Onderdil 'Made in' Mayangan Industri rumah tangga di Mayangan, Pasuruan, mampu membuat aneka suku cadang mobil dan sepeda motor. Potensinya perlu lebih ditingkatkan. |
DERIT logam yang saling gesek ditingkahi suara bising mesin bubut terdengar bersahut-sahutan. Riuh bebunyian itu bukan berasal dari dalam kompleks sebuah pabrik, melainkan dari rumah-rumah penduduk di Mayangan. Kampung padat di Kota Pasuruan, Jawa Timur, itu memang dikenal sebagai sentra industri kecil penghasil suku cadang mobil dan sepeda motor.
Di rumah-rumah warga Mayangan, mesin-mesin bor, bubut, dan poles hadir berdampingan dengan lemari, meja-kursi, dan perabot lainnya. Dengan peralatan sederhana itu, para perajin membuat suku cadang dan perlengkapan kendaraan bermotor. Jenisnya beraneka, dari footstep (pijakan kaki sepeda motor), power (penjepit footstep), tutup pentil, underbone (peranti pedal rem dan pedal persneling), pelat besi untuk setir mobil, velg, peredam panas knalpot, dan bermacam baut.
Di rumah merangkap bengkel dan gudang milik Mahfud, beberapa anak muda terlihat berkutat di depan sebuah mesin bubut. Mereka sibuk menempa sepotong besi. Sesekali mereka mengangkat besi dari mesin bubut, mengamatinya dengan teliti, untuk memastikan ketepatan ukuran yang akan dicapai.
Di belakang rumah, tiga pekerja lain sibuk menangani proses pelapisan dengan krom. Caranya sederhana. Suku cadang yang sudah dicuci hingga bersih dari debu dan minyak dicelupkan satu per satu ke dalam kolam berukuran 1 x 2 meter setinggi 1 meter. Setelah dicelupkan, onderdil tadi diletakkan di para-para untuk dikeringkan.
Yang juga menarik, di tengah para pekerja pria juga ada buruh wanita. Mereka biasanya ditugasi mencuci suku cadang yang baru selesai dibuat dengan menggunakan air sabun. Setelah dibilas, onderdil-onderdil itu masuk ke bagian pelapis krom tadi.
Onderdil yang dihasilkan cukup banyak hingga menumpuk dan menyita ruang yang tersisa. Akibatnya, Mahfud dan istrinya mesti rela tidur di ruang tamu. Itu pun kasurnya masih berimpit dengan berbagai perlengkapan. "Kadang-kadang berisik juga kalau menyenggol barang-barang itu," katanya sambil tergelak.
Namun pengorbanan Mahfud terbayar lantaran penghasilan dari bisnis ini terbilang lumayan. Mahfud mengaku bisa mengumpulkan Rp 12 juta per minggu dari kegiatan membuat seribu pelat setir. Sedangkan dari produksi 1.500 unit underbone, ia meraup Rp 37 juta setiap minggunya.
Ali Sutomo, perajin lain, mengatakan bahwa ia memperoleh Rp 2 juta per minggu dari pembuatan 4.000 tutup pentil. Di luar itu, ia meraup Rp 2,5 juta dari pekerjaan membuat 3.000 baut spion per minggu.
Limpahan rezeki juga dinikmati Haji Salidin. Setiap pekan, perajin yang mempekerjakan 20 orang ini memperoleh Rp 40 juta dari jasa membuat footstep, power, baut spion, peredam panas knalpot, dan underbone.
Tak aneh bila kehidupan para perajin Mayangan terbilang makmur. Rumah Haji Salidin cukup mentereng, dilengkapi seperangkat kursi tamu bergaya Eropa serta aneka barang elektronik seperti televisi, pemutar VCD, dan lemari pendingin. Di garasi, nongkrong sebuah Daihatsu Espass keluaran terbaru, siap mengantar pemiliknya ke mana saja.
Denyut kencang industri onderdil di Mayangan tentu tak lepas dari besarnya jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, yang sewaktu-waktu tentu memerlukan onderdil. Menurut Budi Pranoto, Direktur Astra Otoparts, suku cadang buatan pabrik biasanya cuma mampu menutup 30 persen kebutuhan yang ada. "Industri kecil ikut menutup kekurangannya," ujarnya.
Dan ternyata onderdil made in Mayangan tak cuma dipasarkan di Indonesia. Mahfud menuturkan, seorang pedagang langganannya dari Bogor bahkan melempar produk berupa pelat besi setir mobil buatannya sampai ke mancanegara. "Dia bilang pelat setir itu diekspor ke Amerika, Australia, dan negara-negara Eropa," tutur Mahfud bangga.
Namun potensi perajin Mayangan masih terbatas pada produksi saja. Mereka belum memahami proses pemasaran dan distribusi barang. Para perajin juga baru bekerja jika ada pesanan. Mereka melakukannya untuk menghindari risiko barang tak terjual. "Kalau barang dibuat tapi tak ada yang beli, bisa bangkrut kita," ujar Ali.
Kelemahan lain adalah tipisnya modal sehingga sulit mengembangkan usaha. Selama ini, para perajin membesarkan usaha lewat modal sendiri yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Mereka hampir tak pernah berhubungan dengan bank. Sebaliknya, bank juga tak pernah menawarkan kredit kepada mereka.
Padahal, kalau saja pemerintah memberikan dukungan kepada perajin Mayangan—baik lewat pembinaan teknik maupun pembiayaan—usaha milik wong cilik ini bisa lebih cepat berkembang sehingga berpotensi membuka lebih banyak lapangan kerja, bahkan meraup devisa. Apalagi, dalam era otonomi daerah, para bupati diharapkan bisa berbuat lebih banyak bagi putra daerahnya. Demikian pula para bankir di kantor-kantor cabang serta tokoh-tokoh kamar dagang dan industri daerah.
Nugroho Dewanto, Eduardus Karel Dewanto, Sunudyantoro (Pasuruan)
|