Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXII/07 - 13 Juli 2003
   
Ilmu dan Teknologi

Meluncurkan Satelit dari Langit Biak

Rusia berminat memakai bandar udara Biak sebagai landasan pacu untuk sistem peluncuran satelit dari pesawat udara.

Tempat paling ideal untuk meluncurkan wahana antariksa adalah wilayah khatulistiwa Pasifik. Kesimpulan langsung datang dari Wernher von Braun (1912-1977), perancang roket berbahan bakar cair pertama V2 dan orang di balik sukses roket Saturn V yang membawa Apollo, misi pendaratan manusia di bulan.

Von Braun, yang lahir di Jerman dan menjadi warga Amerika Serikat, dalam bukunya Across the Space Frontier (1952) memang tak menyebutkan persis lokasi ideal itu. Tapi, jika melihat peta dunia, salah satu tempat paling strategis itu adalah Pulau Biak, yang terletak di mulut Teluk Cenderawasih, Papua.

Bukan tanpa alasan jika ada yang memilih Biak. Menurut Adi Sadewo Salatun, Deputi Kepala Bidang Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan pada Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan), dasarnya adalah mekanika orbit. Untuk dapat masuk ke orbit bumi, suatu wahana antariksa membutuhkan kecepatan 7,8 kilometer per detik. "Tapi, jika diluncurkan dari wilayah khatulistiwa, wahana itu hanya butuh 7,4 kilometer per detik karena mendapat bantuan dari kecepatan rotasi bumi yang 0,4 kilometer per detik," kata Adi.

Selain itu, roket yang diluncurkan dari khatulistiwa mampu membawa muatan 25 persen lebih berat ketimbang roket yang diluncurkan dari lokasi lain. Itulah sebabnya perusahaan seperti Air Launch Aerospace Corporation—gabungan perusahaan bidang penerbangan dan antariksa milik pemerintah Rusia—memilih Biak sebagai bagian dari sistem peluncuran wahana antariksa dari udara (air launch).

Proyek sistem peluncuran satelit dari udara mulai dikembangkan Air Launch pada 1999. Tapi semua teknologi yang diterapkan dalam sistem ini telah teruji lama. Pesawat kargo—Antonov 124-100AL—yang menjadi pelataran luncur terbang, merupakan modifikasi dari Antonov 124-100 Ruslan, pesawat kargo terbesar kedua buatan Antonov Aeronautical Scientific/Technician Complex. Roket dua tingkat Polyot dirancang bangun di Pusat Roket Negara Academician V.P. Makeev Design Bureau, yang berpengalaman membuat dan meluncurkan misil balistik dan orbital sejak pertengahan 1950-an.

Berbeda dengan peluncuran roket dari daratan, pada sistem peluncuran dari udara pesawat Antonov 124-100AL mengangkut roket Polyot yang memuat satelit ke ketinggian 10-11 kilometer. Di ketinggian yang gaya gravitasinya mendekati nol itulah roket dikeluarkan dari pesawat. Pada jarak 250 meter dari pesawat, roket akan menyalakan pendorongnya untuk menuju orbit.

Agar kinerja wahana peluncur maksimal, sistem itu membutuhkan lapangan udara antara yang dekat dengan khatulistiwa. Setelah mencari di seluruh dunia, Air Launch menemukan Bandara Frans Kaisieppo, yang terletak hanya beberapa detik dari garis khatulistiwa (0o11"31' lintang selatan).

Air Launch kemudian menjalin kerja sama dengan perusahaan swasta Indonesia, PT Multi Indo Raya Asia (MIR Asia). Menurut Nono Hardiono, Direktur Utama MIR Asia, pihaknya dan Air Launch membagi rata kewajiban penyediaan investasi yang totalnya mencapai US$ 120 juta-130 juta. Rencananya, di Biak mereka akan membangun fasilitas pengisian bahan bakar, baik untuk roket peluncur maupun untuk pesawat pengangkut, fasilitas penyiapan peluncuran, dan fasilitas pendukung peluncuran. "Kalau landasan pacunya, tak ada masalah," kata Nono. Bandara Frans Kaisieppo memiliki panjang landasan pacu 3.500 meter. Padahal Antonov 124-100AL hanya butuh panjang landasan 3.000 meter.

Di Biak juga telah berdiri Stasiun Telemetry Tracking and Command milik Indian Space Research Organisation (ISRO) yang dioperasikan oleh Lapan. Fasilitas ini berfungsi memonitor kondisi kesehatan, memandu proses pemisahan dan lintasan satelit milik India pada saat peluncuran. Menurut Adi, sangat terbuka kemungkinan pemanfaatan fasilitas itu untuk kepentingan Air Launch.

Biak—pulau seluas 2.455 kilometer persegi—bukan kali ini saja dilirik pihak asing. Menurut Adi, sejak Menteri Pertama Ir. H. Juanda mengemukakan konsep peluncuran roket internasional di Biak pada 1960, daerah itu sudah menjadi incaran. Terlebih, setelah peluncuran satelit Palapa A pada 1976, Presiden Soeharto menginginkan agar peluncuran satelit dapat dilakukan dari bumi Indonesia sendiri. Mulailah berdatangan perusahaan asing, salah satunya Rockwell Company, perusahaan yang membuat pesawat ulang-alik. Tapi kerja sama gagal terwujud lantaran Rockwell tak mendapatkan izin ekspor dari pemerintahnya.

Rencana membangun pelabuhan antariksa sempat tenggelam. Tapi Lapan tetap mengantisipasi kemungkinan itu dengan membebaskan tanah di Tanjung Korem, pantai sebelah timur Biak. Pada akhir 1980-an perusahaan E'Prime Aerospace Corporation dari Amerika Serikat menyatakan kesanggupannya membangun pelabuhan antariksa dengan catatan Indonesia memberikan satelit Palapa sebagai "kelinci percobaannya". Pemerintah Indonesia tak mau mengambil risiko itu.

Selain Amerika, Cina dan Ukraina juga pernah mengajukan proposal pelabuhan antariksa di Indonesia. Cina memilih Riau, sedangkan Ukraina memilih Pulau Lembe di Sulawesi Utara, yang kurang strategis dibanding Biak. Dari aspek keamanan, peluncuran dari Biak lebih terjamin karena di sebelah timurnya merupakan Samudra Pasifik, yang relatif jarang penghuninya.

Kini MIR Asia sedang melakukan tahap studi kelayakan. "Diharapkan hingga akhir tahun ini semua persoalan peraturan dan administrasi sudah dapat diselesaikan," kata Nono. Tahap pengembangan sistem ini berlangsung tiga tahun sejak 2002 sehingga pada 2006 sudah masuk tahap komersial. Meski bersiklus hidup selama 20 tahun, proyek ini diperkirakan sudah kembali modal pada empat setengah tahun sejak mulai melakukan jasa peluncuran. Air Launch menargetkan tingkat peluncuran 5-6 satelit per tahun.

Kehadiran Air Launch akan menjadi alternatif peluncuran wahana antariksa. Jika dibanding dengan sistem peluncuran dari darat (land launch) dan peluncuran dari laut (sea launch), peluncuran dari udara dapat menekan biaya peluncuran. Peluncuran dari darat membutuhkan dana lebih dari US$ 100 juta, dan peluncuran dari laut US$ 60 juta-80 juta. Sedangkan sistem Air Launch mematok biaya US$ 20 juta-23 juta. Selain itu, Air Launch mengklaim teknologinya ramah lingkungan karena roket Polyot memakai bahan bakar oksigen cair dan kerosin—sejenis minyak tanah. Sistem peluncuran ini juga tak terpengaruh oleh kondisi cuaca karena pesawat Antonov 124-100AL dapat terbang ke wilayah peluncuran yang cuacanya bagus.

Tampaknya proyek Air Launch bakal berjalan mulus. Apalagi Presiden Megawati Soekarnoputri, saat berkunjung ke Rusia pada April lalu, telah bersetuju dengan Presiden Vladimir Putin untuk meletakkan dasar-dasar kerja sama ruang angkasa, termasuk pemanfaatan tenaga atom buat maksud-maksud damai. Menurut Adi, Lapan dan Rusia Aviation and Space Agency telah menandatangani kesepakatan keinginan bekerja sama. Namun, Rusia mensyaratkan agar Indonesia mematuhi aturan MTCR (Missile Technology Control Regime)—kelompok yang mencari pembatasan proliferasi rudal dan teknologi rudal. MTCR melarang ekspor teknologi dan sistem peluncur yang mampu membawa muatan minimal 500 kilogram ke ketinggian 800 kilometer, termasuk sistem yang dikategorikan sebagai senjata pemusnah massal.

Bagi Lapan, proyek Air Launch merupakan langkah awal untuk mewujudkan ambisi membangun pelabuhan antariksa seperti Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida. Menurut Adi, jika proyek ini dapat beroperasi dan Rusia melihat kesiapan infrastruktur di Biak, pelabuhan antariksa akan lebih mudah dikembangkan. "Bukan tak mungkin nantinya Biak menjadi pelabuhan antariksa untuk kawasan Asia-Pasifik," kata Adi.

Dody Hidayat



Bagaimana 'Air Launch' Bekerja?

Sistem air launch sangat tepat untuk menempatkan satelit-satelit komersial berukuran mikro—3.000-4.000 kilogram untuk orbit rendah, 1.600-1.700 kilogram untuk orbit transfer geostasioner (GTO), atau 600-800 kilogram untuk orbit geostasioner (GSO). Satelit mikro dapat berupa satelit untuk televisi atau radio, pengindraan jarak jauh, atau komunikasi data. Menurut ALAC, pasar satelit memiliki prospek yang baik, hingga pada 2023 ALAC mampu meluncurkan dua sampai tujuh satelit setahun.

Pesawat Antonov 124-100AL

Buatan: Antonov Aeronautical Scientific/Technical Complex

Bobot kotor tinggal landas: 392 ton

Jangkauan terbang maksimal: 4.500 km (dengan muatan penuh)

Kecepatan jelajah: 720-800 km per jam

Ukuran kontainer: 36,5 x 6,4 x 4,4 meter

Pulau Biak

Panjang: 72 km

Lebar: 37 km

Bandara Frans Kaisieppo

Panjang landasan pacu: 3.570 m

Lebar: 45 m

Tebal fondasi: 10 m

Satelit



  1. Pesawat Antonov 124 100AL mengangkut roket Polyot dan muatannya (satelit), tinggal landas dari Bandara Kaisieppo, Biak, menuju lokasi peluncuran.
  2. Pada ketinggian 10 kilometer, gravitasi mendekati nol, Antonov membuat manuver naik-turun. Ketika pesawat dalam posisi naik, roket Polyot dilepaskan dari kontainer pesawat.
  3. Pada jarak 250 meter dari pesawat, Roket Polyot menyalakan pendorong tingkat pertamanya. Pusat Pengendali Misi di Mias, Rusia, akan memandu pergerakan roket.
  4. Pendorong tahap satu (NK-43M) lepas dari roket. Tak berapa lama pendorong kedua (RD-0124) menyala.
  5. Pemisahan pendorong tahap dua. Pendorong tahap teratas menyala untuk membawa satelit ke orbitnya. Antonov yang masih terbang memonitor pergerakan satelit.
  6. Antonov 124-100AL mendarat di Bandara Frans Kaisieppo, Biak. Dari situ ia terbang ke bandar udara basis di Samara, Rusia.

Roket Dua Tingkat Polyot

Buatan: Academician V.P. Markeev Design Bureau

Panjang: 32,5 meter

Diameter: 3,2 meter

Pendorong tahap satu: NK-43M, bahan bakar oksigen cair dan kerosin


Pendorong tahap dua: RD-0124, bahan bakar oksigen cair dan kerosin


Pendorong tahap teratas: S5.88


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Soekarwo Dekati PGRI - 07 Sep 2008 | 18:42 WIB
Tarif PDAM Bojonegoro Naik 50 Persen - 07 Sep 2008 | 18:38 WIB
PT Sarana Tanggapi Surat Petani Super Toy HL-2 - 07 Sep 2008 | 18:34 WIB
Hanya Enam Parpol di Malang yang Penuhi Kuota Perempuan - 07 Sep 2008 | 18:33 WIB
Tiket Kereta Bojonegoro-Jakarta Ludes Terjual - 07 Sep 2008 | 18:25 WIB
Begini Rasanya Menjadi Pegawai Pertama Google - 07 Sep 2008 | 18:18 WIB
Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai - 07 Sep 2008 | 18:10 WIB
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia - 07 Sep 2008 | 18:02 WIB
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD - 07 Sep 2008 | 17:51 WIB
Indonesia Diminta Garap Energi Iran - 07 Sep 2008 | 17:29 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data