|
TEMPO Edisi 23-29 Juni 2003 lalu memuat wawancara Letnan Jenderal Agus Widjojo. Beliau menyatakan antara lain, ”Kita pernah sukses dalam perang melawan Darul Islam (DI) di Jawa Barat. Waktu itu strategi yang kita gunakan adalah pagar betis, rakyat dipisahkan dari gerilyawan. Hasilnya kita menang....”
Hanya, sebetulnya diperlukan penjelasan, berapa lama rakyat dapat dipisahkan dari gerilyawan. Sebagaimana kita ketahui, Darul Islam (DI) diproklamasikan oleh Kartosuwiryo pada 1949/1950 di daerah Gunung Syawal, Jawa Barat. Dan pagar betis dilaksanakan pada tahun 1959/1960. Artinya, dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun.
Sebagai anggota TNI Angkatan Udara (AURI), saya pernah bertugas sebagai Komandan Polisi Angkatan Udara di Pangkalan Udara Cibeureum, Tasikmalaya, yang letaknya hanya beberapa kilometer arah tenggara Kota Tasikmalaya. Seluruh anggota AURI selama sekitar 40 hari harus rela tidak tidur di rumah, dan setiap malam bertugas di pangkalan. Saya bertugas di sana sejak 1953 sampai 1956.
Setiap akan dinas ke Bandung (Husein Sastranegara), kami memilih via Singapura-Garut-Nagrek-Bandung daripada rute Ciawi-Malangbong-Nagrek-Bandung. Meskipun lebih jauh, rute itu lebih aman. Itu pun harus dengan perhitungan berangkat sesudah pukul 08.00 pagi dan diharapkan sampai tujuan sebelum pukul 14.00, karena sore sampai pagi gerombolan DI menguasai beberapa titik medan sepanjang rute perjalanan.
Perlu pula dicatat bahwa pada dekade 1950-1960, perjalanan kereta api Bandung-Tasikmalaya selalu dengan pengawalan, di depan lokomotif dan di belakang rangkaian kereta. Pengawalan dilakukan oleh kendaraan panser yang telah dimodifikasi dengan roda di atas rel.
Mengacu pada pengalaman itu, berapa lama kira-kira Aceh dapat dikembalikan menjadi daerah aman?
SUDIBJO
Kompleks TNI-AU Waringin Permai
Jalan Wiraloka Blok D-7, Cipinang Melayu
Jakarta Timur
|