Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXII/07 - 13 Juli 2003
   
Obituari

Pergi dengan Sejumlah Impian

Prof. Dr. Yaumil Chairiah Agoes Achir tutup usia. Perempuan yang cerdas dan baik. Sebuah kehilangan lagi.

Undangan dikirim tanpa melewatkan seorang pun dari kalangan keluarga dan kolega. Semua yang dekat dengan perempuan itu dan hadir ikut larut dalam tawa dan candanya. Malam itu, suatu hari pada Mei lalu, perempuan itu merayakan ulang tahunnya yang ke-63. Wajahnya cerah. Ia tak terlihat sedang mengidap kanker yang sudah jauh menggerogoti tubuhnya.

”Itulah terakhir kali (saya) bertemu dan bersendau-gurau dengan beliau,” Sarlito Wirawan, psikolog senior, mengenang. Perempuan itu, Prof. Dr. Yaumil Chairiah Agoes Achir, Selasa pekan lalu mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit National University, Singapura. Kanker pada akhirnya menaklukkan semangatnya yang tak pernah padam. Ia meninggalkan seorang suami, Ir. Agoes Achir, dan dua anak, Aditiawarman Achir dan Raesita B. Kencana Achir, serta tiga orang cucu.

Kanker yang diderita Yaumil sempat mengejutkan sejumlah koleganya. Sebab, sepanjang hidupnya Yaumil tak pernah mengeluh sakit. Menurut Monica, Ketua Yayasan Ora et Labora, Yaumil tak pernah melakukan medical check-up. ”Kami sempat ejek-ejekan ketika saya sakit dan dioperasi pada 10 Februari. Saya ingatkan dia untuk menjaga kesehatan juga. Eh, dia balik bilang, ’Ah, saya enggak apa-apa’, bahkan menasihati saya. Tanggal 14 Februari, dia masuk rumah sakit,” kata Monica.

”Saya kaget ketika tahu (ia sakit kanker),” kata Soerjadi Sudirja, mantan Menteri Dalam Negeri, teman Yaumil sejak di SMA. ”Kita tidak pernah tahu ia mengalami sakit seperti itu, karena dari mukanya selalu cerah dan ceria,” kata Azwar Anas, mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Meraih gelar doktor di bidang psikologi dari Universitas Indonesia (UI) pada 1990, Yaumil tergolong perempuan yang kaya pengalaman sebagai pendidik dan pejabat pemerintah. Pada 1999, ia menjabat Dekan Fakultas Psikologi UI, di samping mengajar. Ia juga mengelola Yayasan Ora et Labora sejak 1980-an dan mengajar di Sekolah Tinggi Manajemen Labora. Hingga akhir hayatnya ia berstatus guru besar psikologi UI.

Banyak hasil penelitian Yaumil yang menjadi acuan perkembangan psikologi pendidikan di Indonesia. Di antara berbagai temuannya, pada 1991 ia mengatakan bahwa sekitar 30 persen siswa SMU di Jakarta yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berprestasi di bawah potensinya (underachiever). Dan pada 1993 ia menyebutkan bahwa semua remaja punya potensi, bakat, atau minat, tapi hanya sedikit yang mampu mengaktualisasinya secara optimal.

”Ia mengembangkan psikologi pendidikan di Indonesia, concern pada anak-anak berbakat, memperkenalkan psikologi kepada masyarakat dengan bahasa yang sangat sehari-hari, tidak melulu teori. Ia pelopor dan salah satu tokohnya,” kata Sarlito. Fuad Hasan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sependapat. Menurut dia, Yaumil merupakan tokoh yang tak hanya bergumul dengan teori dan termenung di belakang meja.

Di pemerintahan, aktivitas Yaumil tak kalah padat. Pada era Soeharto dan Habibie, perempuan Minang yang lahir di Pangkalan Brandan ini sempat dicalonkan menjadi Menteri Urusan Peranan Wanita. Sebelumnya ia juga pernah dicalonkan untuk jabatan Gubernur Sumatera Utara—seandainya terpilih, ia menjadi perempuan pertama yang menjabat gubernur.

Pada 1998 ia menjadi Asisten Menteri Kependudukan, dan tahun berikutnya menjabat Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Selain itu, ia salah satu tokoh penting yang membantu Presiden Megawati dalam menangani aspek sosial dari ekses konflik Papua dan Maluku. Pada 2002, ia mengetuai Tim Sistem Jaminan Sosial Nasional. Presiden Megawati juga mengangkatnya menjadi Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Yaumil dikenal sebagai pekerja yang gigih, cerdas, berkomitmen, dan betul-betul memanfaatkan usianya tidak saja untuk keluarga tapi juga untuk ilmu dan negara. ”Sulit menemukan penggantinya, perempuan yang mempunyai karisma, kebaikan, dan kecerdasan,” kata Monica. Dan kata Azwar Anas, ”Luar biasa. Ini yang membuat kita sedih sekali, tidak menduga akan secepat ini beliau pergi.”

Sebagai pribadi yang tidak terbelenggu kepentingan tertentu, Yaumil pernah berkata, ”Bagus, kita tidak ikut dalam arus gila. Kita harus mempertahankan diri kita tetap bersih…. Dan kalau Tuhan memberikan kesembuhan, aku akan sepenuhnya mengabdi pada pendidikan.” Maklumilah jika Yaumil kemudian bersikeras keluar dari rumah sakit dan bisa mewujudkan tugas yang menantinya: mempersiapkan Hari Keluarga Nasional, studi banding ke Jerman dan Prancis, dan segudang lagi, termasuk mewujudkan rumah singgah di Aceh.

Namun, tidak saja ia kembali masuk rumah sakit, ia pun harus pergi untuk selamanya. Waktu tak berpihak padanya untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Levi Silalahi, Yandhrie Arvian (TNR)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data