Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXXII/09 - 15 Juni 2003
   
Hiburan

Tetap Diva di Senja Hari

Dionne Warwick mengawali World Tour 2003 dengan berpentas di Jakarta. Panggung musiknya memikat, tapi kurang tuntas.

DI hadapan lebih dari 500 pasang mata yang menatapnya lekat-lekat, Dionne Warwick memutar mesin waktu ke masa silam. Tahun-tahun keemasan penyanyi berusia 62 tahun ini boleh jadi sudah luruh. Tapi suara emasnya tidak kunjung lebur. That's What Friends are For, yang pada 1985 dibawakan bersama Elton John, Stevie Wonder, dan Gladys Knight, mengalun di Jakarta Convention Center, Rabu pekan silam. Itulah nomor dengan satu tema yang sanggup bertahan melawan sang waktu: persahabatan.

Memang inilah 1980-an, 1970-an, bahkan 1960-an. Dalam konser tunggalnya, Dionne Warwick menembang 15 lagunya—semua dalam versi singkat. Iramanya beragam, dari pop, jazz, blues, sampai salsa. Tepuk tangan menggema ketika Warwick melantunkan nomor-nomor andalan: I Say a Little Prayer, That's What Friends are For, dan I'll Never Love This Way Again. Waktu konser itu pendek saja, cuma sekitar 50 menit. Alhasil, tatkala emosi penonton baru melaju ke puncak, sang diva sudah lenyap di balik tirai panggung.

Seperti dalam berbagai konsernya yang lain, malam itu Warwick mengisi panggungnya dengan rapi dan mandiri. Dia menyanyi, menghibur, mengajak penonton bercakap-cakap. Dia memandu acaranya sendiri. Malam itu, sebelum mulai melantunkan That's What Friends are For, Warwick berkata dengan bangga, "Ini sebuah anthem, lagu wajib pada zamannya." Dan dia memang punya alasan untuk berbangga.

Dirilis pada 1985, lagu ini seakan mengikat dunia dalam simpul solidaritas yang subtil tapi kukuh. Joan Baez dan Bob Dylan pernah menenteng gitar mereka ke Pakistan. Di tengah panasnya India dan Pakistan soal Kashmir, kedua folk singer itu mendinginkan suhu udara yang mencekik dengan menyanyikan tembang persahabatan tersebut. Berbagai gerakan kemanusiaan, terutama peduli HIV/AIDS, kemudian merebak seiring dengan lagu ini, yang kian mematangkan kepopuleran Dionne Warwick.

Kepopuleran diva berkulit hitam ini juga tecermin dari 500 lebih kursi seharga Rp 350 ribu hingga Rp 1 juta yang diisi oleh penonton Ibu Kota pada Rabu malam itu. Dalam gaun ungu berpayet emas, Dionne Warwick membuka pentasnya dengan lagu Don't Make Me Over. Para penonton—sebagian besar berusia dewasa dan setengah baya—langsung terpukau. Suara Warwick masih seperti bertahun-tahun lampau. Dia bisa meluncur dengan lincah dari nada tinggi ke rendah dan sebaliknya. Sebagian penonton bersenandung pelan mengikuti lirik lagu. "Saya dapet suami karena lagu ini," kata Tuti Sunaryo, 48 tahun. Bersama suaminya, Tuti datang ke konser itu untuk bernostalgia.

Lalu nostalgia apa yang bisa digali dari Dionne Warwick, penyanyi kelahiran East Orange, New Jersey? William Ruhlmann, dalam sebuah ulasannya di All Music Guide, menulis, "Lebih mudah melukiskan apa 'yang bukan Dionne Warwick' ketimbang sebaliknya." Warwick boleh dikatakan tidak pernah menjadi ikon dari aliran musik tertentu. Dia bukan Aretha Franklin "si penyanyi R & B". Dia bukan Sarah Vaughan atau Ella Fitzgerald—ikon penyanyi jazz wanita.

Mereka memang menyumbang Warwick dan "berada bersamanya" dalam masa pertumbuhannya. Tapi Warwick memilih jalannya sendiri. Dia menempa diri menjadi seorang penyanyi yang terus dirindukan setelah masanya lewat. Melahirkan puluhan album single dan kompilasi—sejak 1963 hingga 2003—Warwick mahir melantunkan lagu dalam aneka nada. Bittersweet, sensual, elegan, melankolis, stylish. Ditambah latihan dan disiplin diri yang amat keras, lima Grammy Award menjadi miliknya. Kolaborasinya bersama Barry Manilow pernah menghasilkan album yang amat berhasil, I'll Never Fall in Love Again. Lalu setiap dua-tiga tahun dia melakukan tur setelah menelurkan album baru—kendati tak semuanya bersinar.

Warwick kecil tumbuh sebagai penyanyi kelompok paduan suara Gereja New Hope di kampung halamannya di New Jersey sebelum ditemukan pencipta lagu Burt Bacharach dan Hal David. Keduanya memoles suara Warwick menjadi lebih ngepop. Sentuhan warna soul dan gospel tetap dipertahankan agar lagu-lagu yang dinyanyikan Warwick lebih berbobot dan bukan sekadar easy listening. Maka masuklah Warwick ke jajaran penyanyi pujaan tahun 1960-an yang disebut the swinging chicks bersama Connie Francis, Petula Clarks, dan Nancy Sinatra.

Pindah ke Brasil 14 tahun silam, Warwick ]tak pernah berhenti melakukan pengembaraannya sebagai penyanyi. Tak mengherankan bila kini, pada usia 62 tahun, Dionne Warwick masih mengitari atlas untuk mengisi panggung bagi setiap penonton yang merindukan suaranya.

Mardiyah Chamim


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
26/XXXVII/18 - 24 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Ketinggian Pohon Punya Batas - 21 Ags 2008 | 22:57 WIB
Polisi Jawa Barat Ingatkan Pelaku Pembajakan - 21 Ags 2008 | 22:56 WIB
Susyana Rebut Perunggu - 21 Ags 2008 | 22:43 WIB
Kontras Desak Semua Saksi Peradilan Muchdi Dihadirkan - 21 Ags 2008 | 21:43 WIB
Terlibat Pidana, 15 Polisi Terancam Dipecat - 21 Ags 2008 | 21:25 WIB
Kualitas Laporan Keuangan Daerah Makin Buruk - 21 Ags 2008 | 21:19 WIB
Rio Tinto Tunggu Persetujuan Pemda dan DPR - 21 Ags 2008 | 21:18 WIB
Partai Politik Segera Dapat Dana Bantuan Pemerintah - 21 Ags 2008 | 21:12 WIB
Polisi Cokok Dua Jaringan Narkoba Afrika - 21 Ags 2008 | 21:06 WIB
KPU Tak Punya Aturan Tentang Kepala Desa yang Jadi Calon Legislator - 21 Ags 2008 | 20:59 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data