Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXII/07 - 13 Juli 2003
   
Luar Negeri

Sebuah Kebebasan yang Semu

Pasukan Israel mundur dari Gaza dan Bethlehem. Imbalannya, tidak ada serangan lagi ke Israel. Tapi orang tetap skeptis penarikan itu permanen.

TIDAK seperti biasanya, wajah tentara Israel yang berjaga di Beit Hanun kali ini sama sekali tidak menakutkan. Mereka membiarkan saja mobil-mobil yang dikendarai warga Jalur Gaza lewat tanpa pengecekan. Di samping mereka, beberapa polisi Palestina juga hanya ikut mengawasi jalan. Seorang tentara Israel dengan M-16-nya malah terlihat berbincang santai dengan polisi Palestina yang memegang Kalashnikov. Seolah tak ada lagi permusuhan yang menyakitkan dan berlangsung begitu lama. "Untuk pertama kalinya saya tidak harus membongkar muatan saya," ujar seorang sopir yang mengangkut gas, takjub. Biasanya dia harus mengeluarkan semua tabung gas yang dibawanya untuk dicek oleh tentara Israel.

Senin pekan lalu, untuk pertama kalinya sejak pasukan Israel menduduki Gaza, jalanan menjadi bebas. Saat itu resmi terjadi serah terima tanggung jawab keamanan di wilayah Gaza dari pasukan Israel ke pasukan Palestina, dimulai dengan kota di perbatasan Gaza dengan Israel, Beit Hanun.

Hampir tiga tahun Jalur Gaza dikuasai oleh Israel, sejak meledaknya intifadah kedua. Selama kurun waktu itu, pasukan keamanan Palestina lumpuh. Nyaris semua personelnya menganggur. Setelah ada tekanan dari Presiden Amerika Serikat George W. Bush, Israel menerima Peta Damai, proposal perdamaian yang disponsori oleh Amerika, Rusia, PBB, dan Uni Eropa. Itu berarti mereka harus menarik pasukannya di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Penyerahan wilayah ini tak berjalan mulus. Perundingan soal detail keamanan sangat alot, antara Menteri Urusan Keamanan Ahmad Dahlan dan Koordinator Aktivitas Pemerintahan Israel di Kawasan Pendudukan Amos Gilad.

Namun kesepakatan tercapai juga. Setelah dari Gaza, hari Rabunya pasukan Israel ditarik dari Bethlehem, kota suci bagi umat Kristiani—karena keberadaan Gereja Nativity—yang penah dikepung pasukan Israel tahun lalu.

Dahlan memanggul tugas mahaberat. Pemimpin Pasukan Rahasia Israel Shin Beth, Ari Dichter, telah mengancamnya saat proses serah terima kekuasaan di Gaza. Pemerintah Palestina harus melucuti organisasi teror di Jalur Gaza dalam dua atau tiga minggu. Kalau tidak, Israel akan menghentikan penarikan pasukannya di Tepi Barat. "Kami tidak akan meneruskan penyerahan tanggung jawab keamanan di Tepi Barat sebelum jelas dimulainya pemrosesan terhadap kelompok teroris di Gaza," ujar Dichter.

Selama ini, kelompok garis keras bersenjata yang oleh Israel dan Amerika disebut teroris selalu menjadi isu utama dalam perundingan damai Israel-Palestina. Hamas, Jihad Islam, Brigade Al-Aqsa, Front Populer Pembebasan Palestina (PFLP), dan organisasi lainnya merupakan kelompok yang diminta dilucuti oleh Dichter. Mereka sering melakukan penyergapan terhadap pasukan Israel ataupun melakukan serangan bom bunuh diri di kawasan Israel untuk melawan Israel yang menduduki tanah mereka.

Banyak pihak meragukan kemampuan Dahlan dan pasukannya untuk menguasai kelompok bersenjata itu dan menjaga keamanan wilayah yang ditinggalkan pasukan Israel. Israel tak mau tahu bagaimana caranya. Maunya hanya satu: tidak akan ada serangan lagi ke kawasannya dan warga Israel di permukiman.

Keraguan itu beralasan. Soalnya, seluruh pasukan keamanan Palestina hanya menganggur sekitar tiga tahun belakangan. Israel telah menghancurkan infrastruktur keamanan Palestina. Tidak pernah ada latihan—dan dengan sen- jata yang terbatas. Bahkan bangunan-bangunan militer pun dihancurkan oleh pasukan Israel. Tugas pertama, ya, membangun infrastruktur keamanan yang telah hancur ini. Ketidakpedulian Israel dalam urusan keamanan ini sempat membuat Presiden Bush memarahi Menteri Pertahanan Shaul Mofaz saat di Aqaba bulan lalu. Saat itu Mofaz ngotot tak akan membantu Palestina menangani kelompok militannya dan menyuruh Dahlan menggunakan pasukannya sendiri. "Pasukan keamanan mereka? Bukankah kalian telah menghancurkan pasukan keamanan mereka?" ujar Bush, geram.

Tak aneh, Amerika pun turun tangan membantu Palestina untuk membangun kembali infrastruktur keamanannya. Bahkan sebuah tim pemantau dan penasihat dari Badan Intelijen Amerika (CIA) dikerahkan untuk membantu pasukan keamanan Palestina. Mereka menjadi penasihat untuk membangun kembali pasukan serta memberikan pelatihan prosedur polisi dan antiterorisme, untuk mengatasi kelompok militan bersenjata seperti Hamas dan Jihad Islam. Mulai akhir Juni lalu, sekitar 154 anggota pasukan keamanan Palestina di Ramallah dan 170 anggota di Yerikho mendapat pelatihan ini. Selain CIA, pasukan dari Yordania dan Mesir terlibat dalam pelatihan itu.

Setelah pelatihan, menurut sumber di pemerintahan Palestina, akan dibentuk pasukan baru yang terdiri atas ratusan personel yang akan beroperasi langsung di bawah komando Dahlan.

Namun masalah belum usai bagi Dahlan. Dia tak begitu memiliki pengaruh di Tepi Barat, pusat puluhan sel garis keras, termasuk garis kerasnya Fatah, Brigade Al-Aqsa di bawah Tanzim. Baik pasukan pendukung Presiden Arafat maupun Fatah lebih memilih setia kepada Arafat, yang tidak suka Dahlan. "Yasser Arafat adalah komandan kami dan kami akan mengikuti perintahnya," ujar salah satu pemimpin Brigade Al-Aqsa, Zakariya Sweidi.

Untuk mengatasi kawasan Tepi Barat, Dahlan pernah menemui mantan pemimpin Pasukan Keamanan Pencegahan (PKP) di Tepi Barat yang telah dipecat Arafat tahun lalu, Jibril Rajoub. Dia membujuk Rajoub agar menjadi penasihatnya. Hubungan keduanya tidak begitu baik, terutama sejak Dahlan, yang saat itu komandan PKP di Jalur Gaza, menuduhnya menyerah kepada pasukan Israel. Rajoub setuju dengan kompromi: orang-orangnya dibiarkan meninggalkan kampnya di Ramallah yang dikepung pasukan Israel. Belum jelas bagaimana kesediaan Rajoub, apalagi sekarang ini Arafat juga mencoba merekrut Rajoub kembali ke Fatahnya.

Kesulitan lain yang dihadapi Dahlan, Arafat menginginkan PKP keluar dari Departemen Dalam Negeri dan langsung berada di bawah komandonya. Sekarang ini Arafat masih menguasai intelijen militer. Tangan Dahlan masih terbelenggu sebagian. Tapi dia tak putus asa dan terus mendekati orang-orang Arafat. Ada kesepakatan antara Dahlan-Abbas dan Arafat, yang disingkirkan dari panggung perundingan oleh Israel dan Amerika. Tidak akan ada kekerasan dalam pelucutan kelompok garis keras. "Penyalahgunaan senjata harus dicegah dengan dialog dan perundingan, tidak dengan perang saudara," ujar Perdana Menteri Mahmoud Abbas.

Tak lama kemudian, muncul kebijakan bahwa anggota kelompok garis keras yang bersedia menyerahkan senjata dan menghentikan serangan ke Israel akan mendapat hadiah. Menurut seorang pejabat Palestina, Kepala Intelijen Umum Tawfik Tirawi menawarkan kepada anggota kelompok militan Fatah bahwa siapa pun yang bersedia menyerahkan senjatanya dan berjanji tidak akan menyerang Israel akan diberi posisi di pasukan keamanan Palestina. Selain itu, mereka akan mendapat uang insentif. Meski Fatah telah setuju gencatan senjata enam bulan, Brigade Al-Aqsa tidak mau. Mereka menyerang seorang sopir truk asal Bulgaria di dekat Jenin pekan lalu.

Pemerintah Palestina juga berencana memperluas tawaran kerja dan insentif uang ke kelompok lain di luar Fatah, seperti PFLP, yang juga menolak gencatan senjata dengan Israel.

Semua upaya dilakukan oleh Dahlan dan Abbas. Tapi masa depan perdamaian masih terlihat buram. Apalagi, saat lonceng Gereja Nativity bergema dan mobil polisi Palestina mengelilingi Bethlehem menandai mereka menguasai kota kembali, sejumlah orang Israel justru merebut tanah di utara Yerusalem. Mereka memasang patok dan tanda bertuliskan "Tanah negara. Dilarang masuk" di sekitar desa-desa Beit Eksa dan Beit Souriq. "Ini perampokan," ujar Menteri Abed Rabbo. Dia menuduh Israel menggunakan penarikan mundur pasukannya untuk menutupi penguasaan tanah di kawasan lain.

Keraguan akan kebebasan juga masih terlihat ketika blokade dan pasukan Israel masih menutup jalan ke luar Bethlehem ataupun Gaza. Rakyat Palestina hanya bebas di dalam kota. Mereka tetap terpenjara di tanahnya yang sudah hancur tinggal puing-puing bangunan, gedung yang boyak-boyak oleh lubang peluru, serta tanah-tanah kosong bekas tanaman zaitun yang dibuldoser pasukan Israel. "Apa jaminannya mereka tidak berubah pikiran dan datang lagi?" ujar Ali Zaneen, warga Gaza. "Mereka tidak jauh," ia menambahkan sambil termangu.

Ali Zaneen benar. Sehari setelah serah terima Bethlehem, pasukan Israel kembali menutup jalan utama yang menghubungkan Kota Gaza dengan kota lain di Jalur Gaza. Kekerasan masih tergelar. Pendudukan tetap di depan mata.

Purwani Diyah Prabandari (Jerusalem Post, World Tribune, Haaretz, The Guardian)




Angkatan Bersenjata Palestina
(sesuai dengan Perjanjian Oslo)*:






Pasukan Keamanan Nasional : 14.000



Polisi Sipil : 10.000



Pasukan Keamanan Pencegahan : 5.000



Intelijen Umum : 5.000



Intelijen Militer : --



Polisi Militer : 1.000



Polisi Pantai : --



Polisi Udara : --



Pertahanan Sipil : --



Pasukan Keamanan Lokal : --



Pasukan Keamanan Khusus : --



Pasukan Keamanan Presiden : 3.000

* Seluruh angkatan bersenjata dan polisi Palestina ini lumpuh ketika
Israel menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza, sejak 2001.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data