Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXXII/09 - 15 Juni 2003
   
Laporan Utama

Teungku Malik Mahmud, Perdana Menteri GAM:"Yang Tewas Bukan Anggota GAM"

MENINDAK pemimpin Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Swedia ibarat mendorong bongkah batu ke puncak gunung. Liat dan alot. Swedia, negara kecil di Eropa itu, kukuh melindungi warganya. Memang, pelarian politik yang hidup di sana bukan cuma orang GAM. "Ada ribuan orang dari seluruh dunia yang mendapatkan suaka politik di Swedia," kata Teungku Malik Mahmud, Perdana Menteri GAM.

Orang-orang GAM di Swedia adalah titipan badan pengungsi PBB (UNHCR). Mereka mengajukan suaka politik melalui kantor ini sejak 1980, semasa masih berada di Aceh. Menurut Malik Mahmud, UNHCR pula yang menjembatani mereka untuk tinggal di sana.

Di pengujung 1981, Malik Mahmud ikut dalam rombongan sekitar 50 orang pelarian GAM—di antaranya Hasan Tiro—yang meninggalkan Indonesia melalui Jakarta. Mereka terbang ke Swedia dengan pesawat Belanda, KLM. Lima tahun kemudian, menurut pengakuan Malik Mahmud, mereka mengantongi status resmi sebagai warga negara Swedia.

Dan kini lelaki kelahiran Banda Aceh pada 1939 ini hidup tenang di Stockholm, Swedia, bersama istri dan empat anaknya. Sebagai pelarian politik, ia mendapatkan sebuah rumah dan menerima uang bulanan sekitar 5.000 krona (Rp 5 juta dengan kurs sekarang) dari pemerintah setempat.

Berikut ini penuturan Teungku Malik Mahmud kepada wartawan Tempo News Room, Faisal Assegaf, lewat saluran telepon internasional, Rabu, 4 Juni malam.

Hak apa yang Anda dapatkan sebagai warga negara Swedia?


Ya, sama seperti warga Swedia lainnya. Di sini kita bebas ke mana saja tanpa gangguan. Kita diberi kebebasan.


Bagaimana tanggapan Anda terhadap pemerintah Indonesia yang terus berusaha menangkap Anda?

Itu kan urusan Indonesia. Kami tidak tahu bagaimana hasilnya karena itu masalah antara pemerintah dan pemerintah.


Bagaimana jika Swedia tunduk terhadap permintaan Indonesia?


Saya kira sulit bagi Indonesia untuk mendapatkan ekstradisi karena harus menghadapi peraturan-peraturan Negara Swedia.


Sejak menjadi buron, apakah Anda mendapatkan pengawalan ketat dari aparat keamanan Swedia?


Kalau secara terang, saya lihat enggak ada. Di sini saya tidak pernah terkesan diganggu.


Apakah Anda merasa terancam?


Tidak sedikit pun merasa terancam karena ini negara Eropa. Mereka mengamalkan demokrasi. Mereka memberikan kebebasan kepada rakyatnya. Kalau di Indonesia, kita selalu diikuti dan tidak bisa bicara.


Jika masalah Aceh menjadi isu internasional, apa manfaatnya bagi GAM?


Tentu menguntungkan sekali bagi perjuangan kami. Selama waktu DOM (daerah operasi militer), apa yang terjadi di Aceh dirahasiakan dari pengetahuan umum, termasuk dari saudara-saudara kita yang lain di Indonesia. Begitu banyak rakyat kecil menjadi korban TNI/Polri dan pelakunya tidak dibawa ke pengadilan. Tapi kenyataan diputarbalikkan oleh pemerintah Indonesia.


Apa target utama jika masalah Aceh menjadi isu internasional?


Di sini, yang penting, dunia harus mengetahui keadaan sebenarnya di Aceh dan pemerintah di Indonesia. Pemerintah di Indonesia saat ini tidak ada perubahan, tetap didominasi oleh pihak militer dan anggota partai yang sebagian besar bekas kroni rezim Soeharto.


Bagaimana dengan rencana memasukkan soal Aceh ke Sidang Umum PBB?


Itu ada. Targetnya kita tidak tahu karena itu wewenang PBB. Tapi untuk ke arah situ kami sudah bikin usaha.


Negara mana saja yang sudah didekati?


Ada beberapa negara. Tapi saya tidak bisa menyebutkannya sekarang.


Apa yang akan membuat dunia mengakui kemerdekaan Aceh?


Pada suatu ketika dunia akan melihat bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik antara Aceh dan Indonesia adalah mengakui kemerdekaan Aceh. Seperti yang Anda ketahui, kami dapat bertahan selama 27 tahun. Itu adalah suatu kenyataan.


Selama operasi militer, sudah banyak anggota GAM yang tewas. Apa yang akan dilakukan pemimpin GAM di Swedia?


Yang banyak tewas itu bukan anggota GAM. Mereka adalah rakyat biasa.


Bagaimana Anda yakin mereka hanya rakyat biasa?


Kami tahu. GAM adalah Tentara Neugara Atjeh yang punya senjata, sedangkan yang lain itu rakyat biasa.


Anda warga negara Swedia, tapi mengapa Anda merasa berhak memimpin perlawanan GAM di Aceh?


Walaupun kami di luar negeri, perjuangan dan nasib bangsa Aceh menjadi tanggung jawab kami yang utama.


Berapa jumlah anggota GAM di seluruh dunia?


Sekitar seribu orang tersebar di kawasan Skandinavia, Amerika, dan Australia. Di Malaysia ada anggota dan simpatisan.


Ada pertemuan rutin anggota GAM dari seluruh dunia?


Itu biasa. Rapat besar setahun sekali. Rapat kecil menurut keadaan. Rapat besar biasanya di Stockholm. Yang hadir sekitar 30 orang.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data