Wiwik di Kubur Batu Hanya sedikit menhir, dolmen, dan kubur batu yang terurus. Kerap ditemui, peninggalan megalitik ini dicorat-coret tangan jail. |
LUMUT dan belukar menyumpal mulut gua. Begitu kita masuk, bau kotoran kelelawar segera menyengat. Dan, berrr…, puluhan kelelawar terbang ke luar, hingga kepala kita harus menunduk. Tapi alih-alih melihat lukisan purbakala, mata kita malah terpentok guratan nama Wiwik, gambar tanda jantung tertembus anak panah, dan nama Jupiter di dinding. Entah itu ungkapan cinta murni atau malah patah hati, yang jelas coretan-coretan dengan arang kayu dan batu ini terasa mengganggu.
Itulah pengalaman TEMPO mengunjungi salah satu bilik atau kubur batu di Desa Kota Raya, Lembak, dataran tinggi Pasemah, Lahat, Sumatera Selatan, belum lama ini. Situs ini terletak di perkebunan kopi, dengan ketinggian 715 meter dari permukaan laut, persis di depan Bukit Barisan. Di tempat itu terdapat tiga kelompok bilik batu. Untung, di bilik batu kedua, lukisan dindingnya masih utuh. Tinggi pintu bilik sekitar 1,8 meter. Di situ kita bisa menikmati karya estetis manusia purba berupa gambar burung hantu, manusia, kepala kerbau bertanduk, dan flora.
Lukisan yang diperkirakan sudah berusia 3.000 tahun itu menggunakan warna, antara lain, hitam, merah, kuning, dan putih. Hebatnya, sampai sekarang warna itu tak luntur. Lihatlah lukisan burung hantu. Begitu gagah. Warna kuning dan merah digunakan untuk hiasan sekitar tubuh, warna hitam untuk rambut, mata, dan hidung. Burung hantu melambangkan kesakralan yang berhubungan dengan kematian seseorang.
Di bilik batu ketiga? Ada pula lukisan kepala naga dengan warna hitam, putih, dan merah. Amat menarik. Sayang, ada beberapa bagian warna yang telah buram dan aus serta tertimpa tulisan jail pengunjung.
Di dataran tinggi Pasemah, kini terdapat sekitar 3.000 peninggalan prasejarah yang telah terdeteksi. Dari pengamatan TEMPO, kondisi peninggalan prasejarah itu sangat mengkhawatirkan karena kurang terawat. Bahkan beberapa bagian dari arca-arcanya sengaja dirusak oleh tangan-tangan jail dengan mencantumkan nama dan tanggal saat mereka berkunjung ke situs berharga tersebut. Penduduk di sekitarnya pun cuek. "Daripada mengurus megalit (batu besar), lebih baik mengurus kopi, hasilnya lebih jelas," ujar Damiri, 38 tahun, salah seorang petani kopi setempat.
Megalit merupakan peninggalan zaman megalitikum, salah satu babak pada masa prasejarah. Selain membuat kubur batu, pada era itu orang biasa pula membuat dolmen (meja batu) dan menhir, batu besar berbentuk tiang atau tugu sebagai tanda peringatan dan lambang arwah nenek moyang.
Menhir, salah satunya, bisa ditemukan di Padang Sepe, Kecamatan Lore, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Resminya ia bernama menhir Polindu. Tapi orang lebih mengenalnya dengan nama patung Sepe, karena bentuknya seperti patung. Ketika TEMPO mengunjungi beberapa waktu lalu, keadaan amat merana dan posisinya makin miring. Kemiringan itu mungkin bukan karena tangan manusia, tapi lebih oleh alam. Asal tahu saja, Kecamatan Lore adalah daerah patahan, yang sering diguncang gempa.
Kini patung setinggi 4 meter dan lebar 1 meter itu sudah miring hingga 80 derajat. Diakui oleh Ikhsam, seorang pengurus museum di kawasan itu, tiap tahun kemiringan patung itu bertambah. "Tiap tahun diukur dan memang posisinya berubah," katanya.
Patung atau menhir terbesar di wilayah Sulawesi ini boleh jadi adalah warisan megalitik yang paling unik yang kita miliki. Umumnya di mana-mana menhir (batu tegak) tidak bersosok. Namun menhir Sepe ini berkepala dan berkelamin. Kendati tak punya mulut, ia memiliki mata dan berdagu lonjong. Ujung hidungnya rata dan bulat. Pangkal hidung bersambung ke alis mata. Di atas dahi terdapat lengkungan yang menyerupai ikat kepala atau mahkota, dihiasi empat bulatan berderet. Di bagian pelipis terdapat tonjolan yang menunjukkan telinga. Lehernya sempit . Dibandingkan dengan badannya, kepalanya lebih besar. Alat kelaminnya amat menonjol. Hanya, ia tidak berkaki dan tubuhnya langsung tertanam ke tanah. Bagi banyak arkeolog, sosok menhir Sepe ini mengingatkan pada menhir besar yang banyak ditemukan di Kepulauan Pasifik.
Menhir juga banyak ditemukan di Labuhan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai, Flores Timur. Di sana, tepatnya di Pantai Pede, berjejalan peninggalan prasejarah. Sayangnya batu-batu ini "dikuasai" seorang pengusaha yang mendapat izin pemerintah. Batu-batu menhir Pantai Pede ini juga unik. Rata-rata setinggi satu meter dengan ukiran gambar binatang seperti cicak, biawak besar atau komodo. Bila Anda naik mobil dari pinggir jalan raya Pantai Pede, batu berpahatkan biawak ini bisa terlihat menyembul dari balik semak-semak.
Batu menhir ini belakangan juga bergeletakan begitu saja di halaman sebuah kantor perusahaan galian C (galian untuk kategori pasir, batu kali, dan sebagainya). Diduga benda-benda ini dikumpulkan dari areal perbukitan yang menjadi konsesi perusahaan tersebut. Setelah terkumpul, peninggalan yang bernilai ini diangkut ke dalam truk-truk besar dan, menurut seorang karyawan, dijual ke para perajin batu pahat di Bali.
Yang cukup terawat dan terhindari dari tangan jail adalah peninggalan di "bukit megalitik" Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Untuk naik ke bukit ini, kita mesti menanjak, melewati batu setapak sepanjang kira-kira lebih dari 150 meter. Cukup melelahkan dan membuat napas ngos-ngosan. Tapi, begitu kita sampai di atas, tiba-tiba terhampar sebuah panorama purbawi yang menakjubkan. Ribuan bebatuan vulkanik berbentuk persegi panjang bertumpuk membentuk bukit batu. Polanya ada yang melingkar, persegi panjang, oval. Bertubrukan dengan pemandangan hutan, jurang, dan perbukitan di sekitarnya, peninggalan kebudayaan megalitik menyajikan seribu keindahan.
Orang-orang setempat menamainya batu gong, batu guling, batu kasur, dan batu mayat. Yang menjadi ciri khasnya adalah batu gong. Disebut demikian karena beberapa batu di situ bila dipukul menimbulkan suara nyaring seperti gamelan. Ketika suatu sore TEMPO berkunjung ke sana, anak-anak desa setempat memukul-mukul batu gong tersebut dengan batu. Dari tiap batu itu keluar suara yang berbeda, mirip suara gamelan. "Banyak sinden Cianjur datang ke sini, mencoba memukul batu ini, mencari berkah," kata Asep Sudrajat, seorang juru kunci.
Di Jawa Barat, tepatnya di Tugu Batu, Cisolok, di kaki Gunung Halimun, terdapat pula peninggalan meja dakon yang diperkirakan dibuat 2.000 tahun Sebelum Masehi. Meja itu tertanam di tengah sawah. Wujudnya, sebuah batu besar seperti meja tapi dengan bulatan 10 buah. Masing-masing berdiameter sama, 15 cm. Seperti sebuah cetakan yang sempurna. Diperkirakan meja dakon atau meja lumpang ini merupakan sistem penanggalan atau kalender perhitungan waktu purbakala. Gunanya untuk menentukan waktu bercocok tanam.
Kalau Anda masih tertarik menikmati peninggalan zaman prasejarah di Tanah Pasundan, jangan lupa pula datang ke situs Cipari. Di sana terdapat sekelompok menhir dan dolmen yang diperkirakan berasal dari era 1.000 sampai 500 tahun Sebelum Masehi. Kondisinya cukup terawat. Lihatlah halaman depan sesaat setelah memasuki pintu gerbang, terhampar rumput hijau serta pepohonan yang rindang. Selain itu, terdapat pula tangga batu yang tertata sangat apik untuk mempermudah perjalanan di perbukitan Taman Purbakala Cipari. Konon batu tersebut diambil dari batu yang berserakan di sana dan sudah berumur ribuan tahun. Begitu masuk, kita dapat melihat dengan jelas dua menhir berdiri dengan tegak di sebelah barat dan timur, menjulang, mendongak ke langit.
Selain itu, tampak sarkofagus, dolmen, dan punden berundak di sana. Ada juga peralatan seperti kapak perunggu, gerabah, gelang batu, yang tersimpan dengan sangat rapi dalam etalase di dalam museum yang dibangun di Taman Purbakala Cipari.
Duit untuk merawat peninggalan prasejarah itu lumayan besar. Tahun ini telah ditetapkan kucuran dana Rp 1,7 miliar melalui APBN dan APBD untuk batu-batu tua itu. "Uang ini akan turun dalam dua tahap, namun semuanya hanya diperuntukkan bagi pelestarian Taman Purbakala Cipari," tutur I Putu B., Seksi Sarana Wisata Taman Purbakala Cipari.
Semoga tak ada (lagi) tangan jail, entah itu bernama Wiwik, Jupiter, atau Pluto, yang merusak dolmen dan menhir di Cipari, dan juga peninggalan prasejarah lainnya di seluruh pelosok negeri.
Seno Joko Suyono (Cianjur), Arief Ardiansyah (Pasemah), Darlis Muhammad (Poso), Ivansyah (Cipari),Agus S. Hidayat (Flores)
|