SARS, Pengalaman Berharga |
Dr. Tjandra Yoga Aditama
Ketua tim verifikasi SARS
Setelah merebak luas sejak November 2002, tampaknya kini situasi epidemiologik SARS severe acute respiratory syndrome) mulai terkendali. Untuk menilai situasi terkini dan apa yang harus dilakukan di masa mendatang, Badan Kesehatan Dunia, WHO, telah menyelenggarakan Global Conference on SARS: Where Do We Go from Now, pekan lalu, di Kuala Lumpur. Itulah pertemuan yang dihadiri lebih dari 1.000 peserta dari berbagai negara.
Dr. Gro H. Brundtland, Direktur Jenderal WHO, dalam forum tersebut mengatakan bahwa di banyak negara kasus SARS telah menurun dan dapat dikendalikan. Tentu ini hal melegakan, kendati hendaknya tidak membuat kita berpangku tangan. Banyak hal masih perlu dilakukan.
Kerja Sama Internasional
Sebenarnya sampai saat ini masih cukup banyak yang belum kita ke-tahui tentang SARS. Salah satunya adalah bagaimana sebenarnya per-kembangan penyakit ini di masa mendatang. Dr. David Heyman, Executive Director Communicable Diseases WHO, salah satu orang yang paling terkemuka dalam penanganan SARS di dunia, mengatakan bahwa kita belum lagi tahu pasti apakah SARS yang sekarang sudah menurun itu mungkin merebak lagi, atau menghilang, atau ada fluktuasi sesuai dengan musim. Untuk itu perlu survailans/pengamatan penyakit satu tahun lamanya untuk tahu apakah di satu musim tertentu penyakit ini meningkat lagi atau tidak.
Di pihak lain, hingga kini belum ditemukan obat yang jelas-jelas dapat membunuh virus SARS, begitu juga vaksin yang dapat mencegah penyakit itu. Yang jelas, para ahli belum sepenuhnya mengetahui patofisiologi penyakit ini. Dalam pertemuan di Kuala Lumpur itu disajikan beberapa perkembangan obat yang sedang diuji coba dan dibicarakan kemungkinan kerja sama penelitian multicenter agar dapat ditemukan pengobatan yang tepat sesuai dengan konsep evidence based medicine. Dibahas pula kemungkinan-kemungkinan untuk menemukan vaksin, kendati disadari penemuannya akan makan waktu cukup panjang.
Artinya, kendati jumlah penderita SARS sudah amat menurun, kita masih harus belajar banyak untuk mengenal penyakit ini lebih lanjut. Sementara itu, kalau toh SARS relatif sudah terkendali, dunia juga harus selalu siap-siap menghadapi kemungkinan berbagai penyakit menular "baru" dan penyakit yang "bangkit" kembali, atau new & emerging infectious disease. Beberapa contohnya adalah Nipah virus, West Nile virus, dan bahkan influenza yang pernah mematikan jutaan orang di masa lalu. Tegasnya, sementara kita boleh berbesar hati, kewaspadaan harus dijaga.
Pengalaman terhadap penanggulangan SARS menunjukkan bahwa kerja sama internasional mutlak perlu dilakukan untuk menangani berbagai penyakit menular di dunia. Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan Malaysia memuji peran sentral WHO dalam mengkoordinasi kerja sama internasional yang telah terbukti merupakan salah satu kunci sukses penanggulangan penyakit ini.
Satu sisi kerja sama ini adalah tersedianya informasi yang selalu up to date dan dapat diakses luas. Dalam hal ini, setelah pertemuan kepala negara ASEAN tentang SARS di Bangkok, Indonesia mendapat tugas membuat dan mengaktifkan ASEAN Website on New & Emerging Infectious Diseases, suatu tugas yang amat penting dan harus disukseskan. Pengalaman SARS menunjukkan bahwa setiap hari orang akan membuka website WHO atau CDC Atlanta untuk tahu perkembangan jumlah penderita dari hari ke hari. Nah, kebiasaan ini perlu dilanjutkan dengan secara rutin membuka berbagai website dan sumber informasi sahih lain agar kita tahu apa perkembangan penyakit di sekitar kita. Ketika SARS ramai berkecamuk, kalau ada orang yang mau ke luar negeri, dia akan bertanya apakah di negara yang akan dikunjunginya ada SARS atau tidak.
Kebiasaan ini perlu diteruskan. Kalau kita hendak pergi ke suatu negara, selain bertanya tentang adanya great sale, obyek wisata menarik, tanyakan juga adakah kemungkinan penyakit menular di daerah itu dan apa persiapan kesehatan yang perlu dilakukan.
Pelayanan Kesehatan
Salah satu isu besar SARS adalah penularan yang tinggi pada petugas kesehatan di rumah sakit, dan hal ini disajikan dalam berbagai makalah di Kuala Lumpur dengan segala masalahnya dan apa yang harus dilakukan di masa mendatang. Sebenarnya penularan di rumah sakit, yang dikenal dengan nama infeksi nosokomial, dapat terjadi untuk berbagai penyakit menular, bukan hanya SARS.
Cara penanggulangannya adalah dengan upaya pengendalian infeksi di rumah sakit. Kegiatan yang dilakukan amat luas, mulai dari penyediaan ruang perawatan isolasi, bekerja menurut prosedur baku, penggunaan alat pelindung diri bila diperlukan, sampai pada mencuci tangan secara teratur, yang semuanya merupakan dasar-dasar utama pengendalian infeksi. Sebelum ada SARS, mungkin di sana-sini upaya pengendalian infeksi di rumah sakit ini tidak dijalankan dengan ketat. Pengalaman SARS menunjukkan, walaupun penyakit ini belum ada obat dan vaksinnya, ternyata angka penularan di rumah sakit dapat ditekan dengan upaya nursing barrier dan isolasi yang ketat.
Pengalaman nyata ini perlu diterapkan pada berbagai penyakit infeksi lain. Kalau ada penyakit muntah berak, misalnya, petugas atau keluarga jangan lupa mencuci tangan sampai bersih. Kalau ada penyakit yang mudah menular, pengunjung pasien harus dibatasi, atau bahkan tidak boleh dikunjungi sama sekali, dan masyarakat tolong dapat mematuhi aturan ini guna mencegah penularan penyakit.
Di pihak lain, sarana pelayanan kesehatan haruslah terus dilengkapi. Petugas kesehatan juga harus benar-benar bekerja menurut standar prosedur yang baku, lebih hati-hati, lebih cermat, dan senantiasa mengikuti perkembangan ilmu mutakhir. Sewaktu menangani SARS, semua pihak berupaya memberikan pelayanan prima, dan hal ini harus dilanjutkan.
Dengan kemudahan transportasi, penyakit menular—baik SARS maupun yang lainnya—tidak mengenal batas negara, borderless, dapat saja pindah dari satu negara ke negara lain, tanpa paspor dan tanpa visa! Salah satu kunci suksesnya dunia menghambat penularan SARS antarnegara adalah dengan pemeriksaan kesehatan yang ketat di berbagai pelabuhan udara dan laut. Di masa mendatang, peranan kantor kesehatan pelabuhan yang kini sibuk dengan SARS harus terus dipelihara.
Dari dulu sebenarnya sudah ada aturan penggunaan/pengisian "kartu kuning kesehatan" sebelum kita masuk suatu negara untuk mencegah dan mendeteksi penyakit menular tertentu. Tetapi pengisian kartu ini sering diabaikan, dan biasanya kita hanya sibuk dengan kartu imigrasi dan bea cukai. Seharusnya hal ini diaktifkan terus sesuai dengan perkembangan penyakit menular yang ada, dan juga dipatuhi masyarakat luas.
Pengalaman juga menunjukkan bagaimana ketatnya pelaporan kasus SARS dilakukan di bulan-bulan lalu, sehingga setiap kasus di pelosok negeri dapat dipantau dengan baik. Di masa mendatang, proses pengamatan/survailans penyakit menular di masyarakat secara berkesinambungan juga harus terus digalakkan. Kita tidak boleh lagi "kagetan", kok mendadak ada peningkatan kasus penyakit infeksi tertentu di satu daerah.
Kalau data terkumpul secara rutin dan sistematis dari semua fasilitas kesehatan, sebelum ada peningkatan jumlah kasus yang berarti tentu sudah akan dapat dideteksi awal mulainya peningkatan jumlah kasus, sehingga ledakan jumlah penderita dapat diantisipasi dan bila mungkin dicegah. Konsep early warning system dalam mengikuti perkembangan pola penyakit menular harus digalakkan, dan hubungan antara rumah sakit, klinik, dan dinas kesehatan yang terbina baik dalam penanggulangan SARS perlu terus digalakkan, ada atau tidak ada SARS lagi.
Pertemuan di Kuala Lumpur ini kembali menekankan agar pengalaman menghadapi SARS menjadikan sistem pelayanan kesehatan lebih responsif, lebih bermutu, dan lebih terjangkau pula. SARS dapat dijadikan momentum untuk berbenah diri secara menyeluruh. Kalau pelayanan kesehatan tidak meningkatkan kemampuan dirinya di semua sisi, bukan tidak mungkin kita akan "kelabakan" lagi di masa mendatang bila ada wabah penyakit menular datang lagi menyerang dunia.
Jangan Menulari, Jangan Ditulari
SARS telah membuat semua orang mencoba hidup lebih sehat. Ada anjuran makan bergizi, olahraga yang cukup, jangan merokok, jangan meludah di sembarang tempat, dan cepat memeriksakan diri kalau sakit, yang semuanya sebenarnya merupakan dasar-dasar umum hidup sehat, dan—sekali lagi—harus diteruskan.
Penelusuran kontak yang dilakukan pada SARS juga dapat dijadikan pelajaran bahwa mereka yang berkontak dengan seseorang yang sedang sakit menular berpotensi untuk tertular. Karena itu, mereka yang sedang sakit menular, flu sekalipun, harus menjaga diri untuk tidak menulari orang lain, dan mereka yang berkontak dengan orang yang sedang sakit harus menjaga diri agar jangan sampai tertular. Kebiasaan menutup mulut ketika batuk atau bersin, misalnya, merupakan kebiasaan baik yang harus terus dipelihara, atau kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, atau tidak merokok, adalah bentuk-bentuk nyata gaya hidup sehat yang harus terus dibudayakan.
Pendeknya, selalulah berupaya hidup sehat. "Health is not everything, but without health, everything is nothing!"
|