Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXXII/09 - 15 Juni 2003
   
Luar Negeri

'Perdana Menteri' Sein Win

DOKTOR Sein Win." Begitulah dia biasa disebut oleh mereka yang mengenalnya—di pengasingan ataupun di Burma. Berduet dengan se- pupunya, Aung San Suu Kyi, Sein Win, 59 tahun, ikut berjuang untuk memerdekakan Burma dari rezim militer yang menekan warga negeri itu selama bertahun-tahun. Sein Win kabur dari Burma pada 1990, tak lama setelah pemilu digelar di sana. Inilah pemilu pertama sejak rezim militer mengambil alih kekuasaan pada 1962. Pemilu ini membawa kemenangan telak bagi partai yang dipimpin Aung San Suu Kyi, National League for Democracy (NLD).

Hal ini membikin naik pitam penguasa militer. Para pemimpin NLD ditangkap dan dikejar-kejar. Sein Win hengkang ke luar Burma meninggalkan sepupunya dan istrinya, yang tengah hamil anak pertama mereka. Doktor matematika lulusan Hamburg University ini berhasil melewati perbatasan Burma melalui laut dengan menumpang perahu motor kecil. Dia sempat keleleran lima hari di hutan-hutan pegunungan sebelum mencapai daerah Manerplaw, Thailand. Di sini dia diangkat menjadi Perdana Menteri Burma dalam pengasingan. Kini berdiam di Washington, DC, Sein Win memiliki anggota "kabinet" yang tersebar di Thailand, Australia, dan Amerika Serikat.

Dari mancanegara, Sein Win lalu menyokong perjuangan Aung San Suu Kyi. Dia ikut repot bukan main tatkala Suu Kyi—berikut puluhan anggota NLD—kembali ditahan oleh rezim penguasa dua pekan lalu. Perdana Menteri National Coalition Government of the Union of Burma (NCGUB) alias pemerintahan Burma dalam pengasingan ini langsung terbang ke Eropa. Dia melobi kanan-kiri dengan gencar agar Aung San Suu Kyi dan para pemimpin NLD yang lainnya bisa dibebaskan lagi.

Di tengah kesibukan mempersiapkan keberangkatannya, Sein Win menjawab pertanyaan wartawan TEMPO Purwani Diyah Prabandari via surat elektronik. Berikut ini petikannya.

Aung San Suu Kyi kembali ditangkap. Apa komentar Anda?


Penangkapan Daw (sebutan untuk wanita Burma) Aung San Suu Kyi dan pemimpin oposisi lainnya serta tindakan keras terhadap Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dan penutupan beberapa kampus merefleksikan keputusasaan penguasa militer (di Burma).


Bukankah rezim militer telah membebaskan beberapa aktivis oposisi dan bersedia membuka dialog?


Penangkapan ini amat mengejutkan karena para jenderal telah berjanji secara terbuka bahwa dia (Suu Kyi) bebas melakukan perjalanan. Ternyata janji para jenderal untuk membawa demokrasi ke Burma itu bohong belaka.


Apa alasan penahanan Aung San Suu Kyi kali ini?


Ketika ribuan orang keluar menyambut Daw Aung San Suu Kyi dalam perjalanannya ke berbagai kota di Burma, para jenderal terkejut dengan dukungan massa yang begitu besar. Selama bertahun-tahun, dukungan rakyat terhadap Suu Kyi ternyata tidak berubah. Militer mencoba menakut-nakuti rakyat dengan menggunakan antek-antek mereka: para pensiunan tentara dan anggota-anggota Asosiasi Uni Solidaritas dan Pembangunan (USDA).


Apa yang terjadi saat itu?


Ketika rakyat dan para biksu keluar untuk menyambut Daw Aung San Suu Kyi, militer menyerang rakyat dan pendukung Suu Kyi. Banyak orang yang terluka dan tewas. Untuk menutupi situasi dan sekaligus menghancurkan NLD, mereka menangkap semua pemimpinnya serta menutup semua kantor NLD.


Apakah ada ancaman sebelum penangkapan tersebut?


Ada beberapa ancaman dari militer dan anggota USDA. Mereka mengancam akan melukai Daw Aung Sang Suu Kyi dan anggota partainya.


Seberapa jauh dialog antara SPDC (Dewan Perdamaian dan Pembangunan Negara) dan oposisi sejak pembebasan Suu Kyi pada tahun lalu?


Pembicaraan ini rupanya untuk membangun rasa "saling percaya" tanpa agenda politik. Daw Aung San Suu Kyi menyerukan dialog yang substansial untuk mendiskusikan masa depan politik Burma. Tapi para jenderal mengabaikannya. Lagi pula tak pernah ada pembicaraan lagi sejak pembebasan Aung San Suu Kyi dari tahanan rumah pada Mei tahun lalu.


Apa yang dilakukan NCGUB sejauh ini untuk menekankan dialog dengan SPDC?


Peran NCGUB adalah mendukung NLD, bukan sebagai mitra dialog. NCGUB telah mendesak masyarakat internasional agar membantu Burma dalam memulai dialog yang substantif menuju demokrasi.


Apa saja hasil lobi NCGUB ke masyarakat internasional selama ini?


Uni Eropa, Amerika, dan PBB telah sedapat mungkin mempromosikan dialog di Burma.


Bagaimana dengan ASEAN?


ASEAN bertahan dengan "kebijakan tidak campur tangan" dan lebih banyak diam melihat ketidakadilan di Burma.


Apa langkah NCGUB selanjutnya?


Kami mengikuti kebijakan NLD: berjuang tanpa kekerasan. Selain itu, kami akan meneruskan kerja-kerja diplomatik dengan pemerintah negara lain dan PBB untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan di Burma.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data