Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 17/XXXII/23 - 29 Juni 2003
   
Investigasi

Robin "Ah Seng Punya Banyak Centeng"

NAMA Robin muncul setelah polisi Malaysia menggerebek sebuah rumah di Jalan Sekama, Kuching, Juni tahun silam. Di tempat itulah aparat memergoki keberadaan sebuah sindikat yang selama ini kerap menyekap tenaga kerja wanita dari Indonesia, lalu menjual paksa bayi-bayi mereka.

Aksi Robin dan komplotannya antara lain pernah diungkap seorang korban, Rowena (bukan nama sebenarnya). Wanita dusun kelahiran Menjalin, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, itu terang-terang mengaku kepada Hairiah, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH PIK), pernah diperkosa Robin sampai hamil. Setelah itu, dalam keadaan bunting besar, ia dibawa ke Jalan Sekama. Cuma, entah kenapa, dia tak jadi ditempatkan di sana. Robin memeramnya di sebuah rumah lain.

Tapi, saat dikonfirmasi, lelaki yang dikenal sebagai samseng (preman) itu gesit mengelak. Sampai sekarang, lantaran polisi tak punya cukup bukti, Robin masih lolos dari jerat hukum. Ia juga membantah telah menjadi tangan kanan Ah Seng, seorang cukong besar perdagangan perempuan dan anak di Kuching.

Kini Robin menghilang dari perbatasan Entikong, tempat "reputasinya" luas dikenal. Dia mengaku tak lagi menjadi cukong pencari tenaga kerja. "Saya kini pejalan kapallah," ujarnya dalam logat Melayu Cina yang pekat. Maksudnya, dia sekarang bekerja di perusahaan kapal ekspedisi. Diwawancarai awal Juni lalu melalui sambungan telepon internasional, Robin menjawab pertanyaan TEMPO dengan nada suara tinggi. Berikut petikannya.

Betul Anda telah memerkosa Rowena sampai hamil?


Tak ada itu. Saya tak kerja macam itulah. Dia boleh cakap (bicara) macam-macam. Dia menjual dirinya sendiri.

Bagaimana Anda bertemu Rowena?


Dia orang Kalimantan, datang ke Kuching mau bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Lalu saya tolong dia cari kerja. Sebelumnya dia sudah bekerja, tapi hanya tahan satu malam. Dia datang kepada saya dan bilang tak tahan kerja rumah tangga. Dia menangis, minta kerja di karaoke. Saya bilang, saya tak tahu soal itu. Kemudian dia pergi ke Kuala Lumpur. Setelah itu, kembali ke Kuching. Katanya, dia punya suami di Kuching.

Sewaktu Rowena hamil, Anda menyekapnya di sebuah rumah?


Tak ada itu. Saya kasih tahu lu orang, saya tak pernah berbuat begitu. Dia hamil dengan pacarnya orang Melayu, atau dengan siapa saya tak tahu. Saya tak pernah cerita soal ini sebelumnya. Waktu dia bunting, saya antar dia ke hospital (rumah sakit). Saya suruh dia pulang. Setelah itu, saya tak tahu lagi. Dia lalu ditahan polisi (karena urusan imigrasi—Red).

Waktu di Kuching, di mana dia menginap?


Di Kuching sini banyak rumahlah. Ada banyak teman dia. Saya tak tahu persis di mana dia menginap.

Katanya Anda sendiri yang mengantar dia ke rumah bersalin.


Eh, bukan begitu. Waktu dia bunting, saya suruh kawan saya antar dia ke hospital. Saya bantu dia duit. Sekitar RM 80 (Rp 170 ribu). Setelah ditahan polisi sebentar, dia pulang ke Indon (sebutan untuk Indonesia di Malaysia—Red), ke Kalimantan.

Benar Anda mau mengambil paksa dan menjual bayinya?


Taklah. Gila apa saya mengambil bayinya. Dia bawa bayinya pulang kampung.

Anda kenal Ah Seng?


Ya, saya tahu Ah Seng. Dia agen besar tenaga kerja wanita (TKW). Dia cari tenaga kerja dari Kalimantan untuk jadi pembantu rumah tangga di Malaysia.

Dia banyak menipu TKW untuk dijadikan pelacur?


Saya tak tahu itu. Anda tanya saja ke dia. Saya tahu dia agen besar. Dia kaya raya sekarang. Mobilnya mungkin 10 lebih. Rumahnya besar dan banyak. Bininya saja lima orang, ada yang berasal dari Kalimantan juga.

Menurut kesaksian para korban, Ah Seng juga kerap menjual paksa bayi-bayi TKW?


Saya tak tahu. Saya tak berani bicara.

Anda takut?


Dia (Ah Seng) punya banyak centeng. Dia punya geng besar. Kalau saya cakap ke Anda, nanti dia mengejar saya. Saya tak berani omonglah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Elpiji Tidak Akan Naik Selama Puasa - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
Gadai Saham Bakrie Dianggap Wajar - 29 Ags 2008 | 20:33 WIB
Pemerintah Jamin Pasokan Kebutuhan Pokok menjelang Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:32 WIB
Massa Gus Dur Demo KPU Jawa Timur - 29 Ags 2008 | 20:28 WIB
BI Siapkan Rp 77 Triliun untuk Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Kejaksaan Bojonegoro Periksa Staf Sekretariat Dewan - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Puluhan Ribu Ton Gula Petani Tidak Laku - 29 Ags 2008 | 20:24 WIB
Lokalisasi Seks di Malang Tutup, Takut Diancam Banser - 29 Ags 2008 | 20:21 WIB
Lapangan Terbang Jember Dioperasikan Secara Komersil - 29 Ags 2008 | 20:18 WIB
Pindad Rancang Panser Canon - 29 Ags 2008 | 20:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data