Kesan Pertama di Takhta Eropa Pemimpin baru Uni Eropa, Silvio Berlusconi, dihujani kritik karena terlibat berbagai kasus di pengadilan di negaranya. Tapi dia maju terus. |
Kesan pertama itu penting. Tapi Silvio Berlusconi, Perdana Menteri Italia yang menjadi pemimpin Uni Eropa mulai 1 Juli ini, justru membuat blunder dalam penampilan publik pertamanya. Di depan Parlemen Eropa, Rabu pekan silam, Berlusconi mengatakan bahwa seorang anggota parlemen dari Jerman pantas menjadi penjaga kamp konsentrasi dalam film Nazi. Kontan, kata-katanya membuat marah pemerintah Jerman. Kanselir Gerhard Schröder mendesak Berlusconi agar minta maaf.
Insiden itu bisa menjadi permulaan sebuah "musim panas" panjang di Eropa. Maklum, selama enam bulan mendatang Italia memperoleh giliran dalam kepresidenan Uni Eropa. Artinya, Berlusconi, laki-laki 65 tahun dengan berbagai kasus di pengadilan, menjadi "pemimpin" Eropa.
Hal itulah yang membuat publik Eropa yang punya perhatian terhadap tujuan Uni Eropa menegakkan demokrasi dan hukum gundah. Sebab, sebagai taipan berkekayaan US$ 13 miliar, Berlusconi pernah menjadi tersangka berbagai kasus penyuapan hakim, manipulasi, dan korupsi (lihat infografik, Kasus-Kasus Sang Pangeran).
Yang membuat pemilik klub sepak bola AC Milan itu dinilai makin berbahaya adalah upayanya menekan pengadilan. Ia mendorong ditetapkannya sebuah produk hukum yang melindungi pejabat negara dari berbagai tuntutan hukum hingga masa jabatan yang bersangkutan usai. Dengan adanya payung imunitas itulah Berlusconi bisa selamat dari kejaran Jaksa Ilda Boccassini—jaksa yang selama 10 tahun menangani berbagai kasus Berlusconi—hingga akhir masa jabatannya, 2006 (baca, Si Rambut Merah yang Tak Pernah Menyerah).
Karena dinilai "cacat moral", Berlusconi dianggap tak layak menakhodai Uni Eropa. Berbagai media massa di luar Italia mengkritiknya. Koran Jerman, Berliner Zeitung, menulis, "Orang tidak akan secara sukarela mau berjabat tangan dengannya (Berlusconi)." Harian Liberation, yang terbit di Prancis, menudingnya sebagai "ancaman demokrasi liberal". Sedangkan koran Information, Denmark, menulis, "Italia sekarang adalah negara dengan nepotisme, korupsi, dan kebohongan, tecermin dari pemimpin politiknya."
Tidak berhenti di situ penilaian negatif terhadap bos Fininvest, perusahan beraset US$ 6 triliun, itu. Financial Times menyebutnya sebagai pemimpin yang tak bisa diduga langkahnya, yang harus memimpin Uni Eropa di saat sulit ini. Times khawatir Berlusconi justru akan memicu berbagai konflik baru.
Semua coretan merah media asing terhadap Berlusconi, penguasa bisnis media di Italia, jelas tak dapat diabaikan begitu saja. Sebab, Eropa saat ini memang sedang tak stabil. Invasi Amerika Serikat ke Irak adalah penyebab terbelahnya sikap Eropa. Di satu kutub ada Inggris dan Italia yang mendukung AS, dan di sisi lain ada Prancis dan Jerman yang menentang AS. Sebagai pimpinan Uni Eropa, Berlusconi seharusnya dapat merekatkan kembali perpecahan Eropa.
Mampukah Berlusconi membawa perbaikan di dalam Uni Eropa? Mungkin dia mampu, tapi dengan caranya sendiri.
Berlusconi adalah pengusaha yang ulet. Sejak masih mahasiswa, kelahiran Milan ini sudah membiayai diri dengan cara menjual penyedot debu dan menawarkan jasa menulis makalah untuk mahasiswa lain. Ia mendirikan perusahaan pertamanya, yang bergerak di bidang konstruksi, pada 1962.
Tahap berikutnya, ayah lima anak ini masuk ke dunia politik dengan mendirikan partai Forza Italia (Ayo Maju Italia). Orang terkaya Italia ini menjadi perdana menteri pada 1994—tapi mundur tujuh bulan kemudian. Berlusconi kembali ikut pemilihan pada 1996, tapi kalah dan baru berhasil menjadi pemimpin Italia pada pemilihan 2001. "Karena pengalaman pribadi saya, kemampuan saya, dan keberhasilan usaha saya, saya menjadi orang yang tak bisa dibandingkan dengan siapa pun," kata Berlusconi, "Tidak ada yang mampu memerintah ne geri ini (Italia) selain saya." Hal itulah yang ingin ditunjukkan kepada publik Eropa, terutama kepada yang mengkritiknya.
Jadi, pepatah "kesan pertama itu penting" mungkin justru sangat dipahami oleh Berlusconi. Laki-laki dengan julukan Il Cavaliere (sang Pangeran) ini bisa saja sebenarnya ingin menunjukkan siapa yang berkuasa.
Bina Bektiati (The Guardian, BBC, The Economist, CNN)
ALL IBERIAN
Tuntutan:
Mentransfer sejumlah uang ke All Iberian, perusahaan di luar Italia, melalui Fininvest, perusahaan induk keluarga. Uang itu digunakan untuk mendanai partai Forza Italia, partai Berlusconi, antara 1991 dan 1995. Pendanaan itu ilegal.
Putusan:
Bersalah, penjara dua tahun empat bulan.
Banding:
Putusan ditolak oleh pengadilan lebih tinggi berdasar hukum imunitas.
FININVEST
Tuntutan:
Dituduh menyuap polisi perpajakan tiga kali (1989-1993).
Putusan:
Bersalah, dua tahun 9 bulan penjara.
Banding:
Dua kasus bebas dan satu dapat imunitas, tapi akhirnya ketiga kasus itu diputus bebas.
FININVEST
Tuntutan:
Memakai uang Fininvest untuk tujuan kotor, seperti penyuapan (1989-96), dengan jumlah lebih dari US$ 1 miliar.
Putusan:
Kasus dianggap tidak layak (2003) karena kejadian yang dituduhkan kedaluwarsa.
LENTINI
Tuntutan:
Pembukuan palsu untuk "pembelian" pemain sepak bola Gianluigi Lentini oleh AC Milan (1992).
Putusan:
Bebas (2002) karena adanya aturan pembatasan tuntutan untuk pejabat negara.
SME
Tuntutan:
Menyuap hakim pada 1980-an untuk menghalang-halangi penjualan SME, perusahaan negara di bidang makanan dan toko serba ada, ke Carlo de Benedetti, pengusaha pesaing Berlusconi.
Status:
Kasus ditunda selama Berlusconi menjadi PM dan dibuka kembali pada 2006.
MEDUSA
Tuntutan:
Pembukuan palsu dalam pembelian film dari perusahaan Medusa (1988).
Putusan:
Bersalah, satu tahun empat bulan penjara.
Banding:
Mendapat amnesti karena terjadi sebelum 1990 kemudian diputus tak bersalah (2000).
[an error occurred while processing this directive]
|