Memamerkan lenggak-lenggok penari ayu, dulu tayub pernah berjaya di telatah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sambil mabuk, para lelaki selalu berebut jadi pengibing, menari bersama si ledek. Begitu ketiban sampur, mereka dengan murah hati merogoh duit buat penari. Segala hajatan, dari sunatan, penikahan, sampai sedekah bumi, selalu diramaikan dengan tayub. Kini? Kesenian ini mulai mati di banyak daerah. Hanya sesekali suaranya terdengar sayup-sayup dari kampung terpencil. Di Blora dan Pati, masih banyak penggemar tayub, tapi para ledek-nya mesti pintar pula melantunkan lagu campur sari dan dangdut.