Membunuh Pengganggu Konsentrasi Iklan "pop-up" di Internet kian menjengkelkan. Ada banyak program untuk melumpuhkannya.
|
INGGRID Li bukan pengguna Internet fanatik. Tapi, sebagai staf pemasaran perusahaan garmen di Jakarta Selatan, ia sempat membuka beberapa situs web setiap harinya. Ia mengaku paling kesal dengan jendela baru yang tiba-tiba muncul menutupi halaman web yang sedang dibacanya. "Kesabaran kita sudah diuji dengan lamanya web itu terbuka, eh, tiba-tiba muncul kotak kecil yang menawarkan entah produk apa," ujarnya.
Apa yang dialami Inggrid bisa menimpa siapa saja. Dalam industri periklanan, kotak kecil itu disebut iklan pop-up.
Bagi banyak pengguna Internet, iklan pop-up merupakan gangguan yang mesti dilenyapkan. "Jangankan membaca isinya, melihat kemunculannya saja sudah kesal," Inggrid menambahkan.
Karena alasan itulah beberapa pemilik situs melarang iklan pop-up tampil di halaman web mereka. Situs berita Detikcom, misalnya. Menurut Budiono Darsono, Pemimpin Redaksi Detikcom, sejak awal, perusahaannya tidak memasukkan iklan pop-up sebagai item jualan. Alasan Budiono, iklan jenis ini tak cocok untuk situs berita. "Kami situs berita. Kemunculan iklan pop-up akan sangat mengganggu konsentrasi pembaca," katanya.
Selain itu, menurut Budiono, iklan pop-up tidak efektif karena sudah telanjur tertanam dalam benak pengguna bahwa jendela yang terbuka tiba-tiba dan menghalangi, bahkan menutupi, jendela yang aktif itu sangat mengganggu. Akibatnya, orang menjadi antipati, sehingga begitu popup muncul mereka langsung menutupnya.
Sebaliknya, bagi pemasang iklan, iklan jenis itu justru menjadi favorit. Stu Ginsburg dari Interactive Advertising Bureau, mengatakan, "Banyak riset kami yang menunjukkan pop-up merupakan format iklan yang paling efektif." Itu mungkin karena iklan pop-up lebih memancing perhatian ketimbang iklan spanduk (banner) yang menetap.
Bisa jadi tingkat kekesalan terhadap iklan pop-up setara dengan spam—surat elektronik sampah. Betapa tidak, banyak perusahaan pembuat peranti lunak kini menawarkan program pembunuh pop-up. Popup Stopper v3.01 dari Panicware Inc., yang bermarkas di Seattle, misalnya, dapat di-download gratis di Internet. Tapi edisi gratis berkemampuan terbatas. Jika ingin feature lengkap, harap membeli seharga US$ 20-US$ 40 (Rp 160 ribu-Rp 330 ribu).
Program lain adalah Zero Popup Killer v7.0 dari Tooto Technologies di Pennsylvania. Ini bahkan yang paling direkomendasikan oleh Popup Killer Info, situs Norwegia yang mengulas program-program penolak pop-up. Dengan US$ 25, program ini dapat membunuh iklan pop-up tanpa perlu campur tangan pengguna.
Perang tak berhenti di situ. Beberapa peranti lunak penjelajah Internet (browser) juga telah memasang menu penolak pop-up. Misalnya Netscape 7.01 dari Netscape-AOL Time Warner atau browser open source Mozilla. Bahkan Safari—browser anyar Apple Computer Inc.—memiliki fasilitas ini.
Yang mutakhir, pada 27 Juni lalu, Google Inc. menerbitkan fasilitas pencegah pop-up di dalam Google Toolbar 2.0 Beta mereka. Google Toolbar adalah perangkat tombol menu khusus yang ditempelkan pada browser. Tapi fasilitas pencegah pop-up itu hanya berfungsi pada Microsoft Internet Explorer 5.5 ke atas.
Google, pembuat mesin pencari (search engine) yang berkedudukan di Mountain View, California, Amerika Serikat, menggolongkan iklan pop-up sebagai barang haram. Untuk pemasang iklan, Google menawarkan WordAd, yang tampilannya mirip item hasil pencarian, lengkap dengan ulasan singkat produk dan link-nya. WordAd ditempatkan di sisi kanan halaman.
Menurut Google, ada beberapa kemungkinan penyebab munculnya pop-up. Ada yang sengaja dipasang pemilik situs. Beberapa situs populer, seperti The New York Times dan ABCNews, menerapkan iklan jenis ini. Sedangkan situs Popular Mechanics, New Scientist, atau Scientific American menggunakan pop-up untuk mengiklankan diri sendiri. Ada lagi program gratis, misalnya BearShare atau AudioGalaxy, yang jika dipasang di komputer mengikutkan program lain—contohnya Gator—yang dalam periode acak akan menampilkan beragam pop-up.
Sebenarnya pop-up tak selalu berupa iklan. Beberapa program kerap memakainya untuk berinteraksi dengan penggunanya. Karena itu, Google Toolbar 2.0 memungkinkan penyeleksian pop-up. Yang termasuk "daftar putih" tetap dapat ditampilkan.
Di Amerika Serikat, soal pop-up memperoleh tanggapan serius dari pemerintah. Jika seseorang merasa tercurangi karena program yang di-install-nya kemudian menciptakan iklan pop-up, ia dapat mengirimkan keluhan ke Komisi Perdagangan Federal (FTC). Perusahaan program dapat dianggap melakukan praktek bisnis tak jujur.
Bagaimana jika program pembunuh pop-up masih kecolongan? Google berjanji membantu, tapi khusus untuk pop-up yang muncul di situs mereka. Anda tinggal mengirimkan surat elektronik serta uniform resource locator (URL atau alamat Internet) dari pop-up itu, dan Google akan membatu menyelidikinya. Itu kalau Anda tak merasa kerepotan.
Dody Hidayat
|