Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XXXII/16 - 22 Juni 2003
   
Tari

Kandas di Tengah Jelajah

Pentas Middle Mountain: Mirror Mirror menampilkan instalasi tari Indonesia-Malaysia. Kolaborasi yang menawarkan penjelajahan galeri.

Tubuh penari Agus M. Bendul pelan melewati pintu masuk. Belasan penonton mengikutinya. Tangannya terangkat seperti memanah lukisan yang menempel di dinding putih. Gerakannya kadang menyentak tak beraturan, bebas, dengan lapisan kain dari lateks yang membalut pinggang.

Di balik kaca luar ruang, sesosok penari laki-laki berambut panjang bergerak lembut. Dan saat dia mulai masuk ruang, dua wanita dengan rias mencolok dan baju seksi tiba-tiba berbisik, "Mirror, mirror on the wall." Malu-malu, mereka mengajak penonton yang merubung mengepungnya masuk ke lorong. Penjelajahan dimulai.

Galeri Taksu di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat malam dua pekan lalu banjir penonton. Di depan mata mereka, layar berukuran 2 x 2 meter menayangkan terus klip-klip video. Di sepanjang galeri serta kolam renang, musik berderak ritmis. Tapi bukan di situ titik pusat pertunjukan instalasi tari bertajuk Middle Mountain: Mirror Mirror itu. Sutradara tari kelahiran Malaysia, Zulkifli Mohamad, menyimpan sebuah konsep menarik, gabungan tiga elemen: tari kontemporer, visualisasi video, pada panggung yang sama.

Malam itu, ia menuangkan kisah perjalanan manusia mengarungi waktu, menjelajahi ruang. Tak jelas betul apakah itu kisah atau sekadar tema. Yang terang, ia menggunakan dukungan tiga medium itu. Mula-mula pada bilik-bilik galeri disebar visualisasi yang digarap seniman animasi dan video Jaime Sarte dan John Arata serta pekerja visual Renjani. Para penari yang tersebar bergerak hampir serentak, tapi ada yang menuntun penonton.

Teater sudah mau keluar dari arena, dan Zulkifli, yang pernah tinggal di Thailand, Myanmar, dan Laos, tampak intens mencari ruang. "Sewaktu melihat Galeri Taksu, saya membayangkan instalasi yang berbentuk site-specific atau ruang spesifik," kata Zulkifli kepada majalah ini, dua hari sebelum pertunjukan.

Zulkifli menyodorkan alur pertunjukan yang sederhana. Saat Agus menari di ruang depan, penari senior Elly Luthan dan dua penari wanita lainnya sudah mulai bergerak. Ketiga penari yang mengenakan baju lengan panjang dengan bawahan kain jarik panjang itu meliuk-liuk diiringi musik menyerupai denting kecapi yang juga ditimpali gumam yang mengiris-iris.

Di saat tari berhenti, Agus dan Refi beranjak ke belakang dan Elly Luthan bergerak maju ke titik lain di kolam renang. Setelah Elly dan Agus, sekarang giliran Zulkifli di dalam ruang dan penari Chendra Effendy di luar. Ada dua titik terpencar di pertunjukan itu. Dan ruang di depan menghilang sudah. Agus dengan Refi kini berpindah ruang. Memang inilah suatu pertunjukan yang bergerak.

Eksplorasi ruang yang menarik. Tapi sayang sekali, pertunjukan yang luber penonton itu tidak dikondisikan dengan baik. Mereka terpencar sebelum dimulai, berseliweran sesuka hati. Hanya separuh yang tekun mengintimi pertunjukan. Ketika lorong 20 meter yang menghubungkan ruang depan dengan ruang tengah itu ternyata kurang kuat menyambung titik-titik para penari, buyarlah perhatian (baca: asosiasi pikiran) penonton.

Padahal rekaman video bus kota digarap serius oleh Mao Mana Sajo dari Institut Kesenian Jakarta. Penempatannya apik berdampingan dengan slide infografis para eksil (pelarian) akibat peristiwa 30 September 1965. Presentasi multimedia Alexander Supartono ini lengkap menyuguhkan wawancara dirinya dengan sejumlah tokoh eksil. Penonton seperti sejenak menembus sorotan slide tersebut.

Gagasan pertunjukan berdurasi 45 menit ini dirancang sebagai suatu refleksi tentang titik tengah suatu perjalanan. Dalam suatu perjalanan, manusia berhenti dan melihat ke belakang, sekarang, dan ke depan. Dalam titik itu kita melihat banyak benda. Zulkifli diuntungkan dengan galeri yang sudah terisi puluhan lukisan karya Jailani Abu Hassan yang hendak diresmikan. Juga dua patung kayu besar karya Teguh Ostenrik dan belasan patung kecil di dua ruangan.

Dari faktor visualisasi video, klip, dan racikan musik tradisional dan musik digital, tampak Middle Mountain mampu menawarkan semacam penjelajahan, walaupun penjelajahan itu kurang tuntas karena setiap bilik galeri—belum bisa dikatakan ruang—hadir terpecah-pecah. Jadi, konsepnya sebagai sajian bentuk ruang spesifik belum tampil utuh.

Dwi Arjanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data