'Kibbutz' di Usia Senja TERSEBAR antara Laut Merah dan Dataran Tinggi Golan, ratusan perkampungan unik dan hampir seragam itu pernah menjadi pondasi perekonomian Israel. Itulah kibbutz, permukiman yang warganya hidup secara komunal dalam tatanan sosialistis. Dikibarkan jauh sebelum Israel merdeka, sumbangannya sungguh besar bagi negeri ini. Hanya, setelah berusia hampir satu abad, berbagai kibbutz mulai kehabisan napas dijepit oleh ekonomi kapitalistis. Semakin banyak pula anak muda yang lebih suka menghirup keleluasaan bekerja di luar. Inilah laporan wartawan TEMPO Leanika Tanjung, yang melawat ke Israel sebulan silam. |
PERMUKIMAN kembar yang jumlahnya ratusan itu bertebaran di seluruh Israel. Tertata dalam bangunan yang hampir seragam, mereka berbaris dari tepi Laut Merah di sebelah selatan Israel sampai Dataran Tinggi Golan di utara. Itulah kibbutzdari bahasa Ibrani yang artinya "komunitas"tempat sekelompok Yahudi Israel tinggal dan hidup bersama dengan cara unik. Tidak seperti negara tempat mereka bermukim yang kapitalis, masyarakat di sana hidup secara komunal dalam sebuah tatanan sosialis.
Tak ada harta pribadi. Semua kekayaan dibagi rata. Seorang tukang cuci piring di rumah makan akan mendapat upah yang sama dengan manajer atau staf administrasi kantor. Makan pagi dan siang dilakukan bersama di sebuah rumah besar. Dulu, anak-anak dibesarkan bersama dalam rumah anak. Saat sebulan silam TEMPO menengok "monumen-monumen" sosialisme ini, mereka sudah sedikit berubah. Kini, di banyak kibbutz, anak-anak sampai sekolah menengah tidur di rumah sendiri bersama orang tua dan saudaranya.
Munculnya kibbutz di negeri Israel melewati perjalanan yang panjang. Seratus tahun lalu, sekelompok kecil pemuda Yahudi bermigrasi dari Eropa Timur. Terinspirasi oleh zionisme, gerakan kembali ke tanah leluhur, dan ideologi sosialis, mereka mendirikan sebuah kelompok. Awalnya mereka memberi nama kvutza, yang berarti grup. Ketika anggotanya bertambah banyak, kvutza berganti menjadi kibbutz.
Degania, yang artinya kembang jagung dalam bahasa Ibrani, adalah kampung pertama yang menerapkan ekonomi sosialis di Israel. Berdiri pada 1909, masyarakat di sana tidak bekerja di tanah yang subur atau kolam susu. Sebaliknya, mereka menggarap tanah rawa dengan ancaman penyakit malaria.
Mereka menanggung risiko besar. Tapi, itulah awal menjamurnya kibbutz. Ada 270 kantong kibbutz yang tersebar di seluruh Israel. Yang terbanyak di pinggir Danau Galillee, tempat kibbutz pertama, Degania, berdiri. Dengan anggota beragam dari 40 hingga 1.000 orang, total anggotanya 130 ribu atau 2,5 persen dari populasi Israel yang mencapai 6,2 juta jiwa. Kendati jumlahnya kecil, mereka sanggup menyumbang 40 persen dari seluruh produksi pertanian di negeri itu.
Menganut sistem yang sama membuat bangunan-bangunan kibbutz hampir seragam. Sederet rumah kotak mengelilingi sebuah areal. Ada rumah anak dan taman bermain. Di setiap kibbutz ada juga fasilitas bersama seperti ruang makan, yang besarnya disesuaikan dengan jumlah anggota. Biasanya rumah makan ini letaknya dekat dengan gerbang utama. Tak ketinggalan pula sarana lain seperti auditorium, perpustakaan, kolam renang, lapangan tenis, klinik, binatu, dan toko pangan.
Ruang makan kibbutz biasanya menjadi sentral informasi bagi anggota. Ini pula yang tampak pada Kibbutz Mizra, di lembah Jezreel, tak jauh dari Yerusalem. Di tempat ini selalu ada papan besar berisi pengumuman berupa informasi cuaca, kegiatan harian, jadwal pesta, sampai ulang tahun anggota. Di tempat ini juga ada semacam kotak pos. Melalui lubang sempitnya, surat atau kertas-kertas penting dimasukkan.
Tak jauh dari rumah tinggal, ada peternakan sapi, kandang ayam, dan pabrik. Juga ada hamparan pertanian yang luasnya berhektare-hektare, kebun buah-buahan, dan kolam ikan yang biasanya ada di pinggir kampung. Berdiri di pinggir tanah pertanian Mizra yang luas, terpampang tiga nama yang punya sejarah besar bagi umat Kristiani: Nazareth, Gunung Tabor, dan Gunung Karmel.
Sesuatu yang lain di Kibbutz Mizra yang mungkin tidak dijumpai di kibbutz lain adalah pusat belajar milik Galillee College, sebuah institut manajemen di Israel dan pondokan berlantai dua. Selebihnya sama dengan kibbutz lainnya: terdiri dari tanah pertanian, jejeran rumah, taman bermain anak, dan fasilitas bersama.
Meski menganut paham sosialis, demokrasi tak mati di kibbutz. Semua keputusan diambil bersama melalui wakil mereka yang duduk dalam sebuah majelis. Mereka yang membuat kebijakan, memilih pekerja, mengesahkan bujet, dan menyetujui masuknya anggota baru. "Keputusan diambil melalui voting," kata Noah Eliezer, kasir di rumah makan Kibbutz Mizra.
Pekerjaan harian dilakukan komite yang juga dipilih anggota. Tugas mereka lebih spesifik, mulai dari mengurusi permukiman, keuangan, rencana kerja, kesehatan, sampai soal budaya. Sekretaris dan bendahara komite serta koordinator lapangan bekerja penuh untuk kibbutz. Ini tidak berlaku bagi anggota komite.
Lamanya bekerja ditetapkan bervariasi. Pekerjaan di dapur dan rumah makan biasanya dirotasi. Seorang kepala usaha yang bertanggung jawab terhadap rencana kerja dan investasi diganti setiap 23 tahun. Posisi manajerial yang membutuhkan seorang profesional membuat kibbutz harus mengadopsi berbagai metode yang sesuai dengan struktur ekonomi mereka tanpa kehilangan unsur kebersamaan dan kesetaraan.
Kaum perempuan juga punya kesempatan yang sama dengan para adam. Semua pekerjaan terbuka buat mereka. Belakangan, mereka memilih bekerja di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan masyarakat lainnya daripada di pertanian atau industri. Yang lebih tua diberi pekerjaan yang disesuaikan dengan kesehatan dan staminanya.
Mereka yang bekerja di luar kibbutz punya kewajiban menyisihkan sebagian penghasilannya ke komunitas ini. Besarnya ditetapkan bersama dan berbeda untuk tiap kibbutz. Sandy Kuttler adalah satu contoh yang bekerja di luar kibbutz. Penghuni Kibbutz Sarid, yang letaknya bertetangga dengan Kibbutz Mizra, ini bekerja sebagai pemandu wisata.
Meski bertentangan dengan prinsip yang mereka anut, banyak kibbutz yang kini mempekerjakan orang luar. Di rumah makan Kibbutz Mizra, misalnya, ada tiga Yahudi Afrika yang setiap harinya melayani makan pagi dan siang. Mereka bekerja paruh waktu, dari pagi sampai makan siang.
Dalam sejarahnya, kibbutz memiliki peranan penting dalam membentuk Israel hingga bisa seperti sekarang ini. Sebelum Israel berdiri tahun 1948, kibbutz-lah yang melakukan peran pemerintah seperti membantu imigran, mengembangkan pertanian, dan membentuk kantong permukiman baru. Kini, tugas itu sudah diambil pemerintah. Peran kibbutz pun mengecil, walau tak sampai berhenti.
Suksesnya tatanan ekonomi di kampung-kampung itu juga membuat taraf hidup masyarakatnya cukup baik. Sebagian besar masyarakat kibbutz berada di golongan menengah-atas. Sulit memahami bahwa ini bisa dicapai sebuah kampung di pedesaan. Rumah mereka dilengkapi alat pendingin, televisi, dan peralatan modern lainnya.
Hanya, ketika ekonomi Israel terpuruk pada 1980-an, berbagai kibbutz ikut limbung. Sepertiga dari mereka mengalami kesulitan keuangan sehingga banyak yang terpaksa harus menjual tanah pertanian untuk membayar utang. Guncangan ini membuat banyak kibbutz berbenah, mencari titik keseimbangan baru. Perubahan terjadi di sana-sini. Peraturan dilonggarkan. Mereka boleh memilih pakaian dan peralatan rumah, sampai soal menghabiskan waktu libur.
Sekarang, di generasi ketiga dan keempat, tantangan makin berat. Mereka memang tak perlu lagi mengeringkan rawa seperti nenek-moyangnya. Tinggal di rumah-rumah yang serba tertata dan terkesan makmur, mereka mesti bisa mempertahankan laju roda perekonomian di kibbutz. Ini tak gampang dilakukan di tengah ekonomi Israel yang memburuk dua tahun belakangan ini.
Hambatan yang lebih besar menghadang pula. Kibbutz mulai letih bersaing dengan kapitalisme yang mengepung Israel. Bukan cuma karena kurangnya modal, tapi juga lantaran sedikitnya tenaga ahli yang bersedia bekerja di kibbutz.
Jangan heran jika sosiolog dari Universitas Birmingham, David Bailey, percaya bahwa kibbutz sudah memasuki periode terpecah menjadi keping-keping. Perubahan terjadi di mana-mana. Sistem upah dan harga mulai diperkenalkan. "Rasanya, akhir era hidup bersama sudah dekat," katanya.
Kenyataannya, banyak angkatan muda kibbutz yang tak lagi tertarik tinggal bersama. Hanya sekitar 40 persen dari anak yang dibesarkan di kampung besar itu kembali ke asalnya setelah menyelesaikan pendidikan wajib militer. Selebihnya mengadu peruntungan sekaligus kebebasan di luar kibbutz, kendati belum akan mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
|