Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXII/07 - 13 Juli 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Pesta di Kala Paceklik

Indosat membagi bonus dan tunjangan sebesar Rp 36,46 miliar kepada direksi dan komisarisnya. Untuk mendongkrak kinerja atau pemborosan?

RAPAT umum pemegang saham Indosat yang semula berjalan tertib mendadak gaduh ketika seorang pemegang saham mengajukan pertanyaan yang menggelitik. "Memang operasinya berjalan lancar, tapi bagaimana jika pasiennya jadi koma?" katanya. Pertanyaan itu menanggapi keputusan rapat yang menyetujui rencana pembagian bonus tahun 2002 dan remunerasi (gaji dan tunjangan) tahun 2003 kepada direksi dan komisaris sebesar Rp 36,46 miliar. Sebagian yang hadir dalam rapat yang berlangsung pada Kamis dua pekan lalu itu kontan tertawa, sedangkan sebagian lagi tersenyum kecut.

Yang dimaksud operasi dalam pertanyaan pemegang saham tadi tak lain adalah divestasi 42 persen saham pemerintah di Indosat. Meski sempat diprotes sebagian karyawan dan sejumlah tokoh Indonesia, penjualan mayoritas saham pemerintah kepada Singapore Technologies Telemedia, Singapura, memang berjalan lancar. Saham pemerintah sudah berpindah tangan dan rapat pemegang saham tadi adalah yang pertama di bawah kendali ST Telemedia. Tapi benarkah Indosat kini sedang koma?

Pemegang saham tadi bisa jadi berlebihan. Kondisi Indosat masih segar bugar. Selama triwulan pertama 2003, perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia itu mampu membukukan laba bersih Rp 53,75 miliar. Tapi, apakah dengan laba sebesar itu Indosat layak membagikan remunerasi sampai Rp 33 miliar, itu yang jadi soal. Jumlah itu kira-kira sama dengan 10,5 persen laba bersih yang ditargetkan Indosat pada tahun ini, sebesar Rp 314 miliar. Bandingkan misalnya dengan laba bersih pada tahun 2001, yang mencapai Rp 1,45 triliun. Ketika itu, remunerasi yang diterima direksi dan komisarisnya cuma Rp 10 miliar—tak lebih dari satu persen.

Susahnya, kinerja keuangan Indosat terus memburuk dalam tiga tahun terakhir. Pendapatannya terus menurun. Begitu pula perolehan labanya. Pada tahun 2000, misalnya, Indosat berhasil membukukan laba bersih Rp 1,64 triliun. Bisnis utama Indosat, sambungan langsung internasional (SLI), sudah mengecil, sementara bisnis selulernya melalui Satelindo dan IM3 masih belum mampu menyaingi Telkom, yang memiliki Telkomsel. Agustus nanti, Telkom sudah mendapatkan lisensi SLI. Dengan basis pelanggan lebih dari 5 juta, Telkom akan dengan mudah melibas Indosat, yang cuma punya pelanggan tak lebih dari 20 ribu di bisnis ini.

Analis telekomunikasi Danareksa, Joshua Tanja, memperkirakan pendapatan Indosat bakal turun pada tahun ini karena keluarnya izin SLI Telkom. Bisa jadi angkanya akan lebih kecil dari target Indosat. Data yang diperoleh TEMPO memang menunjukkan indikasi penurunan pada triwulan pertama tahun ini. Bisnis seluler yang kini menjadi andalan Indosat mulai kedodoran melawan Telkomsel. Pada Januari lalu Satelindo masih menguasai 27 persen pasar dan pada Maret lalu tinggal 26,2 persen. Sebaliknya, pasar Telkomsel justru naik dari 52 persen menjadi 52,9 persen. Pada saat yang sama, pendapatan seluler Indosat lebih rendah 20 persen dari yang ditargetkan.

Tak aneh jika pemegang saham waswas. Dan karyawan pun ikut terkaget-kaget mendengar bagi-bagi tunjangan yang sangat besar itu. Dengarlah apa yang dikatakan Tris Budi Suroso, Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Indosat. "Tiga tahun terakhir ini, sebagian karyawan tidak pernah mendapatkan kenaikan gaji," katanya. Para karyawan bisa menerima keputusan itu karena keuntungan Indosat memang terus menurun. Tapi kali ini mereka mempertanyakannya. Apalagi rapat pemegang saham kali ini juga dilaksanakan di sebuah ruang pertemuan yang lumayan mahal di Plaza Bapindo. Pada tahun-tahun sebelumnya, rapat dilaksanakan di kantor Indosat. "Kami cuma ingin manajemen bersikap adil," kata Tris.

Juru bicara Indosat, Indar Atmanto, menolak berbagai kekhawatiran tadi. Menurut dia, kinerja Indosat pada tahun ini tidak akan menurun. Lihat saja pendapatan Indosat pada triwulan pertama 2003, yang mencapai Rp 1,9 triliun atau naik 27 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2002. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga naik 22 persen menjadi Rp 1 triliun. Indosat pun tak khawatir terhadap Telkom yang akan segera masuk ke bisnis SLI. Soal remunerasi yang dianggap kelewat besar, Indar cuma menjawab, "Besar atau kecil itu relatif." Memang, angka itu bisa sangat besar jika kinerja Indosat ternyata menurun. Sebaliknya, bisa jadi angka itu kecil kalau Indosat membaik.

Iwan Setiawan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data