Mayjen Djali Yusuf (Bekas Panglima Kodam Iskandar Muda, Aceh): "GAM Akan Lumpuh dalam Dua Bulan" |
MELUMPUHKAN Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan hati. Begitulah cita-citanya ketika ia ditunjuk menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Iskandar Muda, Februari 2002. Itu sebabnya Mayor Jenderal Djali Yusuf membuka jalur komunikasi dengan gerakan yang ngotot memerdekakan Aceh itu. Ketika merayakan ulang tahun Kodam Iskandar Muda, beberapa waktu lalu, ia bahkan mempersilakan para petinggi GAM hadir, walau kemudian sang musuh tak tampak batang hidungnya.
Anggota GAM yang ditangkap tak cuma "disimpan" di bui, tapi juga diberi kursus memperbaiki alat elektronik seperti pesawat televisi, kulkas, dan mesin cuci, juga sepeda tua yang peot. Selama setahun lebih ia duduk di kursi panglima, puluhan anggota GAM bertobat, menjadi warga yang patuh. Dengan cara itu, ia amat berharap, suatu saat tak ada lagi pemberontakan di bumi kelahirannya itu.
Tapi pasukan GAM, kata Djali, bermain curang. Ketika Jakarta patuh pada kesepakatan Jenewa 9 Desember 2002 soal penghentian permusuhan, GAM terus main kayu. "Tentara kita banyak yang mati, ditembak oleh GAM," katanya suatu ketika dengan nada berang. Djali Yusuf adalah sebuah tikungan, dari jalan perdamaian yang gagal ke jalan pintas yang keras: perang. Kariernya di kursi panglima begitu pendek: dilantik 5 Februari 2002 dan diganti 13 Mei 2003.
Pergantian terjadi cuma beberapa hari sebelum perang meletus. Orang lalu menaruh syak wasangka, sikap lunak Djali tak cocok bagi sebuah perang yang dirancang Jakarta. Ada yang menduga ia disingkirkan. Soal itu ia cuma bilang, "Mungkin atasan saya merasa bahwa saya perlu waktu jeda sebelum pensiun."
Lahir dari keluarga militer—ayahnya seorang sersan yang sehari-hari menyetir truk militer—sejak remaja Djali bermimpi jadi tentara. Ia terpikat pada papan reklame Akademi Militer Magelang yang dipajang di sekolahnya, SMA Negeri 1 Banda Aceh. Di situ sejumlah taruna muda berkepala botak berdiri berjajar, membusungkan dada. "Gagah," begitu kesannya. Itu sebabnya, selepas SMA, ia langsung masuk akademi di Magelang itu.
Ketika ia menjadi panglima, saban hari urusannya cuma dinas. Kini, setelah diserahi jabatan Koordinator Staf Ahli Panglima TNI, ia lebih banyak mengurus keluarga. Sepanjang pekan lalu ia berada di Medan, Sumatera Utara, mempersiapkan pernikahan putra keduanya. Di tengah kesibukannya itu, ia menerima Bambang Soedjiartono dari TEMPO di Hotel Polonia, Medan. Mengenakan kaus cokelat bergaris, ia terlihat lebih santai. Wawancara berlangsung dua jam lebih, Kamis malam pekan lalu.
Dua wisatawan Jerman mati tertembak oleh TNI. Bagaimana Anda melihat kasus ini?
Ada beberapa keanehan dalam kasus itu. Pertama, mereka memiliki visa turis untuk tujuan Medan. Tapi mengapa mereka bisa pergi jauh sampai ke Aceh, yang ratusan kilometer jaraknya? Kedua, mereka mestinya tahu di sana perang sedang sengit-sengitnya. Tapi kenapa mereka nekat juga pergi, apalagi tanpa pemandu? Agak aneh menurut saya jika dalam situasi panas seperti sekarang ini mereka bisa keluar-masuk beberapa kota di Aceh, hingga ke desa-desa.
Artinya, Anda mencurigai keduanya bukan sekadar turis?
Saya tahu persis bahwa daerah Lhok Gayo, tempat ditemukannya kedua orang Jerman itu, bukanlah daerah yang aman. Ada GAM di situ yang kerap mengancam warga. Kok, mereka bisa berada di situ?
Ada banyak turis di Aceh. Menurut data terakhir, malah jumlahnya sekitar 100 orang di sejumlah wilayah Aceh.
Tapi kebanyakan di daerah wisata, seperti di Pulau Sabang. Daerah Sabang itu banyak turisnya dan relatif bisa dikendalikan oleh aparat. Pemerintah sebelumnya sudah mengeluarkan larangan untuk sejumlah LSM asing masuk Aceh. Mestinya kedua turis Jerman itu tahu juga soal larangan ini.
Soal larangan untuk LSM asing itu, apa alasan utamanya? Selama Anda bertugas di sana, apa memang ada LSM asing yang bermain api?
Sejauh yang kami pantau di lapangan, memang ada tanda-tanda kalau beberapa LSM asing malah bermain di air keruh, memanfaatkan situasi dengan alasan kemanusiaan. Mereka, misalnya, selalu mengompori warga dengan demokrasi dan sebagainya, yang oleh GAM selalu dikonotasikan dengan referendum. Padahal paham demokrasi kita dengan mereka berbeda karena memang kondisinya berbeda juga. Paham mereka soal demokrasi secara tidak langsung bisa merasuki orang untuk berontak. Selama saya bertugas, terus terang kami mencurigai ada beberapa LSM asing yang bermain-main di Aceh.
LSM apa saja misalnya?
Memang asing tidak bekerja langsung, tapi bermain lewat beberapa LSM lokal. Beberapa LSM lokal itu memang membantah, tapi mereka selalu menyuarakan kemerdekaan. Jadi, sudah sangat jelas sebetulnya. Awal Januari lalu, misalnya, beberapa LSM lokal aktif mensosialisasi kesepakatan bersama 9 Desember 2002 yang ditandatangani di Jenewa. Tapi mereka memelesetkan kesepakatan itu sebagai kesepakatan untuk referendum. Setelah kami teliti di lapangan, ternyata para aktivis LSM itu menggunakan terjemahan seorang mahasiswa Jerman atas kesepakatan Jenewa. Terjemahan itu sudah menyimpang jauh sesuai dengan misi mereka. Ini jelas berbahaya karena akan dipakai sebagai propaganda oleh GAM.
Seberapa besar sebetulnya kekuatan GAM?
Selama dua tahun lebih saya bertugas menangani masalah Aceh, sebenarnya kekuatan Gerakan Aceh Merdeka itu tidak pasti jumlahnya. Tapi, berdasarkan laporan yang ada, diperkirakan jumlah anggota GAM sekitar 5.000 orang.
Jumlah anggota pasukan GAM meningkat secara pesat setelah era reformasi. Apa yang menyebabkan peningkatan jumlah yang tajam ini?
Saya masuk persis ketika reformasi sedang kencang-kencangnya. Karena TNI tidak bisa main tangkap lagi seperti pada masa DOM (daerah operasi milter) dulu, GAM menggunakan momen reformasi itu untuk memperbesar kekuatannya. Seolah-olah Aceh ini sudah mau merdeka. Situasi menjadi tidak terkendali. Perjanjian perhentian permusuhan tidak berjalan mulus. Memang perjanjian itu sendiri isinya sangat umum, tapi pada mukadimah perjanjian itu disebutkan bahwa selama masa jeda tidak boleh berpropaganda dan tidak boleh menambah jumlah pasukan. Kesepakatan itu dilanggar oleh GAM.
Anda tidak bisa langsung bertindak?
Kita mau taat pada perjanjian. Kita saat itu berhenti dengan tidak melakukan pengejaran, dan ini dimanfaatkan oleh mereka.
Sepertinya masyarakat mendukung. Apa sebabnya?
Mendukung sih tidak. Saya sering mengatakan, di masa lalu memang ada kesalahan prajurit, misalnya agak arogan. Tapi kesalahan itu sedang kita perbaiki.
Apa saja kendala yang Anda hadapi dalam mengatasi kekuatan GAM?
Pasukan GAM memanfaatkan rakyat Aceh sebagai tameng. Mereka berbaur dengan warga dengan cara mereka sendiri. Sementara itu, pasukan TNI diperintah menghindari pertempuran di wilayah permukiman dan harus menghindari korban sipil yang tidak berdosa. Itu sebabnya kita berusaha sekuat tenaga memisahkan GAM dari rakyat sipil. Saat menjabat Pangkolakops (Panglima Komando Pelaksana Operasi) Aceh, berkali-kali saya meminta perhatian prajurit untuk konsisten pada perintah itu.
Lalu apa yang bisa Anda lakukan dalam kondisi seperti itu?
Karena musuh yang kita hadapi itu gerilyawan, taktik yang tepat menghadapinya adalah taktik gerilya juga. Kunci taktik itu adalah rakyat. Jika rakyat membantu kita, gerilyawan akan mudah diatasi. Masalahnya, rakyat Aceh merasa trauma kepada TNI. Itu sebabnya, bersama unsur terkait, saya dan jajaran Kodam berusaha mendekati rakyat. Hasilnya, pandangan warga terhadap TNI mulai berubah dan secara perlahan-lahan mereka tidak membenci TNI lagi. GAM pun kami ajak berdamai. Sebelum melakukan operasi, kami selalu menyebarkan selebaran mengajak mereka kembali ke pangkuan Republik.
Bagaimana cara prajurit Anda mendapatkan dukungan rakyat?
Ada banyak caralah. Misalnya, suatu hari anggota pasukan saya haus berat saat berpatroli. Begitu dia singgah di sebuah warung untuk membeli air mineral, pemilik warung malah kabur karena takut. Nah, prajurit saya itu mengambil sebotol air mineral, lalu meninggalkan uang di warung itu. Besoknya, warga itu tidak kabur ketika anggota saya datang ke situ lagi. Artinya, bayangan warga tentang TNI sudah berubah. Contoh lain, ada korban sipil dalam sebuah peristiwa baku tembak. Saya dan anak buah langsung datang ke rumah korban, meminta maaf, merawat jenazah, dan menghibur keluarganya. Dengan cara begitu, mereka akan paham bahwa yang terjadi benar-benar kecelakaan.
Selama bertugas di Aceh, Anda mestinya paham betul anatomi organisasi GAM. Bagaimana struktur organisasi mereka? Apa seperti TNI juga?
Sepintas strukturnya sama. Yang berbeda adalah garis komandonya. Otoritas wilayah dalam GAM sangat kuat. Panglima besar mereka tidak punya otoritas seperti kita. Di TNI, kalau dari atasnya A, sampai di bawah A juga, tidak ada tawar-menawar, walau harus diakui pula di antara sekian banyak tentara kita ada yang mbalelo. Dalam GAM, wewenang panglima sagoe—setingkat komandan rayon militer di TNI—sangat besar. Dia punya otoritas tinggi atas wilayahnya.
Anda pernah bertemu dengan Panglima GAM? Untuk berunding, misalnya?
Ketemu langsung belum pernah. Tapi saya buka komunikasi dengan mereka, dengan pemimpin mereka. Seperti yang saya tegaskan berkali-kali, tugas khusus saya adalah melumpuhkan GAM dengan hati, bukan dengan kekuatan. Untuk menembak hati itu, yang paling mungkin kan orang Aceh sendiri. Sebab, saya paham betul karakter orang Aceh, walau harus saya akui upaya itu belum berhasil.
Kekuatan GAM yang paling militan itu di daerah mana saja?
Kekuatan yang paling militan di daerah Peurlak, Idi Cut, dan juga di beberapa wilayah di Aceh Utara. Idi Cut adalah daerah militan sejak GAM berdiri. Pemimpin mereka umumnya bermarkas di Sigli.
Pasokan senjata mereka juga datang dari luar. Mengapa pengawasan lalu lintas senjata itu tak bisa dicegah oleh TNI?
Lewat laut memang agak susah memantaunya. Pasokan senjata mereka masuk dari Thailand, menggunakan kapal penangkap ikan. Tapi banyak juga yang kita tangkap. Bulan April lalu kita menangkap sebuah perahu nelayan yang menyelundupkan tujuh pucuk senjata dan amunisinya. Apakah ada pasokan senjata dari Libya dan Swedia, sejauh ini belum ada buktinya.
Tapi sebagian mereka dapat dari dalam negeri juga. Kok, bisa?
Memang ada beberapa senjata buatan Pindad (Perindustrian Angkatan Darat) yang dimiliki GAM. Tapi itu hasil rampasan GAM dalam perang melawan TNI, bukan hasil jual-beli. Jumlahnya sekitar 30 pucuk.
Menurut Anda, berapa lama waktu yang diperlukan TNI untuk menaklukkan GAM?
Paling lama kita mendapat perlawanan keras sekitar dua bulan. Dengan kekuatan tempur yang kita miliki, GAM akan lelah dalam tenggat waktu itu.
Tapi peralatan komunikasi mereka juga cukup canggih, sehingga mereka bisa menghindar ke gunung-gunung untuk bergerilya.
Tidak canggih-canggih amatlah. Komunikasi andalan GAM itu adalah telepon satelit, sesuatu yang umum dipakai TNI. Hanya, memang harus diakui, selain untuk koordinasi, telepon satelit juga digunakan untuk propaganda mempengaruhi opini publik. Apakah semua propaganda itu didengar atau tidak, mereka akan terus memproduksinya.
Ada korban berusia 12-13 tahun. Warga bilang mereka penduduk biasa, tapi TNI bilang mereka juga anggota GAM. Sejauh yang Anda ketahui, anak seumur itu bisa jadi tentara GAM?
Ini perang gerilya, bukan perang reguler seperti Irak dan Amerika itu. Ledakan bom dan pembakaran sekolah kadang dilakukan oleh anak-anak remaja. Anak-anak seusia itu juga kerap dijadikan mata-mata oleh GAM. Jadi, sangat mungkin mereka digunakan GAM.
Milisi sipil pro-Jakarta cukup banyak di Aceh, terutama di kawasan Takengon. Terakhir, misalnya, mereka menyatroni kantor Joint Security Committee (JSC). Dan milisi itu marak pada masa Anda menjadi pangdam. Kok, bisa begitu?
Tidak betul itu. Isu milisi itu sengaja diembuskan GAM untuk mengaburkan tindakan mereka sendiri yang memeras para pengusaha. Kalau GAM memeras, dengan mudah mereka bilang pelakunya milisi binaan TNI. Daerah Takengon itu memang daerah yang banyak pengusaha kopinya. Itu sebabnya mereka sasaran bulan-bulanan GAM, diperas habis. Nah, untuk menghadapi tindakan GAM itu, warga dan pengusaha bersatu-padu melawan. Warga membuat senjata rakitan. Karena kebetulan yang mapan di daerah Takengon itu kebanyakan orang Jawa, dan TNI juga berasal dari Jawa, GAM mengembuskan isu rasial.
Saat itu, bagaimana Anda mengatasinya?
Semua senjata rakitan saya kumpulkan di komando distrik militer setempat, kemudian komandan setempat membakarnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik horizontal dalam masyarakat. Konflik horizontal itu akan sangat berbahaya.
Sebagai putra Aceh yang harus menghadapi GAM, yang notabene orang Aceh juga, Anda disebut-sebut terlalu netral menghadapi GAM. Betul begitu?
Memang ada suara sumbang yang menyebutkan adanya keberpihakan itu. Tapi saya buktikan kalau saya tetap merah-putih. Sebagai prajurit, saya tidak punya konflik batin karena tidak punya permasalahan dan selalu mengajak dan merangkul saudara kita di sana untuk kembali ke pangkuan Republik Indonesia.
Pernah akan dibunuh atau diancam GAM?
Terlalu sering malah. Mau ditembak, dibunuhlah. Sebagai orang Aceh, saya dianggap pengkhianat. Biasanya mereka mengancam lewat telepon. Walau ancaman itu diabaikan, saya toh tetap harus waspada juga.
Di antara anggota keluarga besar Anda di Aceh, ada yang ikut GAM atau bersimpati kepada gerakan itu?
Terus terang, saya tidak begitu mengenal keluarga besar saya. Yang saya kenal hanya yang dekat betul dengan orang tua saya, adiknya Bapak atau abangnya. Apalagi saya ini jarang pulang kampung. Mungkin bisa saja ada, tapi saya tidak pernah tahu.
Anda diganti secara mendadak menjelang operasi militer digelar. Konon, Anda merasa disingkirkan.
Saya berpikir positif saja. Mungkin saja saya perlu waktu jeda sebelum pensiun. Saya hanya kecewa dengan pergantian mendadak karena, sebagai pangdam, saya tidak bisa pamitan kepada masyarakat. Apalagi memang sempat muncul nada sumbang tadi. Masyarakat memang kecewa, tapi kekecewaan itu hilang setelah saya menerangkan bahwa ini hal biasa saja.
Mayjen Djali Yusuf
Lahir:
Pendidikan:
- SD Kutacane, Aceh Tenggara
- SMP Negeri di Banda Aceh
- SMA Negeri di Banda Aceh
- Akabri di Magelang, lulus 1972
- Seskoad, 1989-1990
- Seskogab, 1994
Karier:
- 1973-1982: Kasi Operasi Batalion 405 di Cilacap, Jawa Tengah
- 1982-1985: - Kasi Ops Kodim Simalungun, Kodam I/BB
- Wadan Yon Linud 100/PS Namu Sira-sira Binjai
- 1986: Dan Yon 126/Kalasakti di Kisaran, Sumatera Utara
- 1990: Kasi Ops Korem 011 Lilawangsa di Lhokseumawe, Aceh Utara
- 1992: Dandim Simalungun, Sumatera Utara
- 1993: Wakil Asisten Operasi Kodam I/BB di Medan
- 1995: Asisten Operasi Kodam IX Udayana
- 1996: Danrem di Kalimantan Timur
- 1998: Paban Sis Lat Kodiklat TNI-AD
- 2001: Wakil Panglima Komando Pelaksana Operasi Aceh
- Panglima Komando Pelaksana Operasi Aceh
v2002: Panglima Kodam Iskandar Muda
- 2003-sekarang: Koordinator Staf Ahli Panglima TNI
- Pasukan marinir di Aceh
|
|