Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXII/07 - 13 Juli 2003
   
Kesehatan

Nestapa Si Mungil Jossy

Ia lahir tanpa anus dan alat kelamin. Lingkungan buruk dan faktor genetis penyebab janin cacat.

OROK itu menggeliat-geliat di pangkuan ibunya. Namanya Dwi Jossy. Usianya belum genap sebulan. Tubuhnya kecil, beratnya hanya dua kilogram. Anak kedua pasangan Nur Fadli dan Sumarni, warga Genteng, Banyuwangi (Jawa Timur), itu lahir prematur. Tapi bukan itu yang bikin keluarga tukang becak ini bingung. Jossy lahir tanpa anus dan alat kelamin.

Jika popoknya dibuka, di selangkangan bagian depan bayi itu memang terlihat daging lonjong kemerahan. Panjangnya sekitar tujuh sentimeter, diameternya kira-kira dua kali bulatan telur ayam kampung. Tapi ternyata itu bukan penis, melainkan usus besar yang keluar dari tubuh. Dan lewat organ itulah selama ini Jossy buang air kecil dan besar.

Fadli dan Sumarni tak mengerti mengapa kemalangan itu menimpa anaknya. Padahal, selama hamil, Sumarni tak berperilaku aneh. Malah, selain rajin memeriksakan diri ke puskesmas, ia juga selalu taat berpantang. "Saya hanya mual-mual, dan tidak pernah sakit berat," katanya.

Kebingungan itu bukan monopoli pasangan wong cilik ini. Hingga kini kalangan medis di Surabaya pun belum mampu menguak teka-teki alam tersebut, meskipun dengan melihat gejalanya mereka dapat menyebut nama kelainan itu. "Bayi itu mengalami kelainan yang lazim disebut cloaca extrofia," kata Agus Harianto, dokter senior di Bagian Perinatologi dan Neonatologi Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo, Surabaya.

Biasanya saluran pembuangan kotoran manusia terletak di dalam tubuh. Tapi, kasus yang menimpa Jossy berbeda. Saluran pembuangan itu berada di luar tubuh. Menurut Dokter Agus, ini kasus yang amat langka. Dan di Surabaya ini kasus kedua.

Untuk menanganinya, pimpinan rumah sakit membentuk sebuah tim yang terdiri dari beragam spesialis: dokter ahli anak, ahli bedah anak, ahli bedah ortopedi, ahli bedah plastik rekonstruksi, dan urolog. Prioritas pertama yang akan mereka kerjakan ialah membuat saluran pembuangan kotoran. Sebab, lama-kelamaan usus besar yang menonjol keluar dari tubuh itu bisa mengering, dan fungsinya tentu saja akan terganggu.

Setelah itu barulah tim membuatkan alat kelamin buatan, sehingga Jossy punya identitas. Apakah bentuknya penis atau vagina, masih harus menunggu hasil penelitian kromosom seks Jossy. Selain itu, tim akan mendiagnosis kemungkinan adanya kelainan bawaan pada otak dan jantung. Untuk membantu Jossy bisa hidup normal, tentu dibutuhkan waktu lama dan dana besar. Akan sukseskah upaya ini? "Kemungkinannya fifty-fifty," jawab Agus.

Meski penyebab pasti kelainan itu masih berupa teka-teki, secara teoretis Agus menyebut sejumlah penyebab kelainan pada janin. Misalnya radiasi, keracunan logam berat, mutasi genetis, stres pada si ibu, infeksi karena bakteri dan virus. Juga kebiasaan minum jamu tradisional pelangsing tubuh saat kehamilan. Cuma, sebagian besar penyebab itu barulah merupakan hipotesis, sementara untuk memastikannya masih harus dilakukan serentetan pengkajian ilmiah.

Menurut Prof. Gulardi H. Wiknjosastro, Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, lebih dari 50 persen penyebab kelainan janin memang belum diketahui. Tapi, para dokter percaya penyebabnya multifaktor. Selain kelainan genetis, juga lantaran kekurangan asam folat saat ibu hamil, infeksi bakteri atau virus, dan kualitas lingkungan yang buruk. Misalnya, saat hamil sang ibu mengkonsumsi makanan yang mengandung residu pestisida, polutan logam berat, asap rokok, penyakit kelamin, dan sebagainya.

Bagaimana dengan kebiasaan ibu hamil yang mengkonsumsi obat-obat bebas sebagaimana yang selama ini banyak dikhawatirkan oleh para ibu hamil? Menurut Gulardi, hal itu tidak apa-apa, asal mereka mengkonsumsinya pada saat memerlukan saja. Misalnya, ketika terserang flu, batuk, atau mencret. Begitu pula dengan jamu tradisional. Tapi, tentu saja harus dihindari penggunaan yang berlebihan.

Angka kasus kelainan bawaan pada janin memang tidak besar. Di luar negeri diperkirakan hanya 3 persen dari seluruh kelahiran. Sedangkan di Indonesia, walau masih butuh penelitian pasti, Gulardi menduga lebih kecil dari itu. Tapi tentu tetap perlu mendapat perhatian. "Sebab, jika terjadi kelainan, terutama pada tiga bulan pertama kehamilan, setelah lahir tak gampang memperbaikinya," kata Agus.

Selain keahlian dokter, waktu dan dana besar, tentu sangat dibutuhkan doa. Lebih dari itu: kewaspadaan dan kehati-hatian pasangan suami-istri.

Dwi Wiyana, Sunudyantoro (Surabaya)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data