Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXII/07 - 13 Juli 2003
   
Olahraga

Kejutan Pasukan Ungu

Bermodal kostum murah, kesebelasan Persik Kediri untuk sementara menguasai Liga Indonesia.

LIGA sepak bola Indonesia tak berbeda dengan kincir air. Sejak liga ini bergulir delapan tahun silam, tak satu pun tim mampu bertahan di posisi puncak dalam waktu lama. Penghuninya silih berganti. Tak jarang tim yang pernah berjaya di arena ini (contohnya Persebaya Surabaya) tiba-tiba terperosok begitu dalam ke divisi satu. Sebaliknya, tim yang tak pernah diperhitungkan bisa menyodok ke atas. Dan kesebelasan Persik Kediri, Jawa Timur, merupakan kejutan terbesar musim ini. Tak pernah dibayangkan sebelumnya, tim yang bermarkas di Stadion Brawijaya ini bisa menguasai posisi pertama klasemen sementara.

Menjelang musim berputar, nama Persik Kediri nyaris tak diperhitungkan. Layaknya klub yang baru pertama kali masuk ke divisi paling elite dalam sepak bola Indonesia, targetnya tak muluk-muluk. Tidak terlempar kembali ke divisi di bawahnya sudah merupakan keuntungan besar. Tapi justru dengan beban yang ringan, tim berjulukan "Macan Putih" ini bisa tampil perkasa dan mampu membabat tim-tim yang telah lama malang-melintang di liga utama.

Rahasianya? Menurut manajer tim Persik, Iwan Budianto, salah satu faktor yang menyebabkan Persik melambung adalah adanya dukungan dari semua lapisan masyarakat. Sokongan itu datang dari pejabat, pengusaha, politikus lokal, bahkan para kiai dan santrinya. Karena suntikan ini, para pemain berusaha tampil sehebat mungkin. "Mereka takut mengecewakan warga Kota Kediri," kata Iwan.

Dukungan dari pemerintah daerah berupa pembangunan Stadion Brawijaya. Setelah Persik masuk ke divisi utama, stadion ini langsung dibenahi. Apalagi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia sempat menilai markas Persik ini tak layak untuk dipakai dalam ajang liga. Alhasil, mereka pontang-panting mempercantik stadion.

Hasilnya lumayan. Stadion yang semula cuma muat untuk 15 ribu penonton itu jadi mekar hingga mampu menampung 25 ribu penonton. Rumputnya juga segar. Tapi biaya yang dikeluarkan juga tak sedikit. Perbaikan stadion itu menelan biaya Rp 5 miliar, yang diperoleh dari kas anggaran pendapatan dan belanja daerah kota itu plus bantuan dari pihak lain.

Suntikan dana juga datang dari perusahaan rokok Gudang Garam, yang memang mondok di sana. Buat perusahaan besar ini, mengucurkan duit buat klub macam Persik tentu bukanlah masalah. Pada 2001, mereka setidaknya memberikan dana Rp 450 juta. Fulus segede itu dipakai untuk membenahi Stadion Brawijaya dan buat persiapan mengikuti putaran kompetisi divisi I.

Tak lama kemudian, karena prestasi Persik juga bagus, duit yang keluar makin gampang saja. Perusahaan rokok itu melempar dana Rp 1 miliar. Kompensasinya, pabrik ini berhak memasang iklannya di Stadion Brawijaya dan di kostum pemain Persik. "Kontribusi dana yang kami berikan semata-mata karena kami merasa sebagai warga Kediri yang harus mendukung prestasi tim kota ini, tanpa ada tekanan dari pihak mana pun," kata Slamet Budiono, Wakil Kepala Divisi Umum Gudang Garam. Kalau dihitung-hitung, secara komersial, kerja sama itu tidak menguntungkan karena beriklan di dalam kota sendiri tidak ada gunanya. "Bukankah image rokok kami telah melekat dengan Kota Kediri?" ucapnya lagi.

Tidak terlalu menguntungkan buat sponsor, tapi besar pengaruhnya bagi Persik. Uang yang mereka dapatkan itu cukup untuk membeli pemain baru yang segar dan bertenaga. Dalam setahun, untuk membeli pemain, Iwan mengakui, Persik telah menghabiskan dana Rp 1,25 miliar. Ia mensyaratkan pemain yang dibelinya harus merupakan pemain muda dan mau diajak bekerja keras.

Salah satu pilihan Persik jatuh pada pemain asal Nigeria, Bamidele Frank Bob Manuel, yang sebelumnya bermain di Persema dan Arema Malang. Pemain yang biasa dipanggil Bobby ini bergaji paling tinggi di tim Macan Putih. Tapi, menurut Iwan, umumnya gaji pemain Persik tidak terlalu besar. "Bobby saja gajinya enggak sampai Rp 30 juta," kata Iwan.

Di tim Macan Putih, lelaki kelahiran Lagos, Nigeria, 11 Maret 1976, itu cukup menonjol dan produktif. Sampai pekan lalu, dia sudah membuat 23 buah gol dan berada di peringkat kedua sebagai pemain paling subur, di bawah Oscar Aravena, pemain PSM Makassar. Bobby memang bukan pemain sembarangan. Di negaranya, bergabung dengan klub Udoji United tujuh tahun silam, dia pernah menjadi top scorer. Gara-gara itulah dia sempat terpilih masuk tim nasional Nigeria pada Olimpiade Atlanta 1996.

Tak pelak, Bobby menjadi besi berani yang mampu menarik penonton datang ke stadion. Setiap kali timnya bermain di kandang, bisa dipastikan Kota Kediri dipenuhi spanduk dan umbul-umbul berwarna ungu. Tiap spanduk yang ditemukan di ujung gang dan pinggir jalan bertuliskan nama kawasan lengkap dengan celoteh dan yel-yel kepada klub kebanggaan masyarakat Kediri ini. Kota Kediri pun bagai dikepung warna ungu. Bukan cuma Stadion Brawijaya yang dicat ungu, meja perkantoran juga berwarna ungu.

Ungu memang menjadi warna keramat. Tapi pemilihan warna ini bukan karena meniru klub asal Italia, Fiorentina, yang kini bubar. Semua itu bermula pada sebuah kejadian di ujung 2001. Ketika itu, Iwan Budianto, sang manajer, mendatangi sebuah toko olahraga. Tujuannya ingin mencari kostum yang pas. Namun Iwan, yang ditemani sejumlah pemainnya, kelabakan. Masalahnya, mereka cuma punya duit Rp 620 ribu. Duit ini tidak cukup untuk membeli dua set pakaian—untuk kostum kandang dan tandang.

Akhirnya mereka minta si pemilik toko mencarikan kostum paling murah yang ada di toko tersebut. Setelah si pemilik toko membongkar gudang, ditemukan seonggok kostum berwarna ungu yang telah bertahun-tahun tak disentuh. Karena kostum ini merupakan stok lama dan selama ini tak ada yang meminatinya, harganya murah sekali. Untuk satu set yang lain, mereka memilih warna sembarang—yang penting tak mahal, sehingga mereka bisa menebus dengan dana yang ada. "Itulah alasan mengapa kami memakai warna ungu sebagai warna kebesaran kostum kesebelasan Persik. Saat itu semata-mata karena untuk mencukupkan dana," kata Iwan Budianto. Karena kostum kebanggaannya itu, Persik tak cuma dijuluki Macan Putih, tapi juga "Pasukan Ungu".

Kendati berhasil berjaya di divisi utama, tim ini tetap tak bergelimang fasilitas mewah. Para pemainnya tidak tinggal di mes khusus. Mereka menginap di salah satu ruangan di lingkungan kantor Dinas Pendapatan Daerah Pemerintah Kota Kediri. Untuk latihan, Bobby dan kawan-kawan menggunakan lapangan umum Manis Renggo, yang biasa dipakai warga bermain sepak bola di sore hari. "Meskipun kami tak bisa memberi fasilitas khusus buat para pemain, saya bersyukur para pemain bisa memahami dan bisa menerima apa adanya," kata Iwan.

Telanjur sukses, manajemen klub Persik tak mau setengah-setengah. Kini mereka tengah berpikir untuk menggodok pemain-pemain muda yang akan disiapkan untuk memelihara kejayaan klub ini. Sasaran utamanya pemain muda yang berasal dari Kediri sendiri. Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Kediri. "Kami telah menyiapkan dana cadangan dari kerja sama dengan sponsor. Apa pun yang terjadi, kami tak akan mundur karena kekurangan dana," kata Maschut, Wali Kota Kediri, yang juga Ketua Umum Persik.

Irfan Budiman, Dwidjo Maksum (Kediri)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data