Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXXII/09 - 15 Juni 2003
   
Pendidikan

'Pasal Agama' di Madania

TEPAT pukul 12.00, bel rehat berbunyi. Para siswa muslim Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Madania berhamburan dari kelas. Seperti dikomando, mereka langsung antre berwudu, kemudian menuju tempat salat—sebuah aula di gedung sekolah itu. Seorang siswa mengumandangkan azan. Sekitar sepuluh menit kemudian, dimulailah salat zuhur berjemaah. Usai salat, mereka mendapat siraman rohani dari guru agama, sekitar lima belas menit.

Pada saat bersamaan, siswa nonmuslim berkumpul di kelas agama masing-masing, menerima siraman rohani dari guru agamanya. Begitulah, sejak berdiri pada 1998, Sekolah Madania yang bernuansa Islam itu membuka pintu bagi calon siswa nonmuslim. Saat ini, dari 843 siswa SD dan SMP Madania yang berlokasi di perumahan mewah Telaga Kahuripan, Parung, Bogor, terdapat 114 siswa nonmuslim. Ada 56 pemeluk Katolik, 46 Protestan, 5 Buddha, 2 Hindu, dan 5 Saksi Jehuwa. Menurut Anggie S. Anggari, Direktur Madania, sekolah yang dipimpinnya menjunjung tinggi pluralisme. Madania tak pernah membedakan siswa muslim dan nonmuslim. "Semua mendapat fasilitas dan perlakuan yang sama," ia menjelaskan. Untuk menunjang pelajaran agama, misalnya, Madania menyediakan kelas khusus untuk semua agama. Di sekolah itu ada kelas Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan itu tadi: Saksi Jehuwa.

Kelas khusus ini memiliki guru agama masing-masing. Jadi, tutur Anggie, kalau siswa muslim belajar agama selama dua jam, siswa nonmuslim juga belajar agama di kelasnya dengan waktu sama. Setelah belajar agama, para siswa kembali ke kelas asalnya masing-masing. Pada Ramadan, kegiatan keagamaan di Madania malah lebih semarak. Para siswa muslim menggelar pesantren kilat, sedangkan siswa Katolik dan Protestan, misalnya, mengadakan retret.

Selama Ramadan, Madania juga mengundang pastor, pendeta, dan biksu untuk berceramah bagi siswa nonmuslim. Yohana M.H. Siahaan, guru agama Protestan, mengaku belum pernah menemui masalah apa pun selama mengajar di Madania. Hal yang sama dirasakan guru Hindu, Gusti Ayu K. Sutini. Meski muridnya hanya dua orang, ia mendapat ruangan dan fasilitas sama dengan kelas Islam yang muridnya banyak.

Ya, boleh dibilang Madania telah menerapkan "pasal agama" dalam Rancangan Undang-Undang Sisdiknas sebelum peraturan itu disahkan. Memang, saat ini baru SD dan SMP Madania yang menerapkan "pasal agama" itu. Tapi, menurut Munif, staf hubungan masyarakat SMU Madania, mulai tahun ajaran 2005/2006 SMU juga akan menerapkannya. Jadi, "Mulai 2005, SMU Madania akan menerima siswa nonmuslim," ujarnya.

Hanya, untuk menikmati suasana majemuk itu, orang tua calon murid mesti merogoh kocek lebih dalam. Tarif uang masuknya saja sekitar Rp 10 juta- 20 juta, dan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) per bulannya Rp 300 ribu-600 ribu. Malah, berdasarkan brosur penerimaan siswa baru, mulai tahun ini Madania mematok uang masuk sekitar Rp 30 juta dan SPP setiap bulannya Rp 600 ribu.

Nurdin Kalim, Deffan Purnama (Bogor)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data