Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXXII/09 - 15 Juni 2003
   
Selingan

Jejak Sejarah 'Kibbutz'

1909

Sekelompok pelopor muda yang baru pulang dari Rusia mengeringkan tanah rawa dekat Hadera. Mereka kemudian tinggal dan menerapkan gaya hidup sosialis. Diputuskan membangun tanah pertanian sendiri di Degania. Sejak inilah masyarakat komunal pertama, Kibbutz Degania, berdiri. Selain diilhami oleh semangat revolusi Rusia, mereka percaya pula pada zionisme, gerakan membentuk Yahudi baru. Kampung kecil yang kemudian membesar ini juga sebagai pernyataan politik untuk membentuk permukiman Yahudi di tanah Palestina.

1920-1930


Berbagai kibbutz lainnya mulai tumbuh bagai jamur tersiram air. Sekolah dan rumah anak berdiri. Industri kecil mulai terlihat, terutama yang masih berhubungan dengan pertanian.

1930

Mulai muncul gerakan kibbutz baru yang beralaskan agama. Komunitas ini sangat kontras dengan kelompok pendahulunya yang sekuler. Mereka ingin menyatakan bahwa kebersamaan, saling tolong, dan membangun negeri adalah cara hidup orang Yahudi.

1948

Negara Israel berdiri. Kibbutz, yang 80 persen sudah eksis sebelum Israel dideklarasikan sebagai sebuah negara, semakin berkibar. Mereka ikut melakukan sebagian besar fungsi pemerintah, yaitu menempatkan imigran baru dan mengembangkan pertanian.

1960

Standar hidup anggota kibbutz meningkat. Mereka lebih makmur dibanding rakyat Israel umumnya. Jumlah anggota kibbutz pun membengkak seiring menjamurnya kampung-kampung besar.

1980-an

Inflasi yang mencapai tiga digit dan tingkat bunga yang tinggi menyebabkan ekonomi Israel berantakan. Kibbutz terkena dampaknya. Sepertiga jumlah kibbutz mengalami kesulitan finansial. Untuk membayar utang, sebagian besar mereka menjual tanah pertanian.

1990-sekarang


Meski tak drastis, penurunan, baik dalam jumlah anggota maupun kekayaan, terus terjadi. Umur rata-rata penghuni kibbutz menua. Yang muda tergoda bekerja di luar.

Sumber: Yad Tabenkin, Facts and Figures, 2001


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data