Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXII/07 - 13 Juli 2003
   
Opini

Membaca Peta Berkabut

Gencatan senjata Israel-Palestina kembali terancam aksi kekerasan. Antara "kekalahan" Ariel Sharon dan kredibilitas tipis Mahmoud Abbas.

KETIKA sebagian serdadu dan kendaraan perang Israel meninggalkan Bethlehem, Rabu pekan lalu, tersiratlah optimisme akan keberhasilan Peta Jalan Perdamaian yang disponsori kuartet Amerika Serikat-Rusia-Uni Eropa-PBB bagi penyelesaian konflik Israel-Palestina. Sasaran akhir yang dijanjikan peta perdamaian itu, yakni pembentukan negara Palestina pada 2005, bagaikan melambai-lambai di ufuk dekat. Optimisme itu makin berkibar setelah Israel melepaskan 53 tahanan Palestina keesokan harinya.

Proses menjelang penarikan mundur pasukan Israel ini memang merupakan hari-hari sangat sibuk di kawasan pertikaian itu. Pada Ahad pekan lalu kelompok militan Hamas dan Jihad Islam sepakat melaksanakan gencatan senjata sementara, diikuti kelompok Fatah beberapa jam kemudian. Keesokan harinya, menyusul kunjungan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Condoleeza Rice, ke Timur Tengah, Israel menarik sebagian pasukannya dari Jalur Gaza. Pada Selasa, Perdana Menteri Israel Ariel Sharon berpelukan dengan Perdana Menteri Palestina Mahmoud Abbas di Yerusalem. Lengkaplah rasanya panorama awal bagi hari depan yang teduh di bumi penuh sengketa itu.

Gencatan senjata, meskipun disepakati hanya berlaku tiga bulan, tetaplah isyarat yang harus disyukuri. "Tapi itu tak akan mengubah apa pun," demikian ditulis Hasan Abu Nimah di Jordan Times. Menurut mantan Duta Besar Yordania di PBB ini, Israel tak pernah menghitung gencatan senjata sebagai langkah memadai Palestina, kecuali sekadar kontribusi awal bagi implementasi Peta Jalan Perdamaian. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Letnan Jenderal Moshe Yaalon, memang menilai perkembangan pekan kemarin sebagai akhir konflik. Tapi kemudian ia menambahkan, "Ini pasti kemenangan Israel." Artinya, untuk Israel, paradigma "menang-kalah" masih faktor menentukan bagi sebuah perdamaian.

Di sisi lain, banyak pihak menilai penarikan mundur tentara Israel dari Bethlehem sebagai "kekalahan" Ariel Sharon. Dalam kenyataannya, langkah tokoh andalan Partai Likud ini justru menyerahkan "kartu" ke tangan Perdana Menteri Mahmoud Abbas, yang di kalangan Palestina biasa dipanggil Abu Mahzen. Meski berasal dari faksi Fatah, kelompok yang didirikan ikon pembebasan Palestina, Yasser Arafat, Abu Mahzen bukanlah tokoh yang terlalu berakar, apalagi berkuasa mengendalikan sayap-sayap militan bersenjata. Sebagai orang yang disetujui Israel dan direstui Washington, kewibawaan Abu Mahzen di kalangan rakyatnya sendiri tidak meyakinkan. Permohonannya kepada Israel untuk melepaskan Arafat dari "pasungan" saja tak digubris Sharon.

Isyarat tipisnya kredibilitas Abbas muncul hanya beberapa jam setelah polisi militer Palestina mengambil alih kendali Bethlehem: serangan roket kelompok militan ke permukiman Yahudi di Kfar Daroum, Jalur Gaza. Serangan ini, seperti biasa, segera disusul penangkapan sejumlah aktivis Palestina oleh militer Israel. Bahkan Kamis pekan lalu tentara Israel membunuh Mahmoud Shawer, asisten Ibrahim Mansour, pemimpin Brigade Martir Al-Aqsa di Qalqilya, Tepi Barat. Peta Jalan Perdamaian itu pun, tampaknya, tetap saja berkabut.

Sukses Presiden Amerika Serikat George W. Bush menyingkirkan Yasser Arafat dari meja perundingan mungkin merupakan "blunder" awal Peta Berkabut ini. Sulit melihat Mahmoud Abbas sebagai lawan seimbang Ariel Sharon bagi penyelesaian konflik historis yang, di mata seorang pengamat Timur Tengah, sekaligus merupakan "konflik absolut" ini. Apalagi jika peta itu semata-mata diproyeksikan "ke depan", tanpa mengkaji akar persoalan, yakni pendudukan Israel atas tanah Palestina.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data