Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXXII/09 - 15 Juni 2003
   
Teknologi Informasi

Mengajar Jadi Penjahat 'Cyber'

Sebuah universitas di Calgary akan mengajarkan cara membuat virus komputer. Industri antivirus menyangsikan manfaatnya.

Setiap bencana selalu membawa berkahnya sendiri. Sindrom pernapasan akut parah atau severe acute respiratory syndrome (SARS), yang sudah membunuh lebih dari 700 orang, justru menjadi sumber inspirasi bagi pengelola University of Calgary di Calgary, Alberta, Kanada: mereka berencana membuka kursus membuat virus komputer bagi mahasiswanya.

Doktor Ken Barker, Kepala Departemen Ilmu Komputer di universitas tersebut, menginginkan mahasiswanya meniru cara kerja para ahli virus dan kedokteran dalam mencari tahu penyebab SARS. Untuk mengungkap misteri penyakit itu, para ahli virus meneliti tuntas virus baru dari keluarga coronavirus. Mereka membongkar genetikanya untuk memperoleh peta genomnya. Peta itu akan mengungkap mutasi yang menyebabkan virus mengganas sewaktu meloncat dari hewan ke manusia. Sesudah itu, penemuan vaksinnya hanya soal waktu.

Rencananya, mulai Agustus departemen yang dipimpin Barker membuka kelas yang mengajarkan kepada mahasiswa tahun keempat cara membuat virus komputer atau kode komputer yang merusak lainnya, seperti worm dan trojan horse. Dalam pikiran Barker, jika mahasiswa bisa merancang sendiri bentuk dan kekuatan virus, mereka tahu rasanya menjadi pembuat virus. Jadi, katanya, mahasiswa tak hanya belajar membuat virus, tapi juga mempelajari pola pikir pembuatnya. Ketika rahasia dapat dipahami, mudah saja menciptakan penangkal yang bekerja sebelum virus menginfeksi.

Onno W. Purbo, pakar teknologi informasi dan bekas dosen Institut Teknologi Bandung, menganggap masuk akal gagasan yang dicetuskan University of Calgary itu. Menurut dia, untuk bisa mengerti penangkalnya, memang harus bisa membuat virus. Setahu dia, sekolah komputer di Indonesia tak mengajarkan cara membuat virus. Pengetahuan itu biasa diperoleh mahasiswa secara informal.

Namun, kritik industri peranti lunak antivirus menghantam niat University of Calgary, yang justru mengklaim mendapat dukungan. Charles Cousins, Direktur Sophos Anti-Virus Asia di Singapura, tak sependapat dengan analogi cara kerja ilmuwan dalam mengungkap virus SARS. Menurut dia, sebetulnya para ilmuwan itu hanya "menentukan dengan cermat ancaman baru melalui pemahaman dan analisis terhadap ancaman- ancaman yang telah ada sebelumnya", bukan menciptakan virus baru. Ia yakin, menciptakan virus baru malah mengarah pada ancaman yang lebih besar.

Cousins tak berlebihan. Para ahli kini kewalahan menangani gempuran virus, yang diperkirakan berjumlah 80 ribu jenis. Dalam sebulan saja, menurut Sophos Anti-Virus, ditemukan 600 hingga 700 virus. Pada tahun 2000, Information Week dan PriceWaterhouseCoopers menggelar survei global, yang hasilnya memperkirakan US$ 1,6 triliun ekonomi global terkuras oleh aksi virus dan hacker. Padahal pembuat virus atau mereka yang sengaja menyebarkan program jahat ke jaringan bisa digolongkan sebagai pelaku tindak kejahatan cyber.

Umumnya pembuat virus, seperti juga para hacker, memiliki motivasi dan tujuan berbeda-beda. Ada kalanya mereka menampilkan identitas samaran dan alasan membuat serta menyebarkan virusnya. Ada yang sekadar ingin namanya terpampang, ada pula yang menjadikan virus sebagai pelampiasan perbedaan pendapat.

Untuk mencegah mahasiswa menyalahgunakan pengetahuan yang mereka dapatkan, University of Calgary menerapkan sebuah lingkungan belajar yang terisolasi. Pihak universitas memiliki beberapa tahap untuk memastikan virus yang dikembangkan di laboratorium tak menyebar keluar. Misalnya, hanya mahasiswa tahun keempat yang mendapat izin dari departemen yang dapat memasuki laboratorium.

Laboratorium itu sendiri memiliki sistem pemantauan keamanan 24 jam, tujuh hari dalam seminggu. Tak ada disket atau media penyimpan yang dapat dilepas yang boleh keluar-masuk laboratorium. Ruangan dirancang khusus, tak ada titik akses nirkabel ataupun kebocoran akses melalui udara. Sudah pasti, tak ada akses kabel keluar ruangan dari komputer-komputer di dalamnya, yang membentuk satu jaringan sendiri. Ketika kursus berakhir, semua komputer akan disterilkan dengan menghancurkan setiap media penyimpanan yang dapat dilepaskan. Seluruh hard disk dibersihkan.

Ian Hameroff dari Computer Associates, sebuah produsen peranti lunak antivirus, menyangsikan aspek keamanan itu. Ia membandingkannya dengan University of Hamburg, pemilik laboratorium komputer paling tepercaya yang banyak menyumbang peranti lunak antivirus. Di sana mahasiswa tak diajari membuat virus. Lagi pula, kata Vincent Gulotto, Vice President AVERT, "Bagaimana kita dapat memastikan pengetahuan yang didapat itu tak akan digunakan secara salah di belakang hari?" AVERT, Sophos, dan Trend Micro mengancam tak bakal menerima lulusan sekolah pembuat virus itu.

Sebuah ironi: dulu mahasiswa dikeluarkan dari kampus begitu kedapatan membuat virus, kelak mereka boleh membuat virus tapi tak bisa keluar dari kampus karena perusahaan-perusahaan menutup pintu.

Doddy Hidayat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Hatta Minta Kegagalan Super Toy Tidak Dipolitisir - 05 Sep 2008 | 15:05 WIB
Pemerintah Harus Libatkan Organisasi Guru dalam Sertifikasi Guru - 05 Sep 2008 | 15:01 WIB
Lima Hari, Lima Jenazah Bayi - 05 Sep 2008 | 14:59 WIB
Klub Raksasa Inggris Bertambah Satu - 05 Sep 2008 | 14:58 WIB
Lima Hari, Lima Mayat Bayi - 05 Sep 2008 | 14:56 WIB
Pemerintah Diminta Segera Terbitkan PP Pendidikan - 05 Sep 2008 | 14:52 WIB
Minyak Tanah Non Subsidi Dijual Untuk Umum - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
Warga Perkarakan Lahan Pengembang Alam Sutera - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
Pemerintah Diminta Sediakan Buku Gratis - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
Soal Busway Koridor Baru, Jakarta Bungkam - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data