|
|
| |
Edisi. 16/XXXII/16 - 22 Juni 2003
|
Tiga Pilar Sebuah Gerakan Buku yang sangat berguna, terutama buat aktivis dan pemerhati masalah perempuan. |
| Gerakan Perempuan di Amerika Latin: Feminisme dan Transisi menuju Demokrasi (terjemahan The Women's Movement in Latin America: Feminism and Transition to Democracy) | | Penulis | : | Jane S. Jaquette (ed.) | | Penerbit | : | Yayasan Kalyanamitra dan Ford Foundation, Jakarta 2003 |
|
Salah satu keuntungan—jika mau disebut demikian—dari sebuah negara yang terlambat melakukan transisi menuju demokrasi, seperti Indonesia, adalah kita bisa belajar dari negara-negara lain, seperti beberapa negara di Amerika Latin, yang sudah lebih dulu mengalami proses transisi tersebut. Melalui buku yang diedit Jane S. Jaquette ini kita bahkan bisa belajar mengenai aktor politik yang sering dilupakan, yakni peran dan posisi gerakan perempuan dalam proses transisi demokratis.
Dengan merujuk pada lima negara Amerika Latin, yakni Brasil, Argentina, Peru, Uruguay, dan Cile, ditampilkan tiga pola gerakan perempuan. Pertama, sebagai gerakan hak asasi manusia. Gerakan ini pada dasarnya merupakan respons dari banyaknya pelanggaran hak asasi yang dilakukan negara (aparat militer dan intelijen) melalui pemenjaraan, pelenyapan, pembunuhan, dan penyiksaan terhadap para aktivis yang dilabel subversif dan "kiri", yang umumnya adalah laki-laki.
Mereka sendiri tidak pernah melabel diri mereka sebagai aktivis perempuan, apalagi kaum feminis. Mereka lebih menempatkan diri mereka sebagai para ibu dan para istri dalam pigura keluarga tradisional. Mereka merasa tidak bisa menjalankan peran tradisionalnya, karena anak-anak, suami, dan ayah tidak ada. Tindakan represif rezim militer pada dasarnya merupakan proses depolitisasi massa (baca: laki-laki), tapi akibatnya justru pada gilirannya memaksa kalangan perempuannya keluar dari dunia domestik menuju dunia publik.
Pola kedua secara gampangnya disebut sebagai gerakan feminis. Kalangan perempuan di sini umumnya adalah kelas menengah, mengenyam pendidikan tinggi, dan pada awalnya bagian dari gerakan partai politik. Mereka umumnya kecewa dengan partai-partai "kiri", yang tidak terlalu memasukkan isu-isu perempuan dalam agenda politik mereka dan bahkan dalam banyak kasus sangat bias gender dalam berbagai kebijakan mereka.
Pola ketiga disebut sebagai gerakan perempuan miskin kota. Gerakan ini pada dasarnya merupakan respons atas kebijakan rezim dalam bidang ekonomi dalam menghadapi krisis ekonomi (disebut dengan structural adjustment) yang ternyata banyak merugikan masyarakat tingkat bawah: pengurangan subsidi sosial secara drastis, privatisasi melalui penjualan berbagai BUMN kepada investor (terutama asing), dan deregulasi demi keuntungan pengusaha. Sudah bisa ditebak bahwa rakyat, khususnya perempuan dan anak-anak kelas bawah, yang akan terpukul. Hampir 90 persen anggota kelompok Mujeres Populares di Cile adalah perempuan.
Ketiga pola gerakan ini, yang pada awalnya berjalan-jalan sendiri-sendiri, ternyata bisa ketemu dalam menghadapi represi rezim militer dan krisis ekonomi. Ada semacam "common enemy" yang mereka hadapi bersama saat itu hingga mereka, bersama berbagai kekuatan oposisi lainnya, ikut berhasil mendorong transisi ke pemerintahan yang demokratis. Namun, ketika "pesta berakhir" (rezim militer dapat diganti pemerintahan sipil), mereka menghadapi dilema, yakni apakah kembali ke dunia domestik atau masuk "arus utama" politik yang sangat maskulin. Apa pun pilihannya ternyata sama-sama tidak menguntungkan buat gerakan perempuan itu sendiri.
Buku ini sangat berguna untuk dibaca, terutama buat aktivis perempuan dan pemerhati masalah-masalah perempuan. Meskipun demikian, ada tiga hal yang perlu dicatat. Pertama, secara teknis ada beberapa kesalahan cetak (misalnya hlm. x, xi), terjemahan yang tidak jalan (misalnya hlm. xiv), atau istilah yang harusnya diberi huruf besar seperti Aliansi untuk Kemajuan (Alliance for Progress), yang merupakan program bantuan ekonomi Amerika Serikat buat 10 negara Amerika Latin.
Kedua, ada baiknya dalam terbitan ulang ditambah kata pengantar versi Indonesia dan mengambil edisi revisinya yang menambahkan kasus Meksiko dan Nikaragua. Terakhir, yang terpenting, buku ini lebih merupakan kajian perbandingan dan inspirasi terhadap gerakan perempuan di Indonesia, dan bukan kemudian mencocokkan kasus Indonesia dengan Amerika Latin seperti menyamakan Suara Ibu Peduli dengan Plaza de Mayo. Ini hanya melahirkan kesimpulan yang menyesatkan dan ahistoris.
Nur Iman Subono, Redaktur Jurnal Perempuan di Jakarta
|
|
| |
|
|
| buatan Radja|endro |
Majalah
Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

|
|
| |
|
|
|
|