Semar Betawi di Perjamuan Politik Bagian dari Festival JakArt@2003, seniman Indonesia-Swiss menampilkan pentas teater multidimensi Oseng-oseng. Lakon gado-gado komedi satire yang ringan. |
BUNYI flute mengalun dalam ruangan gelap. Dari dinding ruangan terpancar sorot video dan slide abstrak. Tak ada yang istimewa, sampai akhirnya bunyi tersebut melengking naik-turun. Saat lampu ruangan menyala, bunyi seruling yang dimainkan Bernhard Batschelet menghilang.
Tak lama kemudian, flute berbunyi lagi. Kali ini mengiringi Pertiwi Nina, yang berperan sebagai penari dan pelayan, mendayu menyanyikan kidung Aceh. Di area tengah, Agus Jolly, yang berambut acak-acakan, gemetaran memegang sebuah topi yang terbuat dari kertas koran.
Di latar belakang tampak lima sosok berpakaian putih-putih. Empat pria memakai peci yang berwarna merah, kuning, dan hijau. Seorang lagi perempuan berkain panjang. Mereka membelakangi sebuah meja bundar tinggi dan lima kursi. Setelah sebuah nomor seruling selesai, Bernhard Batschelet undur ke belakang.
Pria di Kursi 1 berbalik. Ia berteriak "Merdeka" seraya berpidato soal kebangsaan, persatuan, dan nasionalisme. Setelah itu, ia berbalik ke posisi semula. Diselingi tembang mendayu Pertiwi, berikutnya giliran Kursi 2 yang berpeci kuning berpidato. Logatnya khas dengan akhiran "ken", mengingatkan pada logat medok mantan presiden Soeharto.
Pertunjukan multidimensi Oseng-oseng di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu pekan lalu, tampak satiris sejak awal. Adegan pemotongan pita menyiratkan ledekan untuk pejabat Orde Baru dulu. Juga kemunculan Oim Said sebagai Kursi 2, yang berbedak kuning dengan tangan terangkat, gampang diduga mewakili Soeharto. Selanjutnya, separuh pertunjukan tampak menjadi verbal. Sedangkan visualisasi rekaman video pertunjukan empat hari sebelumnya di Plaza Senayan menunjukkan kekurangsiapan materi.
Ide Oseng-oseng berawal dari pengamatan Agus Jolly atas kondisi politik yang bergerak cepat sejak 1998. Semula naskah drama pendek, tapi berubah total setelah dirinya bertemu dengan Bernhard Batschelet, 46 tahun, pada Februari lalu. Solois flute kelahiran Basel, Swiss, yang suka bereksperimen ini memasukkan banyak sekali ide, sehingga kolaborasi itu menjadi lakon gado-gado: musik, miniteater, dan instalasi visual.
Bernhard alias Made Berry Tukijo Sutan Malinkayo menyebutnya "oseng-oseng", yakni aksi memasak dengan mencampurkan semua makanan. Di situ dirinya menjadi figur Semar, badut, koki, sekaligus penyanyi opera. "Yang mirip sedikit fungsi kor dalam tragedi lakon kuno Yunani, Heroides. Rakyat selalu berada di atas panggung," kata Berry, yang beberapa kali menggelar pertunjukan kolaborasi sejak 1987.
Pada 1994, Berry menggelar Konser Goa Gong di Pacitan, Jawa Timur, yang mengekplorasi bunyi-bunyian sebuah goa purba. Di Sumatera Barat, pada 1995-1996 dan 1998, ia berturut-turut menampilkan repertoar Musik Gerak Alam, Jejak-Jejak, dan Bumi Gonjang-ganjing. Sedangkan pada 1999, kembali di Pacitan ia bermain dalam Opera Bagurau-Sirkus Manusia.
Tak aneh, di sepanjang lakon, Berry leluasa mengolah mimik, teriakan, serta celetukan. Lihatlah beberapa kali terdengar seruan "Oyeee!" dari Berry yang berkostum hitam dan berkain kotak-kotak. Sementara Agus bergerak-gerak sendiri tanpa fungsi yang jelas, Berry konsisten memerani badut sekaligus figur bunglon pertunjukan.
Karakter Berry selalu mengintervensi ke dalam panggung. Saat perjamuan, dia menjelma menjadi koki restoran bertopi putih tinggi. Berry yang berbedak putih dan memakai hidung bulat merah tertawa-tawa saat bercakap dengan tokoh Kursi 3 (Fuad Idris). Karakter ini melukiskan mantan presiden B.J. Habibie. Materi pembicaraannya teknologi. Berry sebagai orang Jerman punya banyak pesawat yang sebenarnya sudah tua, yang ditawarkan kepada Habibie yang tampak antusias.
Dalam tradisi Eropa, badut adalah figur yang sah-sah saja mengintervensi plot cerita teater atau sirkus. Dalam semua naskah Shakespeare ada figur kecil yang sebenarnya figur yang paling penting, dan selalu bisa mengintervensi. Model itulah agaknya yang jadi rujukan badut dalam Oseng-oseng. Namun kali ini badutnya adalah Semar, yang separuh dewa. Tapi Semar ala Betawi, yang geraknya lentur dan sering meletupkan seruan "Oyeee!"
Dwi Arjanto
|