|
Di zaman Sukarno, yang diutamakan dapat masuk ke perguruan tinggi adalah mereka yang encer otaknya walau dia anak seorang tukang kelapa. Di zaman putrinya berkuasa, anak tukang kelapa rasanya sangat mustahil dapat masuk ke perguruan tinggi, apalagi negeri, biarpun si anak memiliki otak sekaliber Einstein.
Impian agar suatu masa nanti anaknya bisa jadi insinyur, dokter, ekonom, atau hakim akan sulit diwujudkan karena pendidikan di negeri ini amat mahal.
Sejauh ini pemerintah juga tampak tak bisa berbuat apa-apa terhadap jalur khusus yang diterapkan di berbagai perguruan tinggi. Itu artinya yang bisa duduk di bangku universitas bukan lagi keluarga orang kaya, jutawan, melainkan ”miliarwan”. Fantastis. Itulah wajah pendidikan kita. Pendidikan bukan lagi untuk mencerdaskan bangsa, tapi sudah menjadi ladang bisnis.
TAUFIK KARMADI
Cengkareng, Jakarta
|