|
Menurut citra satelit NOAA 12, sekitar 60 persen kebakaran terjadi di lahan dan 40 persen sisanya di areal hutan. Ini mengindikasikan bahwa kebakaran bermula dari aktivitas manusia yang membuka lahan pertanian dengan membakar. Departemen Kehutanan mengantisipasi bencana kebakaran dengan membentuk Brigade Manggala Agni, yakni regu pemadam kebakaran yang terdiri atas polisi hutan jagawana dan masyarakat lokal yang dilatih. Kini terdapat lima brigade ini di provinsi yang paling rawan bencana kebakaran: Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Jumlah anggota brigade ini 1.080 orang, 20 persennya dari polisi hutan dan selebihnya warga sekitar.
Serangan Darat
Brigade Manggala Agni dilengkapi peralatan pemadam kebakaran, seperti tangki dan kendaraannya, selang penyemprot, dan perlengkapan pribadi. Satu regu terdiri atas 15 orang yang dipimpin seorang kepala.
- Helm pelindung: tutup kepala yang juga dilengkapi kaca mata pelindung.
- Baju api: pakaian pemadam kebakaran ini terbuat dari bahan tekstil anti-api. Warnanya mencolok agar terlihat di balik kepulan asap.
- Penggaruk: alat kombinasi antara cangkul dan cakar untuk membongkar bahan bakar.
- Sepatu bot: sepatu khusus dari kulit yang melindungi kaki dan pergelangan kaki.
- Tas punggung: berisi berbagai perlengkapan pribadi.
- Alat penyiram: jika api telah terlalu dekat dengan permukiman, alat penyiram air diguna-kan. Prioritas dalam pemadaman kebakaran adalah menyelamatkan nyawa manusia.
- Kapak Pulaski: alat kombinasi dari kapak dan cangkul ini diciptakan oleh Edward Pulaski, pemadam kebakaran legendaris AS yang berhasil menyelamatkan timnya dalam kebakaran besar di Northern Idaho pada 1910.
- Suar: mirip suar jalan, dipakai menyalakan lidah api sewaktu pemadaman. Panas di ujungnya dapat mencapai 1.000 derajat Celsius.
- Langkah awal pemadaman: membatasi ruang gerak lidah api. Membuat "hilaran" api atau parit sehingga api tidak meluas, baru setelah itu api dipadamkan.
|