Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXII/07 - 13 Juli 2003
   
Surat

Mahalnya Pendidikan

Di zaman Sukarno, yang diutamakan dapat masuk ke perguruan tinggi adalah mereka yang encer otaknya walau dia anak seorang tukang kelapa. Di zaman putrinya berkuasa, anak tukang kelapa rasanya sangat mustahil dapat masuk ke perguruan tinggi, apalagi negeri, biarpun si anak memiliki otak sekaliber Einstein.

Impian agar suatu masa nanti anaknya bisa jadi insinyur, dokter, ekonom, atau hakim akan sulit diwujudkan karena pendidikan di negeri ini amat mahal.

Sejauh ini pemerintah juga tampak tak bisa berbuat apa-apa terhadap jalur khusus yang diterapkan di berbagai perguruan tinggi. Itu artinya yang bisa duduk di bangku universitas bukan lagi keluarga orang kaya, jutawan, melainkan ”miliarwan”. Fantastis. Itulah wajah pendidikan kita. Pendidikan bukan lagi untuk mencerdaskan bangsa, tapi sudah menjadi ladang bisnis.

TAUFIK KARMADI

Cengkareng, Jakarta


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data