Kala Peneliti Bermain Politik Selo Soemardjan menutup rapat aib politik yang ia tahu, tapi akhirnya ia bermain politik.
|
Seorang lelaki tua berambut keperak-perakan terjebak di tengah kerumunan mahasiswa di Kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. Anak-anak muda yang pantas menjadi cucunya itu menyodorkan pertanyaan, "Bapak ikut apa tidak?" Pak tua itu merasa terdesak. Apalagi di depan mulutnya ada mikrofon dan wartawan. Jawaban yang dinanti-nanti akhirnya keluar juga. "Kalau mahasiswa bergerak, saya ikut," katanya. Mahasiswa pun bersorak.
Pak tua itu adalah Profesor Dr. Selo Soemardjan, yang wafat Rabu siang pekan lalu di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta, pada usia 88 tahun. Terlibat dalam aksi politik mahasiswa adalah saat menegangkan dalam hidupnya enam tahun silam. "Saya enggak bisa mundur karena ada mikrofon itu," kata Selo kepada TEMPO dua tahun setelah peristiwa di Salemba itu. Pengakuan lugu Bapak Sosiologi Indonesia ini justru yang menjadikannya istimewa, karena dialah guru besar pertama Universitas Indonesia (UI) yang terbuka mendukung gerakan mahasiswa menuntut Presiden Soeharto mundur. Para guru besar lainnya justru sowan, mendatangi Soeharto, dengan tuntutan yang sangat sopan: reformasi politik.
Di mata Rama Pratama, bekas aktivis mahasiswa UI, Selo berperan menjaga gerakan mahasiswa agar tak melenceng ke arah anarki. "Beliau antikekerasan," kata Rama kepada Levi Silalahi dari TEMPO. Bukan peran yang sia-sia. Tidak ada aksi kekerasan sehingga masyarakat mendukung dan memaksa Soeharto mundur.
Bukan sekali itu Selo berurusan dengan soal genting yang berkaitan dengan penguasa Orde Baru. Sebagai sekretaris pribadi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ia diminta menulis surat pengunduran diri Sultan untuk pencalonan jabatan wakil presiden kedua kalinya. Selo dua kali menuliskan surat, dan Soeharto menolak. Sultan, yang diduga sudah patah arang dengan Soeharto, meminta Selo melayangkan surat ketiga. Soeharto akhirnya menyerah.
Menurut Selo, penolakan Sultan ada sebabnya. Tapi Selo telanjur berjanji kepada Sultan tak akan bercerita kepada orang lain. "Itu karena ia mikul dhuwur mendhem jero, tidak mau membuka aib orang," kata Ari Setiabudi Soesilo, Wakil Rektor UI Bidang Kemahasiswaan.
Selo melakukan hal yang sama ketika banyak orang mempertanyakan lagi fakta sejarah tentang siapa pengambil inisiatif Serangan Umum 1 Maret. Sejarah versi tentara menyebut Soeharto-lah yang berinisiatif, sebaliknya rakyat Yogyakarta percaya itu inisiatif Sultan. Selo memilih diam. "Barangkali mereka (Soeharto dan Sultan) sendiri saja sudah lupa itu inisiatif siapa," ia berkilah.
Hubungan Selo dengan Sultan sangat dekat. Maklum, 40 tahun Selo mendampingi Raja Keraton Yogyakarta itu. Ayahnya, Raden Ngabehi Sastrodjemiki, seorang abdi dalem Keraton. Pada usia enam tahun, Selo diasuh oleh kakeknya, Raden Tumenggung Padmonegoro, yang membawanya ke lingkungan Keraton. Selo sempat menjadi camat di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, dan untuk itu ia mendapat nama baru—Selo—dari Sultan, melengkapi nama aslinya, Soemardjan.
Pada awal kemerdekaan, Sultan menarik Selo ke Keraton menjadi sekretaris pribadinya. Selo menjalankan tugas itu hingga Sultan wafat pada 1988. Untuk pengabdian itu, namanya bertambah panjang dengan gelar: Kanjeng Pangeran Haryo Selo Soemardjan.
Meski sibuk melayani Sultan, Selo masih menoleh ke dunia akademis. Ia mengikuti program doktor di Universitas Cornell. Berkat bantuan Profesor George McT. Kahin, bukan soal besar bahwa ia tak memiliki ijazah sarjana. Ia meraih gelar doktor pada 1959 dengan disertasi Social Changes in Yogyakarta, yang kelak menjadi buku babon sosiologi di Indonesia. Jadilah Selo doktor sosiologi pertama di Indonesia. Ayah enam anak ini ikut mendirikan Fakultas Ilmu Sosial UI dan belakangan mendirikan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial.
Hubungan dekatnya dengan Sultan membawa Selo ke lingkaran elite teknokrat pada masa Orde Baru. Dialah satu-satunya sarjana non-ekonomi yang dipercaya Presiden Soeharto menyusun rencana pembangunan, bersama Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana. Tapi ia tetap bersikap kritis sebagai ilmuwan sosial terhadap pemerintah, tanpa harus mendapat cap sebagai oposan. Ia pernah, misalnya, menemukan banyak salah urus pemerintah dalam program TRI (Tebu Rakyat Inti) pada satu penelitian, yang kemudian ia ungkapkan lewat seminar. "Di belakang saya tak ada kekuatan politik," ujarnya dalam buku Apa Siapa Orang Indonesia. Selo menyebut sikap ini sebagai politik akademis.
Pada usia senja, Selo justru ikut bermain politik lewat kelompok Gema Madani menjelang sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat pada 1998 dengan mencalonkan Emil Salim sebagai wakil presiden melawan Habibie. Meski begitu, hingga akhir hayatnya Selo tetaplah seorang peneliti ilmu sosial. Tujuh bulan lalu Sultan Hamengku Buwono X meminta Selo melakukan penelitian tentang otonomi desa. Pekerjaan belum usai, Selo keburu disemayamkan di sebelah kubur istrinya, Raden Roro Suleki Brotoatmodjo, di Yogyakarta.
RFX, Heru C.N. (Yogya), Rommy Fibri (Jakarta)
|