Maju Terus, Cak Nur Walau mungkin tidak laju, pencalonan Nurcholish Madjid lewat Golkar sangat bernilai bagi demokrasi di Indonesia. |
Nurcholish Madjid resmi menyatakan akan ikut bersaing dalam konvensi pemilihan calon presiden Partai Golkar. Banyak yang setuju Cak Nur jadi calon presiden, tapi pada saat yang sama kurang senang jika dia harus dicalonkan lewat Golkar. Memang ada kontradiksi yang terlalu nyata. Dukungan diberikan kepada Cak Nur karena dia seorang cendekiawan moralis yang bebas dari dosa politik lama. Sedangkan Golkar bisa disebut apa saja kecuali yang berkaitan dengan moral dan kesucian sejarah politik. Keduanya bagaikan unsur yang inkompatibel, kalau bukan bertolak belakang.
Akan tetapi Cak Nur telah menetapkan pilihannya. Dasarnya tentu pertimbangan politis, yang menurut Cak Nur tidak bisa dielakkan. Seorang calon presiden harus diajukan oleh partai politik; Partai Golkar cukup besar dan paling mampu bersaing dalam pemilu; melalui konvensi terbuka, siapa pun berkesempatan dipilih jadi calon; Golkar tidak bercitra sektarian, dan beberapa tokoh Golkar kawan lama Cak Nur bersedia jadi sponsor. Kesimpulannya, inilah saluran yang paling praktis buat Nurcholish. Menarik juga, moralis jadi pragmatis.
Baik calon maupun partai politik harus menetapkan hanya satu pilihan. Cak Nur sudah, sebaliknya Golkar sendiri belum menentukan. Pemilihannya akan dilakukan bertahap. Sekarang baru memasuki tahap perkenalan di daerah-daerah, yang dimulai di Makassar Jumat kemarin. Bulan Oktober nanti akan diselenggarakan prakonvensi memilih lima calon terbesar yang berhak bertanding dalam konvensi bulan Februari tahun muka.
Dilihat dari yang terdaftar, jalan menuju pemilihan calon satu-satunya tidak akan mudah dan mulus. Selain Cak Nur, ada delapan nama berkaliber gede yang maju: Jusuf Kalla, Sultan Hamengku Buwono X, Prabowo Subianto, Agum Gumelar; lalu Aburizal Bakrie, Jenderal Wiranto, Surya Paloh, dan tentu saja Akbar Tandjung. Bukan saja semua saingannya tangguh, tapi kondisi lapangan permainan juga sangat berat. Golkar penuh dengan politikus kawakan yang lebih licin dari belut berlumur oli, begitulah orang berseloroh di luar.
Di luar iktikad luhur dan reputasi pribadi, modal Nurcholish berpolitik praktis memang tipis, persiapan organisasi pun lemah. Tanpa bantuan substansial, pencalonan diri Cak Nur melalui Golkar bagai bertepuk sebelah tangan. Karisma Cak Nur tidak kecil, dan jenis kepemimpinannya sangat dibutuhkan sekarang. Peluangnya bersaing dengan Megawati atau tokoh lainnya dalam pemilihan presiden sangat besar. Justru kesempatannya terpilih di Golkar sebagai calon yang masih jadi tanda tanya. Fase inilah yang terberat, dan akan paling menentukan.
Mestinya dukungan bisa datang dari Golkar sendiri. Masuknya Cak Nur akan jadi simbiosis yang saling menguntungkan, sebagai semacam "political laundering" bagi Golkar, mencuci kedudukan politiknya dari bau Orde Baru dulu. Namun, para tokoh Golkar di pusat ataupun daerah pasti enggan menyatakannya secara jujur. Mereka terlalu berpengalaman untuk bersedia kehilangan muka jika mengakui kebutuhan ini.
Nurcholish sendiri tidak punya pretensi menyelamatkan Golkar. Moral politik dari pragmatisme Cak Nur hanyalah agar yang berkuasa sekarang jangan diberi kesempatan lima tahun lagi—karena jelas gagal dan berbahaya jika diteruskan—sedangkan kalau dia mendapat kesempatan berkuasa maka itu hanya untuk lima tahun saja, tidak lebih. Untuk itu, Cak Nur merasa perlu menghimpun kekuatan lain sebanyak-banyaknya, tidak cukup Golkar saja. Dengan meniru slogan Bung Karno, yang disesuaikan dengan masa kini, Cak Nur menganjurkan suatu samenbundeling van alle reformistische krachten, ikatan semua kekuatan yang menginginkan reformasi.
Siapa yang lebih diuntungkan, Cak Nur atau Golkar? Mungkin jawaban ideal ialah kalau seluruh bangsa yang akan menarik manfaatnya. Bagus sekali, semoga berhasil. Jika gagal, setidak-tidaknya usaha Cak Nur tetap berguna sebagai kembang-kembang pelengkap proses demokrasi.
|