Jejak Langkah di Tepian Sungai Perupa dari berbagai sanggar 1960-an berpameran di Plataran Djoko Pekik. Percobaan mengenang dan melupakan. Semuanya selesai melalui proses. |
DI tepi Kali Bedog, Bantul, Yogyakarta, malam itu sekawanan "samurai" dari masa lampau seni rupa Indonesia berhimpun setelah menempuh perjalanan panjang. Mereka tak lagi lengkap, memang. Sebagian telah ditelan zaman: berangkat ke alam baka, dengan atau tanpa tapal penanda. Sebagian yang hadir pada Sabtu malam dua pekan lalu itu pun tak lagi utuh, "compang-camping" oleh usia dan luka sejarah yang serba tak mudah.
"Saya tak pernah membayangkan pertemuan ini bisa terjadi," kata Djoko Pekik sambil memintal jenggot tipisnya yang berantakan. Di atas panggung kecil yang memunggungi Kali Bedog, pelukis berusia 65 tahun itu tak kuasa membendung air matanya. "Saya tak pernah membayangkan bisa menghimpun para senior saya dalam pameran bersama," si empunya hajat itu menambahkan.
Pekik, yang didampingi istrinya, Ch. Tini Purwaningsih, malam itu sibuk luar biasa. Tidak saja karena harus menjamu ratusan tamu, menanggap kelompok kesenian tradisional dan para penabuh gamelan dari Keraton Yogyakarta, tapi juga karena harus mendandani areal Plataran Djoko Pekik seluas 2,5 hektare di Desa Sembungan, Kasihan, Bantul, itu sampai memasang ratusan lampu minyak hingga ke dahan dan ranting hutan bambu di sekujur tepian sungai.
Demikianlah, pembukaan "Jejak Langkah: Pameran Seni Rupa Era 60-an" itu bak pasar malamatau mungkin lebih tepat: selamatan desayang bergulir tanpa acara ketat, meski dilampiri pidato budayawan G. Sindhunata S.J. dan Goenawan Mohamad. Didahului pemukulan beduk, pameran dibuka gending Celeng Mogog dalam iringan gamelan Jawa. Rombongan Sahita Dancers Surakarta menyuguhkan Inggut-Inggut Ledek Mbarangan yang kocak, disusul pantomim Reza dan Tejo Badut. Belakangan, tampil rombongan Nini Thowong dari Desa Bundong dengan boneka kayu yang menari-nari, dan justru makin binal ketika dipegangi oleh Goenawan Mohamad dan penyair Sitok Srengenge
.
Diikuti 32 perupa, pameran yang berlangsung hingga 7 Juli ini memajang 73 karya di tiga bangunan terpisah, sebagian besar lukisan. Tak semua perupa bisa hadir. Fadjar Sidik, 73 tahun, misalnya, tak lagi kuat keluar malam. Begitu pula Gregorius Sidharta, 71 tahun, atau Rusli, 84 tahun. Tatang Ganar, 67 tahun, sudah dibatasi geraknya oleh kursi roda sehingga sulit meninggalkan Bandung. Bahkan Wardoyo, Sanggar Bambu, menutup mata justru sepekan sebelum pameran dibuka, pada usia 68 tahun. Tapi lihatlah: Bagong Kussudiardjo, 71 tahun, Edhie Sunarso, 71 tahun, Soenarto Pr, 72 tahun, dan Sudarso, 89 tahun, masih tampil di tengah hajatan, meski harus ditopang tongkat.
Inilah pameran para sepuh dengan usia minimal berkepala enam. Kangen-kangenan? Ya dan tidak. Lebih dari sekadar melepas rindu, pameran yang digagas Djoko Pekik selama setahun terakhir ini sekaligus berniat mengungkai benang kusut warisan masa silam yang keruh: mempertemukan para anggota berbagai sanggar seni rupa 1960-an, yang sempat terpilah-pilah oleh silang sengkarut percaturan politik Tanah Air. "Di usia senja kami, saya ingin mengukuhkan kembali tali silaturahmi. Sebab, dulu juga pada dasarnya kami hidup dalam kebersamaan," kata Pekik.
Riuh-rendah jagat politik 1960-an tak urung mengimbas ke wilayah penciptaan, termasuk seni rupa. Inilah pula era sanggar, ketika para perupa tak bisa menyerahkan pencarian keseniannya semata-mata kepada lembaga pendidikan formal, yang juga sangat terbatas pada masa itu. Di Yogyakarta, misalnya, Akademi Seni Rupa IndonesiaASRI, kelak menjadi Institut Seni Indonesiatak cukup kuat menampung hasrat berkesenian para siswanya. Lahirlah berbagai sanggar yang sebagian besar anggotanya juga belajar di ASRI.
Berbeda dengan di lembaga pendidikan formal, dengan pola hubungan "patron-klien" yang lumayan kuat, sanggar membuka pola hubungan "empu-cantrik" yang mutualistis dan egaliter. "Kuatnya komunalitas dan perikehidupan seniman dalam sanggar mendorong kelompok kepentingan politis-ideologis untuk terjun ke dalamnya," demikian ditulis Hendro Suseno, koordinator pameran. Sanggar-sanggar awal seperti Seniman Indonesia Muda dan Pelukis Rakyat, dengan nama-nama besar S. Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan, atau Sudarso, kelak sekaligus merepresentasikan pengelompokan dan "keterpilahan" para penggiat seni yang seolah-olah harus dihadapkan pada pilihan: "seni untuk seni" atau "seni untuk rakyat".
Kemudian muncul figur Sukarno, presiden karismatik yang dekat dengan para pelukis dan seolah menaruh perhatian khusus pada kelompok perupa yang digolongkan "kiri", meski harus diingat, sang Presiden tak pernah menyerahkan pengelolaan lukisan-lukisan Istana ke tangan perupa anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Bahwa pilihan tak selalu harus hitam-putih ditunjukkan oleh Sanggar Bambu, yang didirikan Soenarto Pr bersama antara lain Wardoyo dan Danarto. Kelak, dari kubu "nasionalis" muncul berbagai sanggar dengan nama khas masa itu: Banteng Lanang, Kuda Binal, Bima Sakti, Merah-Putih, dan Klenting Kuning.
Panorama sanggar semakin semarak ketika beberapa perupa yang digolongkan "kiri" seperti tak puas dengan Pelukis Rakyat, lalu mendirikan Sanggar Bumi Tarung. Mereka adalah Amrus Natalsya, Misbach Thamrin, Issa Hasanda, Djoko Pekik, antara lain. Amrus, kini 70 tahun, pada masa itu tampil sebagai pematung kayu yang mencengangkan, yang memasang sendiri patungnya di halaman ASRI sehingga terlihat oleh Presiden Sukarno yang sedang berkunjung ke "sekolah" itudan langsung membelinya. Sanggar memasuki masa redupnya setelah "gempa politik" 1965, sehingga periode Orde Baru lebih banyak mengenal "sanggar" tari jaipongan dan kebugaran jasmani.
Di tepi Kali Bedog, yang bertemu dengan Kali Kontheng di sekitar Plataran Djoko Pekik, berkumpullah para eks anggota sanggar dan para perupa "independen" masa lalu itu, masing-masing dengan karyanya. "Di sini tidak ada rekonsiliasi, maaf-maafan, atau salam-salaman. Semuanya selesai melalui proses," kata Amrus Natalsya kepada TEMPO. "Inilah bedanya dunia politik dan kesenian," anggota Akademi Jakarta itu menambahkan. Amrus dalam pameran ini memajang lukisannya, Pecinan, yang ditatah di atas kayu trembesi berukuran 1,85 x 8 meter. Jaya Suprana, yang "tersesat" ke acara itu dan sempat mengusili beberapa perupa, langsung menabalkan Pecinan sebagai lukisan kayu terpanjang dalam catatan Museum Rekor Indonesia.
Peristiwa malam itu, menurut Goenawan Mohamad dalam sambutannya, merupakan percobaan untuk mengenang dan melupakan. Mengenang yang baik dan melupakan sebab-musabab bencana. "Yang menyebabkan bencana adalah penyelesaian konflik dengan kekerasan, dan sikap tidak toleran terhadap perbedaan," katanya. Sebagian peserta pameran ini belakangan memang menjalani sejarahnya yang sunyi, walaupun, menurut Hendro Suseno, "Mereka tetap penjelajah kreatif yang patut diapresiasi dan dihormati."
Kelemahan dokumentasi menyebabkan sebagian besar perupa menyertakan karya mutakhir. Itu sebabnya lukisan Mulyadi W., Gadis Model (1959), Kustiyah E.S., Kampung (1960), dan Kartika, Potret Diri Hamil (1962), langsung terasa "menyengat" oleh aroma sanggarnya yang kuat. Djoko Pekik, tanpa diduga, memajang Dik Titik, karya 1960 yang ditemukan dan ditebusnya dari seorang kolektor amatir beberapa tahun silam. Lukisan ini membuktikan Pekik bukan cuma pintar menggambar "serial celeng" yang mahal-meriah itu. Menarik pula mengamati lukisan Sudarso, Wulan. Dibuat dua tahun lalu dan masih kuat merepresentasikan "gaya Pak Darso", warnanya kini terasa lebih "gaul".
Ketergodaan menggarap tema aktual membuat beberapa lukisan terasa "genit". Tengoklah Tragedi Perang (Misbach Tamrin, 2003), atau, nah: Inul Bagaikan Elang Rajawali (Soenarto Pr, 2003). Sebaliknya, dari Tatang Ganar, yang selama ini banyak menyuguhkan potret perempuan, bunga, pantai, dan gunung, hadir Kamarku (1969), yang memanfaatkan ruang sempit horizontal dan warna terbatas dengan kemampuan mencekam. Bagian dari "sejarah sunyi" sejumlah peserta pameran ini seperti diwakili oleh lukisan Permadi Liosta, Remaja Pulau Buru (1982). Seperti biasa, Permadi selalu teliti dalam detail dan hampir sempurna dalam bentuk.
Amarzan Loebis, L.N. Idayanie (Yogyakarta)
|