Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 18/XXXII/29 Juni - 05 Juli 2003
   
Surat

Eksploitasi Anak di Wilayah Konflik

KITA kerap tak menyadari melakukan eksploitasi terhadap anak-anak. Setelah terjadi sebuah peristiwa, baru terpikirkan dampaknya. Setidaknya kesan demikian yang dapat kami tangkap dari foto halaman depan Majalah TEMPO Edisi 16-22 Juni 2003. Di cover itu, tampak seorang anak laki-laki sedang memegang senjata dengan sorot mata tajam sembari menyunggingkan senyuman, berlatar belakang bendera yang identik dengan bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Dengan melihat situasi keamanan di Aceh saat ini yang dirundung konflik, bukankah foto tersebut cenderung mengundang maut bagi sang anak? Sebab, bisa saja pihak yang antipati terhadap keberadaan GAM akan menjadikan anak tersebut sebagai target pelampiasan kebenciannya. Bagaimana pula dengan anggota keluarganya? Tidak mustahil akan terkena getah dari penampilannya tersebut, misalnya dicap sebagai anggota GAM, padahal sama sekali tidak terlibat. Kemungkinan lain, yang tak kalah fatal, adalah bila ada anak yang mirip dengan dirinya bisa saja turut menjadi pelampiasan kebencian yang salah sasaran. Patut dipertanyakan pula proses pemotretan yang dilakukan, apakah anak tersebut memang secara sukarela berpose seperti demikian dan memang merupakan prajurit pendukung GAM atau justru merupakan hasil eksploitasi sang fotografer.

Kenyataan bahwa di daerah konflik ada sebagian anak-anak, berumur di bawah 18 tahun, yang kerap dimanfaatkan menjadi prajurit pendukung, mata-mata, atau sekadar menjadi pelayan bagi prajurit dewasa, memang tidak bisa dimungkiri. Bila foto tersebut sengaja ditampilkan untuk menggugah perasaan khalayak agar berempati terhadap eksploitasi anak di wilayah konflik, sepertinya hal itu kurang tepat. Akan lebih baik dan bermakna bila TEMPO memvisualkan anak-anak yang terlihat menderita akibat ekses konflik, seperti harus turut berulang kali mengungsi.

Seandainyapun TEMPO berkeinginan menyoroti secara khusus anak-anak yang dijadikan prajurit pendukung, hal itu tentu dapat ditempuh melalui visualisasi yang lebih netral, misalnya tidak menampilkan anak tersebut dengan atribut yang mengarah pada identifikasi salah satu pihak yang bertikai. Mudah-mudahan pemuatan foto seperti itu dan bentuk-bentuk eksploitasi terhadap anak tidak terjadi lagi.

J. ANTO

Direktur Eksekutif Kippas

Jalan Sei Serayu 97

Medan, Sumatera Utara 20122


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data