkat menteri?
Saya tidak menuduh ada permainan. Tapi ini suatu konsep yang bisa dikategorikan sebagai kebohongan publik. Saya tidak menuduh ada mark-up dan sebagainya.
Harga Sukhoi ini kata pemerintah lebih murah dari harga yang dibeli oleh Malaysia. Jadi, kita mestinya untung dong.
Ada yang bilang bahwa kita mendapat harga yang lebih murah dari Rusia. Itu namanya bodoh. Mengapa? Karena pesawat Sukhoi yang dibeli Malaysia itu sudah diubah. Spesifikasi kokpitnya sudah diubah semua. Jadi, jelas lebih mahal. Sedangkan kita sama dengan India, yang tidak melakukan perubahan apa-apa. Tolong beri tahu tuh pejabat di Departemen Perindustrian dan Perdagangan itu (Djody menyebut nama pejabat tinggi di sana—Red.), jangan ngomong kayak begitu. Rini Soewandi sebagai menteri jangan ikut ngomong salah kayak gitu juga. Dan jangan sampai juga TNI kita ikut ngomong bahwa harganya murah. Kasihan dong TNI kita.
Bisa dijelaskan lebih rinci perbedaan antara Sukhoi yang dibeli Malaysia dan Indonesia?
Pesawat yang kita beli itu kokpitnya sangat standar. Biasa saja. Yang dibeli oleh Malaysia kokpitnya sudah diubah mengikuti spesifikasi Eropa dan Amerika. Jadi, kalau dibilang murah, ya murah kayak apa? Kita itu konsepnya kayak India.
Model India itu seperti apa?
Ya, standar saja. Tidak ada perubahan apa-apa.
Sebagai Ketua Kadin Komite Rusia, apakah Anda pernah mendiskusikan soal dengan beberapa pengusaha Rusia dalam soal ini? Bagaimana tanggapan mereka?
Mereka merasa aneh saja. Selain Ketua Kadin Komite Rusia, saya juga Ketua Ikatan Persahabatan Indonesia-Rusia. Di Indonesia, anggota ikatan itu adalah para alumni Rusia, dan jumlahnya tidak banyak. Tapi, di Rusia, jumlah anggotanya banyak sekali, dan banyak sekali yang sukses menjadi pengusaha besar, menjadi konglomerat Rusia yang sudah gede. Mereka melihat, pembelian empat unit ini untuk apa? Mengapa tidak meniru yang sudah dilakukan oleh India, yang membeli Sukhoi empat skuadron? Kita bisa meniru India membuat semi-knock-down, bekerja sama dengan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).
Sebagai Ketua Komite Rusia, Anda kabarnya sudah lama mengintip peluang bisnis dengan Rusia ini, terutama peralatan militer?
Waktu zaman Gus Dur (mantan presiden Abdurrahman Wahid), saya sudah mengingatkan agar melirik peralatan militer Rusia. Saya ingatkan lewat Menteri Pertahanan dan Keamanan saat itu, Pak Mahfud Md. Tapi bukan untuk membeli Sukhoi, melainkan mulai melihat peralatan militer negeri itu. Sebab, kita terus-terusan diembargo Amerika Serikat.
Selama ini, bagaimana tren perdagangan Indonesia dengan Rusia?
Saat saya menjadi Ketua Komite Indonesia-Rusia, tren perdagangan kita sedang menurun. Nah, sekarang sedang kita tingkatkan. Barang-barang yang diperlukan oleh Rusia dari Indonesia memang tidak banyak, tapi mereka sangat memerlukannya. Misalnya kelapa sawit, cokelat, kopi, garmen, dan sepatu. Dari Rusia ke Indonesia masih sangat kecil volumenya.
Anda sepertinya sakit hati karena tidak dilibatkan pembelian Sukhoi ini?
Sakit hati sebagai orang Kadin karena tidak diberi tahu, itu saja. Saya sudah bicara dengan Aburizal Bakrie (Ketua Umum Kadin). Dia bilang, "Sudahlah, enggak usah ikut campur." Sejak awal kami sudah tahu bakal bermasalah. Kita tidak ingin campur secara legal, tapi secara prosedural saja. Katanya ada Kamar Dagang Komite Rusia-Indonesia yang bekerja sama dengan Direktur Jenderal Perdagangan. Tapi mengapa Deperindag bawa pengusaha sendiri?
Anda boleh tanya, teman-teman di Kadin itu punya file bahwa, pada setiap pertemuan dengan negara lain, pemerintah selalu membawa pengusaha sendiri. Kita enggak diajak ke Moskwa, ke Polandia juga tidak diajak, karena Deperindag membawa pengusahanya sendiri. Saya sangat yakin ada seorang pejabat Orde Baru di Deperindag yang menjadi mastermind semua ini. Orang ini pikir dia masih bisa memakai pola Orde Baru. Dia enggak sadar bahwa sudah zaman reformasi. Rini Soewandi tidak tahu banyak. Kasihan juga dia.
Orang menuding Anda sakit hati karena telah lama Anda juga mengincar bisnis ini?
Enggak benar itu. Saya punya banyak bisnis di Rusia, dan cukup mapan semuanya. Saya sendiri enggak berani mengambil bisnis seperti Sukhoi ini. Saya cuma mendapat komplain dari teman-teman Kadin di Komite Rusia dan Eropa Timur lainnya yang merasa tidak diajak bicara soal komoditas itu. Saya hanya ingin memayungi anggota-anggota saya supaya mereka dapat berusaha dengan baik.
Sejak kapan Anda berbisnis ke Rusia?
Tahun 1982 saya sudah diperintahkan berbisnis di luar negeri. Yang memerintahkan saya saat itu adalah Pak Benny Moerdani. Alasannya, saat itu beliau bilang tidak ada kesesuaian dengan keluarga Pak Harto. Sejak saat itu saya mulai menjajaki bisnis ke Eropa Timur, termasuk Uni Soviet yang kini jadi Rusia itu.
|