Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXII/07 - 13 Juli 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Jualan Besar, Peminat Terbatas

Sembilan calon pembeli telah lolos dari saringan pertama program penjualan aset strategis. Diduga, BPPN akan sulit mendapatkan harga yang bagus.

Barang dagangan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) lagi-lagi kurang laku. Utang empat perusahaan besar yang ditawarkan dalam program penjualan aset strategis (PPAS) tahap pertama ini ternyata cuma diminati sembilan investor. Kali ini yang dijual adalah utang Grup Texmaco (tekstil dan rekayasa), Chandra Asri (petrokimia), Bakrie Nirwana Resort (perhotelan), dan Rajawali III (pabrik gula). Total jenderal, BPPN menjual nilai utang keempat perusahaan sebesar hampir Rp 40 triliun, yang terdiri dari US$ 2,5 miliar plus Rp 18,6 triliun. Ini jumlah yang sangat besar dan tentu tak mudah menjualnya. Apalagi kondisi empat perusahaan itu tidaklah terlalu bagus.

Sedianya, BPPN sudah mendapatkan penawaran akhir (final bid) dari para calon investor pada Jumat pekan lalu. Namun, BPPN menunda pengajuan penawaran akhir sampai Jumat pekan ini karena para investor meminta ada kunjungan ke pabrik (plant visit). Selain itu, mereka juga ingin berbicara dengan manajemen perusahaan yang dijual. "Mereka sudah lolos dari tahapan selektif. Tapi, karena mereka minta tambahan waktu, ya kita undur," kata Deputi Ketua BPPN Bidang Asset Management Credit (AMC), M. Syahrial. Namun, penundaan ini tidak mengganggu proses penjualan keempat aset tersebut.

Di antara empat aset itu, bisa dibilang cuma Texmaco yang mendapatkan penawaran dari perusahaan yang memang bergelut di bisnis yang sesuai dengan Texmaco. Dua penawar itu adalah Konsorsium Utara Capital Limited (Malaysia) dan National China Bluestar (Cina). Konsorsium Utara Capital dipimpin oleh Mirzan Mahathir. Mirzan kini memiliki Konsorsium Perkapalan Berhad dan sejumlah perusahaan yang bergelut di bidang rekayasa. Sementara itu, National China Bluestar tak lain adalah perusahaan negara yang bergerak di bidang tekstil. Melihat dua penawar ini, tampaknya Texmaco bakal jatuh ke tangan perusahaan yang memang berniat mengelolanya kelak.

Berbeda dengan Texmaco, tiga aset yang lain tampaknya bakal jatuh ke tangan lembaga-lembaga keuangan yang memang banyak mengincar aset murah di Indonesia. Chandra Asri, yang dulu dimiliki Bambang Trihatmodjo, Prajogo Pangestu, dan Henry Pribadi, diminati Glazers & Putnam Investment Ltd. dan Chinkara Capital. Sementara itu, Konsorsium Mandari dan Konsorsium Bapindo meminati Rajawali, pabrik gula milik Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Bakrie Nirwana Resort, yang semula dimiliki keluarga Bakrie, akan diperebutkan tiga investor, yaitu Goal Trading Assets Ltd., PT Bahana Sarana, dan R.W. Investment Ltd.

Sedikitnya jumlah peminat aset strategis ini dinilai oleh analis Danareksa, Erwan Teguh, sebagai sesuatu yang wajar. Dengan besaran utang yang sangat mencengangkan, jelas tak mudah mendapatkan calon pembeli. Lihat saja Grup Texmaco. Nilai utang perusahaan ini kepada BPPN mencapai lebih dari Rp 25 triliun (US$ 1,75 miliar plus Rp 11 triliun). Begitu pula dengan kewajiban Chandra Asri ke BPPN, yang sampai US$ 517 juta. Dengan diskon yang cukup besar sekalipun, harga beli Texmaco atau Chandra Asri masih sulit dijangkau.

Selain itu, aset-aset ini juga bukan perusahaan mengkilap. Kalau bicara bisnis Texmaco, pasar tekstil dan produk tekstil di dunia kini sedang menghadapi kelebihan pasokan sehingga harganya jatuh. Lihat saja kinerja Texmaco Jaya yang merugi. Sementara itu, bisnis rekayasa jelas masih belum jelas prospeknya. Konfigurasi bisnis otomotif yang menjadi target utama Texmaco, misalnya, sudah berubah total. Incaran pabrik-pabrik otomotif bukan lagi pasar domestik melainkan regional, dan merger menjadi salah satu tren yang kuat di bisnis ini. Karena itu, sulit membayangkan bagaimana divisi rekayasa Texmaco bisa masuk ke bisnis otomotif dengan sukses. "Kita sulit mengukur tingkat kompetitifnya," kata Erwan.

Bisnis petrokimia yang digeluti Chandra Asri tak berbeda jauh. Sejak proteksi berupa bea masuk dicabut pemerintah, bisnis Chandra Asri kontan surut. Sejak didirikan, perusahaan ini tak pernah untung. Tahun lalu, Chandra Asri rugi US$ 11 juta atau sekitar Rp 90 miliar. Bisnis perhotelan pun belakangan makin terpuruk gara-gara tiga pukulan sekaligus, yakni ambruknya World Trade Center di New York, kasus bom Bali, dan sindrom pernapasan akut (SARS). Akibatnya, Bakrie Nirwana Resort sempat meminta restrukturisasi ulang karena proyeksi pendapatannya ternyata tak ada yang bisa dipenuhi.

Dengan kondisi seperti itu, tak akan banyak perusahaan yang meminati aset-aset tersebut. Sangat berbeda dengan suasana ketika pemerintah menjual Indosat, Bank BCA, atau Bank Danamon. Harganya oke dan kondisi perusahaannya lumayan bagus. Lebih dari itu, kata Erwan, kalaupun sudah berhasil membeli perusahaan-perusahaan ini, para investor belum bisa langsung menikmati keuntungan. Mereka bahkan harus mengeluarkan dana tambahan untuk menjalankan roda pabrik-pabrik ini. Texmaco, misalnya, kini sibuk mencari modal kerja untuk menjalankan divisi rekayasanya. Sementara itu, pabrik tekstilnya kerepotan mendapatkan pembiayaan ekspor (letter of credit atau L/C).

Sumber TEMPO yang tahu betul seluk-beluk beberapa perusahaan ini mengungkapkan bawa memang tak mudah menjual keempat aset tersebut. Meskipun diberi atribut strategis, toh para investor tak begitu tertarik karena nilai komersialnya rendah. Harganya pun diperkirakan tidak terlalu tinggi karena risiko yang mesti ditanggung para investor juga sangat besar, terutama dalam penyediaan modal kerja. Sumber itu mencontohkan rencana penjualan Bakrie Nirwana Resort. Perusahaan perhotelan di Bali ini sudah ditawarkan sejak dua tahun lalu, tapi selalu gagal dijual. "Dibolak-balik bagaimana pun sulit," katanya.

Melihat itu semua, tampaknya BPPN akan sulit mendapatkan harga yang bagus. Tapi, lembaga itu mesti menjual aset-aset ini karena pemerintah sudah menargetkan pendapatan dari BPPN sebesar Rp 28 triliun pada tahun 2003. Jadi, tak ada pilihan lain, apa boleh buat.

MT, Thomas Hadiwinata, Setri Yasra


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data