Cerita Ganjil dari Pondok Indah Harta senilai Rp 8 miliar di sebuah rumah mewah di Pondok Indah, Jakarta, digondol maling. Diduga ada keterlibatan orang dalam. |
RUMAH berlantai dua di Jalan Sekolah Duta Raya Blok TC Nomor 3, Pondok Indah, Jakarta Selatan, itu menjulang megah. Temboknya yang dicat putih dan krem, gentingnya yang berwarna cokelat, dipadu dengan jidat berbentuk lengkungan, membuat rumah gedong ini tampak wah. Lalu pagarnya yang kukuh setinggi sekitar 2,5 meter yang ditutup lapisan tak tembus pandang menebarkan kesan bahwa tempat tinggal Dina Risyad, Komisaris Utama PT Richardson (sebuah perusahaan obat), ini sulit ditembus orang jahat. Untuk bisa menginjakkan kaki ke halamannya, setiap tamu pun mesti mendapat izin dari satpam yang setiap hari bertugas di situ.
Itu sebabnya orang Jakarta geger saat mendengar kabar bahwa rumah kukuh bagaikan benteng itu bisa dibobol maling, pekan lalu. Apalagi barang yang digondol bukan main nilainya, meliputi 20 buah cincin emas, 5 buah emas batangan seberat masing-masing 1 kilogram, 20 buah berlian, sejumlah uang dolar Amerika, serta buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) mobil Toyota Harrier dan mobil Kia. Semuanya dibobol dari brankas yang ditaruh di dalam sebuah kamar di lantai dua rumah ini. Nilai totalnya ditaksir mencapai Rp 8 miliar!
Pencurian itu baru diketahui pada Rabu, sekitar pukul 10 malam, saat Dina Risyad pulang dari berlibur selama dua pekan di Bali. Ketika wanita 38 tahun ini naik ke lantai dua, kamar itu dalam keadaan acak-acakan kendati pintunya dalam keadaan terkunci. Diduga si maling masuk ke kamar dengan membuka genting, lalu menjebol eternit. Ini juga disampaikan oleh Dina kepada petugas Kepolisian Resor Jakarta Selatan. "Tidak ada jalan lain masuk ke kamar itu kecuali dengan menjebol genting," katanya.
Barang bukti yang diperoleh polisi di lokasi kejadian antara lain dua buah linggis, palu panjang, cutter, gergaji, tang, obeng, dan gunting. Tidak ada peralatan yang lebih canggih. Saat Kepala Kepolisian Sektor Kebayoran Lama, Komisaris Polisi Yaya Ahmudiarto, mengecek ulang Kamis pekan lalu, juga ditemukan jejak telapak kaki di dinding rumah. Tapi ia belum tahu pasti apa arti jejak ini. "Polisi masih mendalami, apakah jejak telapak kaki itu sengaja dibikin untuk mengaburkan penyelidikan atau ada maksud lain," kata Yaya.
Hanya, kapan pembobolan itu terjadi belum bisa dipastikan. Ada kemungkinan pencuri menggasaknya pada Selasa malam, sehari sebelum diketahui pemiliknya. Tak seorang pun penghuni rumah itu yang mengetahui kejadian ini. Ini cukup mengherankan karena, selama Dina pergi, rumah itu dihuni oleh seorang pembantu bernama Madina, yang sudah dua tahun bekerja di situ, tukang kebun bernama Jendi bin Werdi, yang sudah 4 tahun bekerja, dan seorang pengasuh bayi. Selain itu, rumah tersebut dijaga oleh tiga orang satpam, yakni Nahrudin Iskandar, Oscar Yohanes, dan Erwin Sanjaya, yang bertugas secara bergiliran.
Kebetulan pada Selasa malam itu hanya satu orang satpam yang menjaganya. Ini pula yang dipakai alasan oleh seorang satpam ketika ditanya TEMPO mengapa pencurian bisa terjadi. "Ya, gimana, cuma satu orang (yang bertugas)," ujarnya dengan muka masam.
Kamis pekan lalu, keenam orang penghuni rumah itu sudah diperiksa sebagai saksi oleh Kepolisian Resor Jakarta Selatan. Hasilnya? "Belum ada indikasi keterlibatan orang dalam," ujar Kepala Polres Jakarta Selatan, Komisaris Besar Polisi Abdur Rachman. Menurut dia, polisi masih terus mengusutnya karena ada keganjilan. Di antaranya tak satu pun orang yang tinggal di rumah itu mendengar suara atau melihat hal yang mencurigakan.
Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan, Komisaris Polisi Merdisyam, pihaknya masih terus menyelidik karena kasus ini cukup menarik. Katanya kepada pers, ada tiga kemungkinan. Pertama, pelakunya orang luar yang sudah memahami betul seluk-beluk rumah itu. Kedua, malingnya orang luar yang bekerja sama dengan orang dalam. Dan terakhir, pelakunya orang dalam sendiri.
Dari pengamatan TEMPO, membobol rumah itu tanpa diketahui oleh satpam sejatinya cukup sulit. Soalnya, pos petugas keamanan berada di sudut yang amat strategis, di sisi kiri rumah. Dari sini, penjaga bisa memelototi hampir semua sudut tembok dan atap rumah, termasuk terasnya. Bisa saja maling yang berpengalaman memanjat dinding samping rumah ini. Tapi ia mesti melewati bagian atas pos jaga untuk bisa melompat ke lantai atas, kecuali memakai tali.
Melihat sulitnya menembus rumah tersebut, kriminolog Adrianus Meilala cenderung ke kemungkinan kedua dan ketiga yang direka polisi. "Sebetulnya polisi sudah tahu bahwa mungkin sekali ada peran orang dalam di kasus ini," ujar dosen Universitas Indonesia ini.
Semua itu memang baru dugaan. Hanya hasil penyelidikan polisi yang bisa menyibak teka-teki di Pondok Indah ini. Yang pasti, kata Adrianus, kasus ini juga membuka kemungkinan bahwa masih banyak orang kaya di Jakarta yang lebih suka menyimpan duitnya di "bawah bantal". Dan di tengah masyarakat yang angka penganggurannya membengkak, cara ini sungguh memancing petaka.
Ardi Bramantyo, Poernomo G. Ridho, Eni Saeni, Amal Ihsan (Tempo News Room)
|