Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXXII/09 - 15 Juni 2003
   
Seni Rupa

'Dunia Dalam' F.X. Harsono

Mengusung problem identitas, F.X. Harsono berpameran di Galeri Nasional, Jakarta.

Identitas tak henti-hentinya menjadi bahan refleksi para perupa modern. Banyak soal kegamangan asal-usul ini dilukiskan dengan potret diri yang distortif. Sisi traumatik diimajinasikan dengan menampilkan sosok atau volume tubuhnya sendiri yang telah (di)rusak. Digunakannya fotografi dan komputer membuat visualisasi "hal-hal dalam", yang dahulu tak bisa dicapai dengan medium kuas dan kanvas, semakin mungkin.

Adalah menarik ketika F.X. Harsono, 54 tahun, menampilkan pameran yang mengusung problem identitas, di sebuah pameran sejak pekan lalu. Perupa kawakan yang bekerja di dunia profesional desain grafis ini kita kenal karya-karyanya bergelut dengan tema sosial dan kekerasan. Singkatnya, selama ini perhatiannya lebih besar pada realitas di luar dirinya. Dan kini (semenjak tahun 2000) ia masuk ke "dunia dalam". Harsono sendiri menganggap ini era transisi kesenimanannya.

Seberapa jauh pengolahan ikon-ikon Internet, manipulasi fotografi, suntingan gambar-gambar, dan acakan teks bisa dikombinasikan Harsono untuk mengeksplorasi ranah identitas? Memasuki ruang Galeri Nasional, sekilas pandang mata kita cenderung disuguhi berbagai karya dengan komposisi yang rapi dan bersih. Ia tampak mencoba berbagai medium printing: foto etsa, xerography, cetak digital, silkscreen.

Mula-mula yang membetot adalah serial yang menampilkan potret tubuhnya sendiri. Cogito Ergo Sum, adagium Rene Descartes yang berarti "aku berpikir maka aku ada" itu, menjadi judul enam panel bergambar wajahnya. Wajah itu terhalangi oleh berbagai "mudra" (sikap tangan) yang masing-masing memegang kertas dan buku. Wajah itu sendiri makin lama makin buram, kabur, dan akhirnya tinggal berkas. Harga diri (2002) adalah lima gambar Harsono separuh wajah menjulurkan lidah, tanpa kelihatan mata. Open Your Mouth (2001), foto etsa di kertas, menampilkan empat wajahnya dengan mulut menganga yang dibuka secara paksa oleh dua tangan dari berbagai posisi. Karya Displaced, yang juga menjadi judul pamerannya, adalah gambar Harsono membungkus kepalanya dengan kantong plastik hitam; duduk telanjang, sambil menggenggam setandan bunga plastik.

Perupa lain yang kerap menampilkan tubuhnya sendiri adalah Agus Suwage. Tapi ada perbedaan antara Agus dan Harsono. Pada Agus, berbagai variasi sikap tubuh dan mimik menjadi semacam permainan tanda-tanda atau kode (sign). Sebuah kode yang memparodikan berbagai empire of sign—kode tubuh massal pada baliho, poster, iklan-iklan di Jakarta. Pada Harsono, wajah kabur, wajah dibungkus, wajah tanpa mata merefleksikan kembali identitas dalam dirinya yang hilang.

Harsono lahir di Blitar, Jawa Timur, sebagai keturunan minoritas Tionghoa. Di pameran, ia memasang foto pernikahan bapak dan ibunya. Dalam perjalanannya, ia merasa "kebudayaan asli" sebenarnya tidak ada, karena hidup lebih ditentukan oleh percampuran-percampuran budaya. Membaca karya-karyanya tidak bisa dengan pendekatan biografis. Harsono tidak mengejar suatu esensi, kehakikian, atau sumber. Identitas adalah fragmentasi yang pecah-pecah.

Ia juga mengaburkan identitas para tokoh dalam karya Blank Spot on My TV. Di dinding, ia menempelkan berbagai foto orang-orang top yang diambil dari televisi, mulai Bambang Yudhoyono, Inul, Miranda Goeltom, sampai Didi Kempot. Mulut mereka masing-masing ditempeli bulatan putih, seolah-olah dihilangkan segala kecap obrolan yang menjadi daya tarik atau nilai jual mereka. Agaknya Harsono merasa dunia televisi dan Internet menyajikan bahan-bahan penghilangan dan fragmentasi itu.

Menarik, misalnya, mencermati pelbagai tipe ikon apa saja untuk mendukung hal yang mengaburkan totalitas identitas itu. Pada Harga Diri, ada ikon-ikon sandal jepit, sosok korban, barcode, ikan-ikan. Pada Open Your Mouth: ikon babi, anjing, hewan-hewan. Pada Suara Ikan (2002) ada daun telinga. Pada Tubuhku Lahanku (2002) ada tanaman-tanaman. Ia menggunakan gambar Lara Croft untuk mempertanyakan arti pahlawan.

Sejatinya, ia masih tergolong minim memanfaatkan berbagai ikon yang tersedia di Internet. Tapi, dari sedikit itu, toh ada yang menyuguhkan metafor yang bernas. Simak Pig or Angel?, So What?, dan The Cloning Angel. Karya ini membuat kita yakin bahwa diam-diam Harsono kuat bila merenungkan agama, diri, dan masyarakat.

Sebuah karyanya di Yogya tahun 1998 berjudul Datanglah Kerajaan-Mu, misalnya, menampilkan serangkaian kolase foto kerusuhan Mei dengan diiringi teks "Doa Bapa Kami". Ia ingin menunjukkan sebuah kontras. Ketika gambar memperlihatkan orang-orang berpesta-pora menjarah, kutipan doa yang ditampilkan adalah, "Di atas bumi seperti dalam surga…."

Dan kini kritiknya tak lagi verbal. Simak Pig or Angel?, So What?. Ada ikon malaikat kecil-kecil berbaris tertib meniupkan terompet sangkakala ke telinga seekor babi. Babi itu bersayap. Sang malaikat seolah bingung dengan salah identitas (displaced), salah tempat itu….

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Al Amin Mengaku Tak Berpengaruh di Komisi Kehutanan DPR - 05 Sep 2008 | 21:02 WIB
Kapolda Jawa Barat Mengaku Ditawari Suap Rp 10 Miliar - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Hughes Bersumpah Jadikan City Raksasa Eropa - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan - 05 Sep 2008 | 20:44 WIB
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif - 05 Sep 2008 | 20:40 WIB
Bapepam Akan Gugat Eurocapital - 05 Sep 2008 | 20:32 WIB
Buffon Bantah Hengkang ke City - 05 Sep 2008 | 20:30 WIB
Menteri Anggap Enteng Keluhan Guru Sabah - 05 Sep 2008 | 20:26 WIB
Siaran Liga Inggris Astro Sampai Akhir September - 05 Sep 2008 | 20:25 WIB
Bangun di Lahan Konservasi Kena Pajak Tinggi - 05 Sep 2008 | 20:22 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data