|
Penguatan nilai tukar rupiah ternyata belum ada pengaruhnya terhadap tarif listrik. Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) tetap saja menaikkan tarif per tiga bulan sebesar rata-rata enam persen mulai Juli. Tarif baru ini akan berlaku sampai akhir September 2003. Padahal penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika lumayan signifikan. Sepanjang pekan lalu, rupiah diperdagangkan pada kisaran Rp 8.200 per dolar AS, sementara asumsi produksi listrik PLN dipatok pada kurs Rp 9.000.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan penguatan rupiah belum banyak mempengaruhi komponen biaya produksi listrik karena kurs rupiah saat ini masih berada di atas rata-rata perhitungan harga jual. ”Kurs yang ideal untuk menghentikan kenaikan tarif adalah Rp 8.000 per dolar AS,” katanya. Karena itu, setelah menaikkan tarif Juli ini, pemerintah kemungkinan besar juga tetap akan menaikkan tarif pada Oktober nanti.
Saat ini, kata Purnomo, harga listrik masih di bawah harga keekonomian Rp 630 per kilowatt hour (kWh) atau US$ 7 sen per kWh. Dengan kenaikan yang sekarang, tarif listrik baru mencapai Rp 580 per kWh. ”Pemerintah akan menghentikan tarif jika sudah mencapai harga keekonomiannya,” kata Purnomo pekan lalu. Diperkirakan, tarif listrik sudah mencapai titik keekonomiannya pada tahun 2004 nanti.
|