"Ranjau Juga Ditanam di Halaman Belakang Rumah" |
Suatu hari di tahun 1982, puluhan tentara Kamboja dengan hati-hati menyusuri jalanan di kawasan dekat perbatasan Thailand. Tiba-tiba sebuah ledakan keras terdengar. Dua tentara terempas dengan tubuh berlumuran darah. Seorang di antaranya adalah Tun Channareth, yang memilih menjadi tentara setelah ditolak di kamp pengungsi di perbatasan Thailand. Ranjau darat, yang ditanam nyaris di seluruh kawasan Kamboja oleh faksi-faksi yang berperang (Kamboja sedang dilanda perang saudara), merenggut kedua kaki Reth—demikian dia biasa dipanggil.
Putus harapan, Reth mencoba bunuh diri beberapa kali. Para dokter mengingatkannya. Dia pun mulai bangkit. Tapi nasib buruk belum berakhir. Karena cacat, ratusan surat lamaran kerjanya ditolak. Kelima anaknyalah yang membuatnya bertahan. Akhirnya dia diterima di Jesuit Refugee Services Center.
Pengalaman buruk itu membawa Reth, 43 tahun, ke aktivitas kampanye anti-ranjau darat. Dia sadar dirinya bukan satu-satunya atau satu dari sedikit korban ranjau darat. Ratusan ribu korban lainnya tersebar di seluruh penjuru dunia. "Saya tidak ingin orang lain mengalami seperti saya," ujarnya. Akhirnya, Reth menjadi Duta Besar The International Campaign to Ban Landmines (ICBL). Perjuangannya pun mendapat pengakuan. Pada 1997, dia terpilih mewakili ICBL menerima hadiah Nobel Perdamaian di Oslo bersama Duta Besar ICBL lainnya, Jodie Williams.
Kampanye terus berjalan. Ketika Traktat Anti-Ranjau Darat muncul pada 1997, Reth kian bersemangat berkampanye. Dan untuk itulah dia mengunjungi Indonesia pekan lalu. Meski sudah menandatangani Traktat Anti-Ranjau, Indonesia belum meratifikasinya. "Saya harap mereka segera meratifikasinya," kata Reth. Di sela berbagai acaranya di Jakarta, Reth menerima Purwani Diyah Prabandari dan Yoko Nishikawa dari TEMPO Selasa lalu untuk sebuah wawancara. Berikut petikannya.
Berapa banyak korban ranjau darat di Kamboja?
Tidak ada yang tahu. Tapi, dari tahun 1993 (pemerintah Kamboja memulai program pembersihan ranjau tahun 1993) sampai sekarang, setidaknya ada sekitar 40 ribu nama dalam daftar kami.
Seberapa luas tanah di Kamboja yang ditanami ranjau?
Seluruh negeri. Bahkan ranjau juga ditanam di halaman belakang rumah penduduk.
Daerah mana yang paling banyak ditanami ranjau?
Saya tidak bisa memberi tahu di mana saja kawasan yang banyak ranjau, karena mereka (pasukan yang bertikai) menempatkan ranjau di mana saja. Mereka tidak punya peta ataupun rencana di mana mereka menempatkan ranjau.
Jadi, bagaimana strategi membersihkan
ranjau di Kamboja?
Ada empat badan yang terlibat dalam pembersihan ranjau di Kamboja, The Cambodian Mine Action Center, HALO Trust, Mine Advisory Group, dan angkatan bersenjata Kerajaan Kamboja. Dalam pembersihan ranjau, mereka menggunakan prioritas. Pertama, mereka membersihkan ranjau di pedesaan tempat orang tinggal. Kemudian mereka membersihkan kawasan pertanian atau perkebunan karena kebanyakan rakyat Kamboja bekerja di sektor pertanian. Ketiga, mereka membersihkan kawasan yang dilewati orang untuk ke hutan atau ke tempat lain.
Seberapa berhasil pembersihan ranjau di Kamboja sejauh ini?
Dari 1993 hingga sekarang, dalam kurun 10 tahun, kami hanya bisa membersihkan sekitar 30-40 persen.
Apa hambatan utama dalam pembersihan ranjau?
Masalah terbesar kami adalah teknologi untuk membersihkan ranjau yang tidak canggih. Kesulitan lain, meski kami telah membersihkan ranjau di suatu tempat, ketika musim hujan tiba dan terjadi banjir, ranjau-ranjau yang belum dibersihkan terbawa air kembali ke kawasan yang sudah dibersihkan. Setiap tahun kami menemukan ranjau di tempat yang sama. Setiap tahun selalu ada petani atau anak-anak yang menginjak ranjau.
Apakah itu masih terjadi sekarang ini?
Dari Januari hingga April lalu ada 78 orang yang luka akibat ranjau.
Di samping Kamboja, negara mana lagi yang banyak ditanami ranjau darat?
Sekitar 50 negara lain, seperti Angola, Bosnia, Afganistan, Chechnya, dan masih banyak negara lain.
Mengapa orang menggunakan ranjau, yang tidak membedakan korban sipil atau militer dalam perang?
Murah. Biaya produksi sebuah ranjau hanya US$ 3 (sekitar Rp 25 ribu).
Berapa biaya pembersihannya?
Butuh US$ 1.000 (sekitar Rp 8.300.000) untuk menghancurkan sebuah ranjau.
Negara mana saja yang memproduksi ranjau darat ini?
Sekitar 70-75 persen ranjau berasal dari Amerika, Rusia, dan Cina. Dan mereka adalah negara-negara yang tidak menandatangani ataupun meratifikasi konvensi anti-ranjau darat. Selain itu, Vietnam, Singapura, Laos, dan Myanmar juga masih memproduksinya.
Kapan tanah Kamboja bisa bebas dari
ranjau darat?
Untuk Kamboja, kami baru bisa bersih tahun 2010. Tapi kampanye kami tidak hanya untuk Kamboja. Kami memikirkan nasib manusia di seluruh dunia. Begitu banyak anak-anak yang masih tumbuh. Kita semua tidak ingin melihat mereka kehilangan kedua kakinya seperti saya. Kita semua tidak ingin melihat mereka kehilangan orang tua mereka dan kemudian menjadi pengungsi. Kami tidak ingin melihat semua kesedihan itu.
|